PVMBG Jelaskan Fenomena Erupsi Gunung Api di RI Dua Pekan Terakhir

Gunung berapi dapat menunjukkan sejumlah tanda jelang erupsi. Lalu apa itu berarti letusannya bisa diprediksi?


Jakarta, CNN Indonesia

Rentetan erupsi sejumlah gunung api di Indonesia terjadi dalam dua pekan terakhir. Apakah ada kaitannya antara erupsi satu gunung dengan lainnya?

Terkini, Gunung Marapi yang terletak di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat, meletus pada Minggu (3/12) sekitar pukul 14.54 WIB. Gunung api berketinggian 2.891 Mdpl ini meletus ditandai dengan muntahan kolom abu berisi material vulkanik hingga 3.000 meter dari puncak kawah yang disertai suara gemuruh.

Tak cuma Marapi, pelbagai gunung api di beberapa daerah juga mengalami erupsi selama dua pekan belakangan ini. Sebut saja Gunung Semeru yang erupsi pada 18 November, Gunung Ibu di Pulau Halmahera pada 24 November, serta Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi sejak 26 November.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski rentetan erupsi itu terjadi dalam waktu berdekatan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengatakan hal itu ternyata tidak berkaitan sama sekali.

“Pertama, tidak ada hubungannya satu erupsi gunung dengan gunung lainnya. Gunung-gunung di atas tersebut memang sudah lama erupsi terus, dan kebetulan ada peristiwa erupsi Gunung Marapi yang sudah erupsi juga di januari 2023 dan juni 2017. Jadi seolah saling berhubungan,” kata Kepala PVMBG Hendra Gunawan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (5/12).

Kedua, menurut Hendra, karena memang gunung-gunung di atas memang gunung-gunung aktif. Itu sebabnya Indonesia disebut ring of fire.

Lebih lanjut, saat ditanya mengenai siklus erupsi gunung berapi selayaknya gempa bumi, Hendra mengatakan bahwa secara pola general/pola statistik ada pemodelan tersebut. Namun, tetap saja hal tersebut tidak bisa memprediksi tanggal dan bulan kejadian erupsi secara tepat.

“Bahkan perkiraan tahun erupsi bisa bergeser satu atau dua tahun bahkan lebih atau bisa saja malah tidak ada erupsi/erupsi kebih besar dari yang biasanya. Setiap erupsi gunung api memiliki sejarah erupsi, hal ini bisa menjadikan dasar perkiraan untuk antisipasi,” papar dia.

Sebelumnya, sejumlah gunung api di beberapa daerah mengalami erupsi selama dua pekan belakangan ini.

Pada Sabtu 18 November lalu, Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi pada pukul 06.22 WIB. Data PVMBG mencatat tinggi kolom abu kala itu mencapai sekitar 1000 meter di atas puncak. Semeru juga masih berstatus siaga.

Kemudian pada Jumat (24/11) erupsi juga terjadi pada Gunung Ibu di Pulau Halmahera. Erupsi itu membuat tinggi kolom letusan teramati ± 600 meter di atas puncak atau 1.925 Mdpl.

Pada Senin (27/11) lalu, terpantau Gunung Merapi di DIY mengeluarkan awan panas guguran sebanyak dua kali.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan awan panas guguran pertama muncul pada Senin pukul 17.00 WIB. Sementara kejadian awan panas guguran kedua hari ini tercatat pada pukul 17.15 WIB. Jarak luncurnya tercatat sejauh 1.500 meter dan mengarah ke Sungai Boyong.

Pada 22 November lalu, Gunung Dukono di Halmahera Utara mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu teramati ± 1900 m di atas puncak. Gunung ini kembali alami erupsi pada Jumat (1/12) lalu. Erupsi Gunung ini terjadi pada pukul 07.40 WIT dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 2.000 meter di atas puncak.

Gunung Ili Lewotolok yang terletak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) juga mengalami erupsi pada Selasa, 24 November 2023 lalu. Data PVMBG mencatat Gunung ini melontarkan tinggi kolom abu setinggi ± 500 meter di atas puncak.

Gunung ini kembali mengalami erupsi pada Senin (4/12) hari ini pukul 05.53 WITA. Erupsi gunung itu melontarkan tinggi kolom abu sekitar 300 meter di atas puncak.

Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung juga mulai mengalami erupsi sejak 26 November 2023 lalu. Pada saat iri, Gunung Anak Krakatau tercatat tiga kali mengalami erupsi.

PVMBG masih memantau erupsi Gunung Anak Krakatau masih terjadi hingga hari ini Senin (4/12) dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1000 meter di atas puncak.

(lom/dmi)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com