PVMBG Bantah Gempa Sukabumi Terkait Aktivitas Gunung Salak

Warganet sebelumnya mengaitkan gempa Sukabumi pagi tadi dengan aktivitas vulkanik di Gunung Salak.


Jakarta, CNN Indonesia

Gempa magnitudo 4,6 mengguncang Sukabumi dan sekitarnya, Kamis pagi (14/12). Sejumlah pihak kemudian mengaitkan gempa tersebut dengan aktivitas tektonik Gunung Salak.

Isu mengenai kaitan aktivitas Gunung Salak dan gempa pagi tadi ramai dibahas di X (sebelumnya Twitter). Sejumlah warganet coba mencari kaitan antara gempa tersebut dengan aktivitas vulkanik di gunung api yang berada di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat itu.

Namun, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan membantah isu tersebut.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Tidak ada (kaitannya), sampai saat ini di pos Gunung Salak tidak merekam gempa vulkanik,” kata Hendra saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (14/12).

Hendra beberapa hari lalu menjelaskan bahwa tidak ada peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Salak. Menurut dia Gunung Salak saat ini statusnya masih berada pada level I atau normal.

PVMBG memang mencatat penngkatan aktivitas vulkanik usai gempa bumi dengan magnitudo 4,0 mengguncang barat daya Kota Bogor, pada Jumat (8/12) dini hari. Menurut Hendra gempa tersebut menyebabkan gempa tektonik lokal.

Menurut Hendra gempa tektonik lokal mengalami peningkatan jumlah gempa diatas empat kali kejadian per hari. Berdasarkan catatan PVMBG, ada delapan kejadian gempa tektonik lokal di Gunung Salak pada 6 Desember, kemudian tujuh kali kejadian pada 7 Deember, dan tujuh kali kejadian pada 8 Desember.

Kemudian berdasarkan pengamatan kegempaan periode 1-9 Desember 2023, PVMBG mengungkap Gunung Salak masih didominasi gempa tektonik jauh yang terekam sebanyak 31 kali kejadian dan gempa tektonik lokal sebanyak 22 kali kejadian.

Meski kegempaan cenderung normal, PVMBG mengeluarkan imbauan agar masyarakat sekitar tetap mewaspadai potensi erupsi di Gunung Salak.

“Meskipun dari kegempaan cenderung normal, namun tetap perlu diwaspadai terjadinya erupsi freatik, berupa semburan lumpur atau erupsi uap air (steam explosion) yang dapat terjadi tiba-tiba, pasca terjadinya kenaikan gempa tektonik lokal beberapa waktu lalu,” ujar Hendra.

“Di musim hujan, tingkat kelembaban udara di sekitar kawah akan lebih tinggi, sehingga gas-gas vulkanik akan sulit terurai, yang menyebabkan konsentrasi gas-gasnya akan meningkat dan dapat membahayakan kehidupan,” lanjutnya.

Sebelumnya, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono juga mengatakan ada dugaan gempa tadi pagi berkaitan dengan aktivitas Gunung Salak.

“Ini informasi dari Pak Hendra (Kepala PVMBG Hendra Gunawan) bahwa, ini PVMBG ya, saya hanya menyitir apa yang disampaikan beliau bahwa saat ini sedang ada peningkatan gempa tektonik lokal di Gunung Salak,” kata Daryono dalam jumpa pers daring, Kamis (14/12).

Sebelumnya, BMKG melaporkan gempa berkekuatan magnitudo 4,7 di Sukabumi pagi ini. Setelah beberapa saat, BMKG merevisi kekuatan gempa menjadi magnitudo 4,6.

Sumber gempa itu terjadidi darat, 25 kilometer barat laut dari Kabupaten Sukabumi. Sumber gempa ini dangkal, hanya 5 kilometer dari permukaan.

(tim/dmi)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com