Sekadar Bernapas, Manusia Sudah Bikin Bumi Makin Panas

Kenapa udara, yang dibutuhkan oleh semua manusia buat hidup, tidak kelihatan? Berikut penjelasan pakar.


Jakarta, CNN Indonesia

Sebuah studi terbaru dari peneliti di Inggris mengklaim aktivitas bernapas yang dilakukan manusia meningkatkan pemanasan global.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal PLOS One, para ahli menjelaskan bahwa metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) di udara yang kita hembuskan menyumbang 0,1 persen emisi gas rumah kaca di Inggris.

Jika memperhitungkan kentut dan sendawa yang dihasilkan oleh manusia, kata para ilmuwan, maka manusia memicu pemanasan global hanya dengan menghembuskan udara dari paru-paru.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi terbaru ini dipimpin oleh Nicholas Cowan dari Pusat Ekologi dan Hidrologi Inggris di Edinburgh. Dalam makalahnya, ia mengatakan bukti-bukti tentang pernapasan yang membunuh planet sudah cukup jelas dan tidak boleh diabaikan.

“Kami akan mendorong kehati-hatian dalam asumsi bahwa emisi dari manusia dapat diabaikan,” katanya, dikutip dari NDTV.

Tim peneliti menjelaskan ketika manusia menarik napas, udara masuk ke dalam paru-paru dan oksigen dari udara tersebut berpindah ke darah, sementara karbon dioksida (CO2), gas buangan, berpindah dari darah ke paru-paru dan dihembuskan keluar.

Setiap orang menghembuskan CO2 ketika mereka menghembuskan napas, tetapi dalam studi baru ini, para peneliti berfokus pada metana dan dinitrogen oksida.

Mereka menjelaskan keduanya merupakan gas rumah kaca yang kuat, tetapi karena dihembuskan dalam jumlah yang jauh lebih kecil, kontribusinya terhadap pemanasan global mungkin diabaikan.

“Kami hanya melaporkan emisi dari napas dalam penelitian ini, dan emisi kentut kemungkinan akan meningkatkan nilai ini secara signifikan, meskipun tidak ada literatur yang menjelaskan emisi ini untuk orang-orang di Inggris,” tulis tim peneliti dalam penelitian tersebut.

“Dengan asumsi bahwa ternak dan hewan liar lainnya juga menghembuskan emisi N2O, mungkin masih ada sumber emisi N2O yang kecil namun signifikan yang tidak terhitung di Inggris, yang dapat mencapai lebih dari 1 persen dari emisi skala nasional,” tambah mereka.

Untuk penelitian ini, para peneliti menyelidiki emisi metana dan dinitrogen oksida dalam napas manusia dari 104 sukarelawan dewasa di Inggris.

Setelah menganalisis, mereka menemukan dinitrogen oksida dipancarkan oleh setiap peserta, tetapi metana ditemukan dalam napas hanya 31 persen peserta. Tim peneliti mengatakan mereka yang tidak menghembuskan metana dalam napas mereka masih cenderung melepaskan gas ion flatus, yang berarti kentut atau bersendawa.

Konsentrasi kedua gas tersebut dalam keseluruhan sampel memungkinkan para peneliti untuk memperkirakan proporsi emisi Inggris dari napas manusia, yakni 0,05 persen untuk metana dan 0,1 persen untuk dinitrogen oksida.

Lebih lanjut, para peneliti tidak berhasil menemukan hubungan antara gas dalam napas dan pola makan.

“Peningkatan konsentrasi CH4 dan N2O dalam napas para vegetarian dan pemakan daging memiliki besaran yang sama.”

“Berdasarkan hasil ini, kami dapat menyatakan bahwa, ketika memperkirakan emisi dari populasi di Inggris, perubahan pola makan atau pola makan di masa depan sepertinya tidak penting ketika memperkirakan emisi di seluruh Inggris secara keseluruhan,” lanjut studi tersebut.




Rekor-rekor ‘Neraka Bocor’ di 2023 (Foto: CNNIndonesia/Asfahan)

(lom/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com