Spek Iron Sting Israel, Senjata Baru yang Diduga Diuji Coba di Gaza

Israel diduga menjadikan genosida di Gaza sebagai lahan uji coba senjatanya, termasyk rudal mortir bernama Iron Sting.

Jakarta, CNN Indonesia

Israel diduga menguji coba rudal mortir bernama Iron Sting dalam perang Gaza berdasarkan sejumlah rilis sebelum pertempuran dan deret korban.

Produsen bom yang berbasis di Haifa, Elbit Systems, diketahui sudah mengiklankan kualitas Iron Sting tersebut di situs webnya sejak Maret 2021.

Benny Gantz, yang pada 2021 menjabat sebagai menteri pertahanan Israel dan sekarang menjadi bagian dari kabinet perang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menggambarkan Iron Sting sebagai senjata untuk menyerang target secara tepat.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketepatan itu, katanya, berlaku baik di medan terbuka maupun di kawasan perkotaan, sekaligus mengurangi kemungkinan kerusakan tambahan dan mencegah cedera pada non-kombatan.

Dikutip dari Al Jazeera, pada 22 Oktober, tentara Israel merilis rekaman saat unit komando Maglan mengerahkan bom mortir 120 mm Iron Sting yang dipandu dengan presisi tinggi untuk melawan Hamas di Gaza.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Iron Sting untuk pertama kalinya dalam sebuah operasi militer. Unit elite Maglan IDF menggunakan teknologi inovatif ini untuk menargetkan peluncur roket Hamas di Jalur Gaza.

Hasil kolaborasi

Iron Sting sendiri lahir dari kolaborasi antara militer Israel dan perusahaan Elbit Systems.

Dikutip dari WION, Iron Sting menonjol sebagai rudal mortir yang dipandu laser presisi dan GPS. Amunisi utamanya adalah peluru mortir 120mm dengan akurasi sangat tinggi.

Sistem rudal ini dirancang untuk menargetkan berbagai jarak, dengan jangkauan yang sempurna mulai dari 1 hingga 12 kilometer, tergantung pada rudal yang digunakan.

Fitur yang paling kuat adalah Iron Sting cocok untuk digunakan di lingkungan perkotaan dan medan terbuka, menjadikannya solusi serbaguna.

Fitur lainnya adalah kemampuan untuk menembus beton berlapis ganda, menjadikannya kekuatan yang tangguh dalam perang perkotaan.

Kemampuan tersebut memberi pasukan Israel keuntungan yang signifikan dalam operasi yang menuntut ketepatan dan kerusakan tambahan yang minimal.

Diduga diuji coba

Perang Israel-Hamas kali ini telah berlangsung lebih dari sebulan dengan ribuan korban yang berjatuhan di Gaza. Belum ada tanda-tanda perang berakhir meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata kedua pihak.

Pihak Gaza menduga ada penggunaan persenjataan baru dalam perang kali ini berdasarkan luka para korban.

Pada pekan lalu, juru bicara Kementerian Kesehatan di Gaza Ashraf al-Qudra mengatakan dalam sebuah pernyataan pers bahwa tim medis di Gaza mengamati luka bakar parah pada tubuh warga Palestina yang terbunuh dan terluka akibat bom Israel.

Luka bakar parah ini disebut belum pernah mereka saksikan pada konflik-konflik sebelumnya.

Dr Ahmed el-Mokhallalati dari divisi luka bakar dan bedah plastik di Rumah Sakit al-Shifa, dalam sebuah wawancara dengan Toronto Star, menggambarkan luka-luka tersebut sebagai “luka bakar yang sangat dalam – luka bakar tingkat tiga dan empat, dan jaringan kulit dipenuhi dengan partikel-partikel hitam dan sebagian besar ketebalan kulit serta semua lapisan di bawahnya terbakar hingga ke tulang.”

El-Mokhallalati mengatakan ini bukanlah luka bakar fosfor, “tetapi kombinasi dari semacam bom pembakar dan komponen lainnya.”

Sejauh ini, militer Israel belum memberikan komentar kepada Al Jazeera atas pernyataan yang dibuat oleh Kementerian Gaza.

[Gambas:Video CNN]

(lom/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com