PVMBG Ungkap Faktor Pemicu Parahnya Longsor di Humbahas Sumut

Titik bencana banjir bandang bandang dan longsor di Humbang Hasundutan, Sumut, memang rawan gerakan tanah. Simak penjelasan PVMBG berikut.


Jakarta, CNN Indonesia

Lereng yang curam, area yang rawan gerakan tanah, hingga hujan lebat memicu parahnya efek banjir bandang di Humbang Hasundutan, Sumatra Utara.

Sebelumnya, Humbahas diterjang banjir bandang, longsor, serta gelontoran batu besar, Jumat (1/12) pukul 21.30 WIB. Titik bencananya ada di Desa Simangulampe, Kecamatan Batikraja, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Data terakhir menunjukkan 12 orang hilang dan dua di antaranya ditemukan meninggal. Tim SAR masih terus mencari 10 warga lainnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bupati Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, Dosmar Banjarnahor menduga penebangan liar menjadi penyebab utama longsor di Desa Simangulampe, Kecamatan Bakti Raja.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkap berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Sumatera Utara (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) November 2023, “daerah bencana di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Humbang Hasundutan termasuk potensi [gerakan tanah] tinggi.”

“Pada zona ini berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan,” kata PVMBG, dikutip dari situsnya.

Lalu faktor apa saja memicu gerakan tanah di lokasi bencana saat itu?

Pertama, kemiringan lereng yang curam. PVMBG mengungkap morfologi wilayah bencana itu secara umum merupakan lembah dan perbukitan dengan kelerengan curam hingga sangat curam.

Kedua, tanah pelapukan yang menumpang di atas batuan vulkanik yang relatif kedap air dan bersifat poros serta jenuh air.

Menurut Peta Geologi Lembar Sidikalang, Sumatera (Aldiss, dkk., Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1983), batuan penyusun di lokasi bencana termasuk dalam bagian Formasi Tuff (sisa vulkanik) Toba yang tersusun oleh Tufa Riodasit yang sebagian terlaskan (welded).

Ketiga, sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.

Keempat, curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah;

“Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat,” menurut lembaga di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu.

PVMBG pun mewanti-wanti kewaspadaan lantaran curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah di lokasi tersebut.

– Mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu.
– Meningkatkan kewaspadaan saat terjadi dan setelah hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama;
– Memantau perkembangan aliran bahan rombakan/susur sungai pada jalur aliran bahan rombakan hingga hulu untuk mengetahui kondisi terkini khususnya pada area hulu/sumber aliran bahan rombakan;
– Apabila terjadi perkembangan aliran bahan rombakan susulan pada jalur alur sungai, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah/alur sungai dan melaporkannya;
– Meningkatkan sosialisasi soal gerakan tanah;
– Ikuti arahan BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com