‘Ramalan’ Bank BTPN Soal Kapan Indonesia Benar-benar Melek Digital

Indonesia saat ini dianggap belum sepenuhnya siap menghadapi digitalisasi perbankan secara utuh. Lalu, kapan digitalisasi perbankan di Indonesia terlaksana?

Jakarta, CNN Indonesia

PT Bank BTPN Tbk meramalkan kapan pasar perbankan Indonesia bisa melek digital secara total. Pasar Indonesia saat ini dianggap belum sepenuhnya siap menghadapi digitalisasi perbankan secara utuh.

Hal ini diungkap oleh Deputi CEO Bank BTPN Darmadi Sutanto dalam acara Digital Creative Leadership Forum yang diselenggarakan oleh CNN Indonesia pada Kamis (9/11), di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat.

“Minimal buat saya, sampai generasi yang sekarang hilang, baru bisa total digital. Kenyataannya kan hari ini belum bisa total digital,” kata Darmadi.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walaupun demikian, Bank BTPN mengakui masih memerlukan strategi hybrid dengan kehadiran cabang secara fisik. Selain itu, juga belum bisa sepenuhnya menghilangkan kebutuhan interaksi nasabah di kantor cabang secara fisik.

Menurut Darmadi, banyak klien Bank BTPN yang masih memiliki pendekatan konvensional dengan menganggap penting keberadaan kantor cabang.

Meski salah satu produk Bank BTPN, Jenius, mengedepankan fitur-fitur perbankan digital melalui aplikasi, ia menekankan pentingnya wujud kantor cabang fisik sebagai jaminan kenyamanan dan keamanan bagi beberapa kelompok nasabah.

“Ternyata banyak orang walaupun mereka jarang ke cabang, tetapi kalau cabang tidak ada mereka juga tidak senang,” ceritanya.

“Terutama buat kelompok yang affluent ya, mereka merasa tidak aman,” sambung Darmadi.

“Digital bank seperti kami, yang menjadi kunci adalah berapa banyak kantor cabang fisik yang dimiliki,” tegasnya.

Namun, menurut Darmadi, tentu terdapat beberapa keuntungan yang didapat melalui digitalisasi perbankan. Salah satunya adalah demokratisasi bisnis.

“Sekarang batas untuk berbisnis itu nyaris tidak ada,” ungkapnya.

“Jadi bagi saya enggak akan total digital, tapi akan ada balancing, akan ada efisiensi, bisnis akan ada demokratisasi, semua bisa berbisnis, dan itu positif,” lanjut Darmadi.

Dalam kesempatan yang sama, Darmadi juga mengungkap enam tantangan yang diidentifikasi olehnya untuk memetakan problem yang dihadapi oleh produk bank digital Jenius.

“Teknologi berubah terus,” ujar Darmadi mengungkap tantangan pertama yang dihadapi oleh Jenius.

“Saya itu pusing kalau lihat teknologi. Selalu ada yang baru. Ini bagaimana kita akhirnya harus menyiapkan arsitektur [digital] yang cepat,” tambah Darmadi berkelakar.

Tantangan yang kedua, menurut Darmadi, adalah persaingan antar ‘talent’ yang saat ini bukan hanya dikuasai oleh perusahaan di industri serupa.

“Kita itu sekarang perangnya bukan sesama bank. Tapi sama OVO, sama Grab. Jadi sudah cross industries,” jelasnya tertawa.

Tantangan ketiga adalah serangan siber, yang mana dapat mengancam data diri nasabah tanpa aba-aba. Ia kemudian menceritakan group company dari Amerika Serikat yang mengalami serangan siber.

“Bisnisnya di AS, kebobolnya sama orang yang duduk-duduk di Nigeria. Ini kan tantangan bank, agar bisa menjaga kerahasiaan dan kemungkinan diserang sama hacker,” jelas dia.

Kemudian, tantangan keempat adalah kompetisi yang berlangsung di atas dunia perbankan.

Selanjutnya yang kelima, Darmadi juga mengupayakan untuk meningkatkan kesadaran akan perlindungan data nasabah.

“OJK sudah menyusun rancangan UU-nya. Perlindungan nasabah ini penaltinya cukup bisar kalau kita tidak bisa memenuhi itu,” jelas Darmadi.

Tantangan terakhir, yang menurut Darmadi paling krusial, adalah edukasi kepada pihak nasabah yang harus dilakukan secara persisten. Sementara perkembangan zaman itu jauh lebih cepat dari pada pasar itu bisa mencerna.

“Dan fenomenanya juga bukan hanya menyerang kelompok umur generation X atau Y, tapi yang tertipu banyak millenial juga,” pungkas Darmadi.

(far/dmi)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com