Siti Nurbaya Ungkap Upaya Konkret Indonesia Atasi Perubahan Iklim

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar resmi membuka Paviliun Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) COP28 yang digelar di Dubai, Uni Emirat Arab.

Dubai, CNN Indonesia

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan langkah Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim selama hampir satu dekade sudah konkret.

“Kita tidak lagi seperti negara lain yang cuma bilang komitmen, cuma bilang ambisi,” ujarnya di Paviliun Indonesia dalam perhelatan COP28 Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (29/11).

Siti mengatakan kebanyakan negara menjaga penurunan emisi gas rumah kaca paling sedikit 43 persen, sedangkan Indonesia telah berhasil menurunkan emisi sebanyak 52 persen tahun 2020.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angka ini bergerak fluktuatif di atas 43 persen pada 2021 dan tercatat sebanyak 42 persen pada 2022.

Untuk sektor kehutanan misalnya, ada penurunan emisi dari kebakaran hutan dan lahan. Tahun 2015 saat kebakaran hebat, emisinya 2,3 gigaton dari yang seharusnya hanya 1,6 gigaton. Dan saat itu gambut yang terbakar mencapai 34 persen.

Tahun 2022, area terbakar 140 ribu hektar dan gambutnya 16 persen. Untuk 2023, ia memprediksi di atas 1 juta hektar, tapi itu pun bisa dilakukan karena penanganannya yang responsif.

“Jadi ada yang kebakar, kita matiin, terus begitu. Bukan seperti yang sebelumnya. Sekarang yang kebakaran 225 ribu dari sekitar 1 juta adalah savana, padang rumput taman nasional, yang setelah terbakar, bisa hijau lagi dua-tiga hari kemudian,” ujar Siti.

Ada beberapa langkah yang dilakukan KLHK hingga terjadi penurunan drastis kebakaran hutan, bahkan di saat terjadi el nino tahun ini.

Pertama, monitoring cuaca dan hotspot, curah hujan, kualitas udara.

“Ini semua ada kaitannya. Kita pertama kali melengkapi alat untuk kualitas udara pada 2016. Sekarang sudah ada 65 unit di seluruh Indonesia. Kita bisa lihat, begitu kualitas udara buruk, kita cek apakah ada hotspot, meski itu belum tentu firespot. Yang harus diwaspadai adalah hotspot yang 80 persen akan menjadi firespot,” terangnya.

Kedua, pengendalian operasional dengan monitoring operasional dengan mengerahkan tokoh masyarakat, warga, aparat, kelompok peduli lingkungan, hingga penegakan hukum.

“Yang sudah kita tegur ada lebih dari 300 perusahaan, yang disegel ada sekitar 60 perusahaan,” kata Siti.

Ketiga, pengendalian landscape, termasuk gambut, yang saat ini punya persoalan tersendiri.

“Yang paling banyak akhir-akhir ini, yg terbakar di lahan masyarakat, karena tradisi bakar hutan di akhir musim panas dan hujan. Untuk ini kita koordinasi ke pemda, dikasih alat untuk mengolah tanah tanpa membakar hutan yang bisa dipakai bersama-sama. Meski belum maksimal, kita masih koordinasi dengan lintas kementerian,” jelas Siti.

(stu/stu)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com