Sempat Gagal, Roket Terbesar di Bumi Starship Terbang Besok

Starship, kendaraan antariksa yang akan dipakai misi Artemis NASA ke Bulan, bakal melakukan uji terbang kedua besok, setelah sebelumnya gagal.

Jakarta, CNN Indonesia

Badan Penerbangan Federal AS (FAA) memberikan izin buat peluncuran Starship, pesawat antariksa milik SpaceX yang akan dipakai di misi Artemis NASA ke Bulan, yang kedua kalinya.

“FAA telah memberikan autorisasi lisensi untuk peluncuran kedua kendaraan SpaceX Starship Super Heavy. FAA menetapkan SpaceX memenuhi semua persyaratan keselamatan, lingkungan, kebijakan, dan tanggung jawab keuangan,” demikian dikutip dari Space.

Starship dijadwalkan akan terbang dari Starbase, fasilitas SpaceX di Texas, AS, pada dua jam jendela peluncuran Jumat (17/11) yang dibuka mulai pukul 08.00 EST (20.00 WIB).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pesawat antariksa ini terdiri dari pendorong (booster) tahap pertama yang disebut Super Heavy dan pesawat ruang angkasa tingkat atas yang dikenal sebagai Starship. Kedua elemen ini dirancang agar dapat digunakan kembali secara penuh dan cepat.

Jika digabungkan, dua elemen Starship ini akan memiliki tinggi hampir 400 kaki (122 meter). Ini merupakan roket terbesar dan terkuat yang pernah dibuat di Bumi.

SpaceX menargetkan kendaraan tersebut akan dipakai untuk membantu membuat permukiman di Mars, yang merupakan impian lama pendiri dan CEO SpaceX Elon Musk.

Tujuan uji terbang ini akan serupa dengan misi bulan April. Yakni, tak mengorbit penuh terhadap Bumi.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, Super Heavy akan mendarat di Teluk Meksiko tidak lama setelah peluncuran, dan tahap atas Starship akan hampir mencapai kecepatan orbit sebelum jatuh di dekat Hawaii.

Penerbangannya diprakirakan akan berkecepatan mendekati orbital, yaitu 17.500 meter per jam (28.160 km per jam) pada ketinggian 250 kilometer dari permukaan Bumi.

Riwayat gagal

Starship sempat melakukan sekali penerbangan dari Starbase pada 20 April. Saat itu, misinya mengirim tahap atas Starship mengelilingi sebagian Bumi untuk kemudian mendarat di Samudra Pasifik dekat Hawaii.

Namun, Starship ketika itu mengalami beberapa masalah tak lama setelah lepas landas. Termasuk, kegagalan pemisahan kedua tahap pesawatnya. Armada tersebut kemudian sengaja dihancurkan jauh di atas Teluk Meksiko.

Masalah lainnya adalah kerusakan pada Starbase usai lepas landas. Sebuah kawah tampak terbentuk di bawah tempat peluncuran orbital fasilitas tersebut. Bongkahan beton dan puing-puing lainnya juga menghujani daerah sekitar pangkalan antariksa itu.

Untuk mencegah kerusakan seperti itu terjadi lagi, SpaceX memasang sistem air bah (water-deluge system) di bawah dudukan peluncuran orbital.

Bentuknya, sebuah pelat baja bertulang yang semprotannya dirancang untuk melawan panas yang hebat dan tenaga 33 mesin Raptor Super Heavy.

FAA menyelesaikan penyelidikannya atas kecelakaan peluncuran 20 April pada awal September.

Pada 31 Oktober, badan tersebut mengumumkan sudah menyelesaikan tinjauan keselamatan menjelang penerbangan Starship kedua, menilai risiko apa pun yang mungkin ditimbulkan oleh peluncuran tersebut terhadap kesehatan masyarakat dan properti.

“FAA terus berupaya melakukan tinjauan lingkungan. Sebagai bagian dari tinjauan lingkungannya, FAA berkonsultasi dengan Dinas Perikanan dan Margasatwa AS (USFWS) mengenai pembaruan Penilaian Biologis berdasarkan Undang-Undang Spesies Terancam Punah.”

“FAA dan USFWS harus menyelesaikan konsultasi ini sebelum bagian tinjauan lingkungan dari evaluasi izin diselesaikan,” lanjut FAA.

Tinjauan lingkungan tersebut tampaknya berpusat pada dampak yang mungkin timbul dari sistem banjir air baru terhadap wilayah sekitar Starbase, yang merupakan pusat keanekaragaman hayati.

“Lisensi baru yang diberikan adalah untuk satu kali peluncuran,” tandas pejabat FAA.

(rfi/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com