‘Underrated’, SMS Diam-diam Masih Jadi Andalan

Meski angka penggunanya memang jauh dari yang memakai internet, survei menyebut ada efektivitas tertentu dari SMS. Simak detilnya.

Jakarta, CNN Indonesia

Short Message Service (SMS) terdeteksi masih jadi andalan buat berkomunikasi secara efektif di kalangan terbatas. Siapa yang masih pakai?

Berdasarkan data firma riset Populix pada Jumat (12/8/2022), warga Indonesia semakin bergantung pada koneksi internet untuk berkomunikasi sehari-hari. Meski begitu, SMS masih digunakan dengan porsi yang terbilang minoritas.

Rinciannya, penggunaan pulsa warga terbanyak (82 persen) adalah untuk kuota internet. Urutan berikutnya adalah panggilan telepon (12 persen), dan SMS (6 persen).

SMS pertama kali dikembangkan pada 1984 oleh dua insinyur Jerman: Friedhelm Hillebrand dan Bernard Ghilebaert. Saat itu, hanya ada beberapa media komunikasi, yakni panggilan telepon, telegram, atau pos udara.

Para insinyur, dikutip dari situs Telkom, mencoba menciptakan sistem yang memungkinkan transmisi pesan tertulis melalui jaringan telepon dengan menggunakan kapasitas ponsel yang tidak terpakai berdasarkan standar Global System for Mobile Communications (GSM).

Delapan tahun setelah pengembangan dimulai, tepatnya pada 1992, SMS pertama dikirim menggunakan komputer pribadi, menggunakan handset Orbitel 201 melalui jaringan VODAFONE GSM, seperti dikutip situs Telkom.

Pada 2014, bisnis pesan SMS global dilaporkan bernilai lebih dari US$100 miliar. Sekitar 50 persen dari semua pendapatan yang dihasilkan oleh pesan seluler.

SMS juga pernah menjadi metode komunikasi andalan di Indonesia saat era ponsel pintar dan lahirnya aplikasi pesan instan seperti Blackberry Messenger, WhatsApp, dan Line.

Kini, teknologi tersebut tergusur oleh aplikasi pesan instan berbasis internet, seperti WhatsApp dan Telegram. Penting tidaknya keberadaan SMS pun dipertanyakan.

Padahal, SMS masih jadi jalur komunikasi bisnis dan pemerintah untuk menjangkau pelanggan dan konstituen untuk pemasaran digital dan kegiatan informasi publik.

Contohnya, SMS juga digunakan oleh berbagai e-commerce, bank digital, dan akun media sosial untuk meningkatkan keamanan digital pengguna mereka dengan mengirim kata sandi satu kali (OTP).

Kenapa masih dipakai?

Berbagai riset mengungkap SMS lebih efektif daripada email.

  • 95 persen dari semua SMS buka dalam waktu 3 menit.
  • Tarif buka SMS hampir 5 kali lebih besar dari email.
  • Rasio Klik Tayang (Click Through Rates) pesan SMS adalah 19 persen, email sebesar 2 persen.
  • 98 persen pesan SMS dibaca, sementara email 20 persen.

Senada, Founder sekaligus CEO MuteSix Steve Weiss, dikutip dari Forbes, cuma butuh 90 detik untuk membalas sebuah pesan teks. Durasi ini berbanding cukup jauh dengan waktu yang dibutuhkan untuk membalas surel alias email yang menghabiskan rata-rata waktu 90 menit.

SMS juga terbukti efisien buat mengabaikan keranjang belanja, menjawab pertanyaan layanan pelanggan, mempromosikan peluncuran produk baru, serta penjualan musiman.

“SMS akan terus berkembang dan memiliki kekuatan untuk menjadi pengalaman yang dapat dibeli sepenuhnya,” ucap Weiss, “Pesan langsung, tepat waktu, dari orang ke orang.”

Jenis SMS Bisnis

Tapi bukankah dapat kiriman SMS secara acak bisa membuat orang kesal?

Telkom menyebut itu bisa terjadi jika kita menggunakannya hanya untuk spam pelanggan, alih-alih meningkatkan keterlibatan. “Anda dapat berisiko merusak citra merek Anda.”

Salah satu jenis layanan SMS untuk bisnis adalah Application to Person (A2P). Ini merupakan jenis SMS yang dikirim dari pelanggan ke aplikasi atau dikirim dari aplikasi ke pelanggan.

Hal ini umumnya digunakan oleh bisnis, seperti bank, untuk mengirim pesan SMS dari sistem mereka kepada pelanggan mereka.

“Penggunaan optimal dapat membantu memberikan sentuhan hangat untuk bisnis Anda, berbeda dengan citra ‘dingin’ yang kadang-kadang diberi label untuk startup/bisnis di era digital,” menurut Telkom.

Salah satu kegunaannya adalah mengirim One Time Password (OTP), menyiarkan pemberitahuan dan peringatan, mendistribusikan voting dan survey, pengingat untuk tanggal penting, dan alat digital marketing lainnya.

Sementara itu, perusahaan omnichannel digital media Indonesia Mobile Exchange (IMX) memecah layanan jadi dua jenis produk SMS populer.

Pertama, SMS profiling, yang merupakan pesan singkat yang dikirimkan berdasarkan karakteristik, preferensi, dan perilaku audiens.

Jenis ini dapat digunakan untuk memperoleh informasi yang berguna mengenai audiens agar pengiklan dapat menyampaikan pesan yang lebih relevan dan efektif.

“Dengan first dan third party data IMX dapat membuat modelling yang memudahkan pengiklan mengklasifikasikan audiens sesuai dengan target pasar brand/produk. Segmentasi dalam penggunaan SMS profiling dapat berupa segmentasi demografis, psikografis, perilaku,” kata perusahaan yang merupakan joint venture company antara Smaato dan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) itu.

Kedua, SMS Location-Based Advertising (SMS LBA). Jenis ini merujuk pada strategi pemasaran iklan dan promosi yang dikirimkan melalui pesan SMS ke pelanggan yang berada di lokasi geografis tertentu, misalnya mall, atau wilayah tertentu dengan radius minimal 1 Km.

Contoh, jika seseorang berada masuk toko atau restoran, mereka menerima pesan yang menginformasikan tentang penawaran spesial atau diskon yang berlaku di lokasi tersebut.

“Hal ini dapat membuat pengiklan dapat mengarahkan audiens dari online to offline store (O2O) sehingga pengiklan dapat melakukan retargeting kepada audiens yang tertarik pada iklan tersebut,” demikian keterangan perusahaan.

SMS LBA memanfaatkan teknologi pelacakan lokasi pada perangkat seluler, dengan memanfaatkan lokasi pengguna melalui BTS Mobile Tower (Based Transciever Station).

“Kedua hal diatas menciptakan sistem Lookalike yang menjadi teknik pemasaran yang digunakan untuk menemukan dan menargetkan audiens baru yang memiliki kesamaan yang mengacu pada proses analisis data pelanggan yang ada.”

(tim/arh)





Sumber: www.cnnindonesia.com