Rebus Elang Tanpa Kepala untuk Dewa

Orang-orang Blemmyes yang menempati daerah Berenike di Mesir Kuno memilik ritual merebus elang tanpa kepala untuk dewa-dewa mereka.

Jakarta, CNN Indonesia

Sebanyak tulang-belulang 15 elang tanpa kepala ditemukan di Kuil Elang yang terletak di Berenike, sebuah pelabuhan kuno di Mesir yang terletak di laut Merah. Mengapa kepala elang-elang tersebut dipotong?

Elang-elang tersebut diduga dipersembahkan sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Bulan, Khonsu yang dilakukan oleh kelompok misterius bernama Blemmyes. Sebuah prasasti yang ditemukan di lokasi yang sama menjadi petunjuk terkait hal tersebut.

Dalam prasasti tersebut termuat gambar raja Mesir yang membuat persembahan untuk tiga dewa yakni Harpocrates (anak Dewa Horus); Dewa Berkepala Elang, Khonsu yang menjadi Dewa utama di Kuil ini; dan Dewi yang memakai mahkota, Hathor.

Di bawah bagian prasasti tertulis “tidak patut untuk merebus kepala di sini”. Dari prasasti tersebut, para arkeolog menduga, orang-orang Blemmyes dilarang merebus kepala elang di Kuil itu.

“Ini merupakan larangan yang mengingatkan pembacanya untuk tidak terlibat dalam aktivitas yang dipandang profan (mengotori kesucian, red): merebus atau memasak kepala milik elang-elang itu di Kuil tersebut,” tulis para arkeolog seperti dilansir Science Alert.

“Kami berhipotesis bahwa binatang-binatang tumbal ini direbus dahulu sebelum dipersembahkan kepada para dewa, mungkin untuk mempermudah mencopot bulunya dan kepalanya dipotong, menurut prasasti tersebut,” tulis para arkeolog lagi.

Kuil Elang sendiri ditemukan pada 2019 lalu oleh arkeolog asal Spanyol, Joan Oller Guzman yang memimpin ekspedisi. Kuil ini memiliki dua ruangan persegi kecil dilengkapi pintu bergaya kuil Mesir pada umumnya pada titik tengahnya.

Pada ruangan belakang, para arkeolg menemukan sebuah podium yang biasa digunakan untuk meletakan patung dewa. Selain itu, mereka juga menemukan sebuah tiang yang rusak, yang digunakan untuk meletakkan persembahan.

Namun yang paling mengejutkan, para arkeolog menemukan 735 tulang-belulang binatang mulai dari mamalia, ikan, hingga burung. Sebanyak 16,5 persen di antaranya merupakan tulang mamalia seperti kambing, domba, keledai, dan anak sapi.

Sementara, tulang ikan hanya mencakup 5,7 persen. Sebaliknya, tulang-belulang burung menjadi yang paling banyak ditemukan yakni 64,2 persen.

Rincianya, ada 15 burung dengan 13 di antaranya tanpa kepala. Sebanyak 14 tulang-belulang burung itu ditemukan di bagian pijakan.

Tulang-belulang itu berasal dari tiga spesies yakni elang peregrine (Peregrine Falcon), elang saker (Saker Falcon), dan elang kestrel (Common Kestrel).

“Pemotongan elang sepertinya semacam gestur kelompok ini dalam membuat persembahan untuk dewa di kuil tersebut, kata David Frankfurter, profesor agama dari Bston University yang tak terlibat dalam studi ini, seperti dilansir Live Science.

“Pengorbanan hewan hidup biasanya melibatkan semacam pembunuhan atau pemotongan untuk menunjukkan komitmen dari si pemujanya,” ujar Frankfurter menambahkan.

Menurut Frankfurter, praktek relijius seperti ini tetap bertahan meski agama Kristen datang dan meningkat di Mesir. Pasalnya, ketika kuil ini masih digunakan, agama Kristen telah menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.

“Kuil Elang Berenike yang masih berfungsi sebagai pusat keagamaan di akhir Abad ke-4 atau setelahnya, menunjukkan sekali lagi, agama tradisional Mesir tidak hilang saat Kristen datang dan meningkat di sana,” katanya.

[Gambas:Video CNN]

(lom/lth)



[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com