Tanpa Kulit Kepala, Ilmuwan Tumbuhkan Rambut di Laboratorium

Ilmuwan berhasil menumbuhkan rambut tanpa harus lewat kulit kepala. Ujicoba ini sukses dilakukan terhadap tikus.

Jakarta, CNN Indonesia

Sejumlah ilmuwan baru-baru ini berhasil menciptakan rambut di laboratorium tanpa menambatkannya pada bagian tubuh.

Melansir Live Science, para peneliti untuk pertama kalinya menggunakan sel yang diperoleh dari embrio tikus dan menghasilkan organoid folikel rambut, atau versi kecil dari organ yang menumbuhkan rambut. Selain itu, mereka mampu mempengaruhi pigmentasi rambut tersebut.

Ketika folikel ditransplantasikan ke tikus hidup yang tidak berbulu, folikel ini bahkan dapat terus berfungsi di berbagai siklus pertumbuhan rambut.

Tim peneliti menyebut studi yang mereka lakukan dapat membantu upaya untuk mengobati kerontokan rambut, serta memberikan model alternatif untuk pengujian hewan dan skrining obat.

Studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances ini menyebut folikel rambut terbentuk selama perkembangan embrio. Lapisan kulit luar, atau epidermis, dan lapisan jaringan ikat di sebelahnya yang bernama mesenkim saling berinteraksi untuk memicu proses morfogenesis di mana sel-sel mulai berkumpul untuk membentuk organ.

Meski demikian, interaksi epidermal-mesenchymal yang menghasilkan folikel tidak dipahami dengan baik oleh para peneliti.

Dalam penelitian di laboratorium, para ilmuwan telah berhasil menumbuhkan organoid kulit mengandung folikel di tikus dan manusia, tetapi folikel yang berhasil tumbuh dalam lingkungan terisolasi ini terbukti sulit dipahami.

Akan tetapi, ilmu organoid sendiri telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Alhasil, tim ilmuwan yang dipimpin oleh insinyur biomedis Tatsuto Kageyama dari Universitas Nasional Yokohama di Jepang memutuskan untuk melakukan penelitian ini.

Mereka memulai dengan dua jenis sel yang diambil dari embrio tikus: epitel (kulit); dan mesenkim.

Beberapa dari kelompok sel ini dikembangkan dengan zat yang disebut Matrigel, preparasi membran turunan tikus yang membantu sel membentuk struktur. Beberapa kelompok sel lain juga coba dibiakkan tanpa Matrigel.

Perbedaan itu menunjukkan hasil yang mencolok. Kedua jenis sel berkumpul, kemudian secara spontan terpisah dalam agregat, membentuk struktur yang terorganisir.

Tanpa Matrigel, atau ketika Matrigel ditambahkan kemudian, struktur ini berbentuk halter, dan gagal berkembang menjadi folikel fungsional.

Namun, ketika Matrigel ditambahkan dalam waktu enam jam setelah pembibitan dengan sel, struktur yang terbentuk terdiri dari inti sel epitel yang dikelilingi oleh cangkang sel mesenkim.

Para peneliti menyebut pengaturan ini meningkatkan area kontak antara dua jenis sel, sehingga memfasilitasi perkembangan gumpalan menjadi folikel.

Dengan demikian, metode ini membuat gumpalan cangkang inti berkembang menjadi organoid folikel penghasil rambut yang matang dengan tingkat keberhasilan hampir 100 persen, menumbuhkan 2 milimeter rambut setelah 23 hari.

Bisakah hal ini dipraktekkan kepada manusia? Sayangnya, hal itu belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.

Para ahli baru akan mengagendakan ujicoba terhadap manusia. Tak seperti kepada tikus, tim ahli tidak akan menggunakan sel dari embrio pada ujicoba terhadap manusia. 

Mereka akan menggunakan sel yang didonasikan oleh orang dewasa dan membalikannya ke dalam sel induk. Para ahli berharap bisa menumbuhkan epithelial dan mesenkim yang dibutuhkan.

[Gambas:Video CNN]

(lth)






Sumber: www.cnnindonesia.com