Rektor ITB Saat Peringatan Seabad Bosscha: Astronomi Tuh Susah Banget

Rektor ITB, Reini Wirahadikusumah menyebut astronomi merupakan ilmu yang cukup sulit.

Jakarta, CNN Indonesia

Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Reini Wirahadikusumah menyebut ilmu astronomi atau ilmu yang mengamati benda-benda langit merupakan cabang keilmuan yang sulit.

Hal itu disampaikan Reini dalam acara peringatan 100 tahun didirikannya observatorium riset, Bosscha di Lembang, Jawa Barat.

“Astronomi ini terkadang ilmu yang dianggap susah banget. Matematika aja kadang kita kesulitan, astronomi lebih di atas lagi,” kata dia, Senin (30/1).

Kendati demikian Reini menilai sebenarnya cabang keilmuan astronomi terbilang universal sehingga membantu banyak orang, di antaranya untuk pemantauan hilal hingga pergantian musim.

Di Indonesia hanya ada satu kampus yang memiliki Program Studi Astronomi, yaitu di ITB. Kampus yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat itu menyediakan semua jenjang mulai dari S1 hingga S3.

Reini sendiri merupakan lulusan Sarjana Program Studi Teknik Sipil di ITB. Ia kemudian mendapatkan gelar Master of Science in Civil engineering dari Peruede University, Amerika Serikat pada 1996. Pada 1999, Reini mendapatkan gelar Ph.D. in Civil Engineering (Doktor – S3) dari universitas yang sama.

Selain itu, ilmu bidang astronomi juga dinilai Reini telah menginspirasi banyak anak bangsa hingga tokoh-tokoh nasional, di antaranya hingga ke level menteri.

Lebih lanjut Reini menyatakan rasa bangga kepada pendiri Observatorium Bosscha yang telah memiliki pemikiran untuk membuat pusat riset astronomi di pada abad 20.

Ia menjelaskan, kala itu, bukan hal yang tidak mungkin Bosscha menjadi beban para rektor ITB untuk terus menjalankannya.

“Tidak mudah menerima fasilitas yang saat itu pasti canggih. Kalau saat itu saya menjadi rektor pasti berpikir keras untuk melanjutkan. tapi para pendahulu kita mampu menjalankan,” tuturnya.

Observatorium Bosscha merupakan observatorium astronomi tertua di Indonesia yang berdiri di 1,8 hektare Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Reini menilai sang pendiri observatorium yaitu K.A.R. Bosscha, di lokasi tersebut merupakan pemikiran yang visioner. Tak jauh dari kampus ITB yang menjadi lokasi untuk membina Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang astronomi.

ITB merayakan peringatan 1 abad didirikannya Observatorium Bosscha pada Senin (30/1). Kawasan pemantau langit itu diklaim sebagai yang tertua di Indonesia dan telah berkontribusi pada bidang astronomi dan sains Indonesia dan dunia.

Pengurus observatorium Bosscha, Yatny Yulianty mengatakan Bosscha merupakan observatorium yang berlokasi dekat dengan ekuator, sehingga menguntungkan dalam pemantauan langit yang dicakup.

“Posisi Observatorium Bosscha yang dekat ekuator ke arah Selatan amat menguntungkan dalam area langit astronomis yang dapat dicakup,” ujarnya, Senin (30/1).

Mengutip situs resmi Bosscha, observatorium ini didirikan atas inisiatif Karel Albert Rudolf (K.A.R) Bosscha. Ia dibantu oleh kemenakannya, R.A Kerkhoven dan astronom Hindia Belanda, Joan George Erardus Gijbertus Voute. 

Arsitek Bosscha adalah Wolff Schoemaker. Sementara pondasi bangunannya dibangun oleh De Hollandsche Beton Maatschappij.

Bosscha sendiri diresmikan pada 1 Januari 1923. 

[Gambas:Video CNN]

(can/lth)






Sumber: www.cnnindonesia.com