Twitter Cetak Uang Jika Bertanya soal Trump Dipatok Tarif

Miliarder Elon Musk menyebut Twitter bisa jadi mesin uang jika terus pertanyaan soal akun Donald Trump dipatok tarif tertentu.

Jakarta, CNN Indonesia

Saking banyaknya pertanyaan kepadanya soal pengembalian akun Twitter mantan Presiden AS Donald Trump, miliarder kelahiran Afrika Selatan Elon Musk bercanda platform miliknya bisa jadi mesin uang apabila memasang tarif.

Hal itu disampaikan usai tiga hari ia mengakuisisi saham dominan Twitter senilai US$44 miliar atau senilai Rp685,7 triliun.

“Jika saya memungut satu dolar untuk setiap kali orang bertanya kepada saya apakah Trump akan kembali ke platform ini, Twitter akan mencetak uang!” kata Musk lewat kicauanya, Senin (31/10) malam.

Sebelum resmi menjadi pemilik Twitter, Musk memang mengaku berencana mengaktifkan lagi akun Trump, politikus penebar hoaks dan provokasi yang memicu kerusuhan massa di Pilpres AS 2020.

“Saya pikir tidak tepat untuk menyanksi Donald Trump. Saya kira itu sebuah kesalahan,” kata Musk seperti dikutip CNN, 10 Mei 2022.

Perjalanan CEO SpaceX mengakuisisi Twitter sempat melewati jalan panjang. Gugatan ke Pengadilan Negeri Delaware, AS, ditempuh Twitter karena miliarder asal Afrika Selatan itu sempat berusaha membatalkan akuisisi.

Musk sejak lama menggaungkan pencabutan moderasi konten alias sensor di Twitter dan ingin menjadikannya platform yang memihak kebebasan berpendapat (free speech).

“Saya akan membatalkan sanksi permanennya. Memblokir Trump dari Twitter tidak mengakhiri suara Trump, itu justru akan memperkuatnya di antara kaum kanan dan inilah kenapa itu salah secara moral dan benar-benar bodoh,” kata Musk.

Jauh sebelum itu, Twitter telah menghapus akun Trump secara permanen setelah pendukungnya menggeruduk U.S Capitol (Gedung DPR-nya Amerika) pada 6 Januari 2021.

Twitter pun menyatakan Trump melanggar peraturan soal hasutan kekerasan sehingga harus disanksi “untuk menghindari hasutan kekerasan lebih lanjut”.

Tindakan Twitter itu kemudian diikuti oleh media sosial lain seperti Facebook dan Youtube.

Hingga kini belum pihak Musk belum memberikan kepastian ihwal pencabutan akun-akun yang pernah di-ban, termasuk Trump.

Kendati begitu dalam surat terbukanya di Twitter berjudul ‘Dear Twitter Advertisers’, Musk mengaku ingin menjadikan Twitter platform yang terbuka untuk semua. Menurutnya, orang-orang harus bisa dapat memilih apa yang diinginkan menurut pilihan sendiri.

Trump sendiri belum berpikir kembali ke Twitter meski senang dengan akuisisi Elon Musk.

“Saya sangat senang Twitter sekarang berada di tangan orang yang waras, dan tidak akan lagi dijalankan oleh Radikal Kiri Gila dan Maniak yang benar-benar membenci negara kita,” cetus Trump, di medsosnya, dikutip dari Reuters, Jumat (28/10).

“Saya suka Elon, tapi saya tetap di Truth,” kata dia dalam wawancara dengan Fox News.

Ketika membuat unggahan di Truth, Trump mengklaim “itu terus menyebar ke mana-mana”. “Semua orang yang ada di Twitter dan di semua tempat lain, mereka semua tetap menerbitkannya,” lanjut dia.

Jutawan yang tengah diselidiki FBI dalam kasus pencurian dokumen rahasia ini juga mengklaim medsosnya itu “tampak dan berjalan lebih baik”. “I LOVE TRUTH!” imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]

(can/lth)



[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com