Studi Ungkap Efek Samping Krisis Iklim: Pasangan Ogah Punya Anak

Penelitian mengungkap perubahan iklim membuat orang membatasi jumlah anak hingga ogah punya bocah. Apa kaitannya?


Jakarta, CNN Indonesia

Tidak hanya berdampak pada perubahan drastis lingkungan Bumi, perubahan iklim juga bisa memicu manusia tidak lagi mau punya anak.

Lebih dari satu dekade yang lalu Emma Smart dan suaminya, Andy, pertama kali memutuskan mereka tidak akan memiliki anak. Saat itu, teman-teman dan keluarganya tidak mengerti.

“Ketika mereka menanyakan alasannya dan Anda menjawab karena alasan lingkungan, hal itu sama sekali tidak pernah terdengar. Aku ingat, kakak iparku tertawa saat aku mengatakan itu.” cerita Emma.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satu dekade lalu, alasan Emma ogah punya anak karena masalah lingkungan mungkin terlihat nyeleneh. Namun, belakangan alasan ini umum sekali ditemukan oleh sejumlah pasangan.

Penelitian baru menemukan banyak orang kini mendasarkan keputusan mereka untuk tidak memiliki anak karena ketakutan mereka terhadap kerusakan iklim.

Penelitian yang dilakukan oleh tim akademisi di University College London ini diyakini merupakan tinjauan sistematis pertama yang mengeksplorasi bagaimana dan mengapa kekhawatiran terkait iklim dapat memengaruhi pengambilan keputusan terkait reproduksi.

Analisis mereka menemukan bahwa 12 dari 13 riset mengungkap kekhawatiran yang lebih kuat terhadap kerusakan iklim terkait keinginan untuk memiliki lebih sedikit anak atau bahkan tidak sama sekali.

Emma Smart mengatakan alasan keputusannya ada dua. “Pertama, tanggung jawab moral adalah membawa seorang anak ke dunia di mana mereka mungkin tidak memiliki masa depan yang menyenangkan, bahkan layak untuk ditinggali,” katanya, mengutip The Guardian.

“Tetapi ada dilema moral sekunder mengenai jenis emisi yang menyebabkan memiliki anak. Itu terdengar dingin dan lebih seperti data daripada emosi, tapi itu adalah faktor besar bagi kami.” tambahnya.

Ketidakpastian mengenai masa depan dan kekhawatiran mengenai dampak ekologis dari pertumbuhan populasi manusia merupakan faktor kunci yang juga diidentifikasi oleh penelitian, menurut Hope Dillarstone, penulis utama studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Climate.

Dillarstone dan rekan-rekannya menemukan bahwa kekhawatiran seperti yang diungkapkan oleh Smart bukanlah hal yang aneh.

Namun kekhawatiran juga berbeda di berbagai belahan dunia, kata Dillarstone. “Ada kekhawatiran yang hanya muncul di Zambia dan Ethiopia, yaitu mengenai kemampuan sebuah keluarga untuk bertahan hidup dan memperoleh sumber daya,” katanya.

“Jadi masyarakat khawatir, jika mereka mempunyai terlalu banyak anak, maka hal tersebut akan mengurangi peluang anak-anak untuk bertahan hidup, pada akhirnya, karena mereka akan memiliki terlalu banyak mulut untuk diberi makan.” jelasnya.

Penelitian Dillarstone juga menemukan alasan politik orang memilih untuk tidak memiliki anak, temuan lain yang selaras dengan perasaan Emma.

Selama dekade terakhir, Emma telah beralih dari bekerja di bidang konservasi satwa liar menjadi aktivis lingkungan hidup penuh waktu, sebuah panggilan yang membutuhkan pengorbanan yang tidak sesuai dengan tanggung jawab memiliki anak untuk diasuh.

“Kami senang menjadi bibi dan paman dan juga bisa aktif berjuang, mengambil risiko, dan berkorban,” kata Smart. “Entah itu [ditangkap] atau dipenjara, atau mengorbankan waktu kita, untuk memastikan bahwa keponakan kita memiliki masa depan yang lebih baik.”

Dillarstone mengatakan dia berharap pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana masyarakat membuat pilihan reproduksi dalam pengetahuan tentang krisis iklim akan membantu membentuk kebijakan publik.

Namun, dia mengakui temuannya juga menunjukkan alasan yang diberikan orang-orang sangatlah kompleks, dan tidak dapat digeneralisasikan di seluruh dunia.

[Gambas:Video CNN]

(rfi/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com