Periset Lokal Setara dengan Luar Negeri

Semua skema penelitian di BRIN terbuka untuk semua periset, baik internal maupun luar BRIN.

Jakarta, CNN Indonesia

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menganggap kemampuan periset BRIN setara dengan periset lainnya dari luar negeri. 

Menurut Handoko, bahkan skema penelitian di BRIN terbuka untuk semua periset, baik internal maupun luar BRIN. Langkah ini untuk memudahkan kolaborasi antara periset.

“Kami memastikan setiap skema yang ada di BRIN itu terbuka untuk semuanya, tidak hanya untuk periset BRIN. Bahkan periset BRIN kita perlakuan sebagai periset luar juga, sama persis,” ujar Handoko di Peluncuran Program Kolaborasi Pengetahuan, Teknologi, dan Inovasi Australia Indonesia (Koneksi) di Bappenas, Jakarta, Senin (13/11).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Tapi tidak boleh disalahpahami, programnya tetap kita top down. Setengah program itu kita top down program besar,” imbuhnya.

Handoko mengatakan beberapa program besar tersebut seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) atau program dari presiden.

“Tetapi yang melaksanakan, kita kompetisikan. Sehingga kita ingin menjamin pelaksananya itu adalah orang-orang, grup-grup riset yang terbaik. Jadi dia punya rekam jejak yang baik dan proposal yang excellent,” tuturnya.

Handoko menyampaikan hal tersebut di peluncuran program Koneksi yang merupakan program kolaborasi riset antara pemerintah Indonesia dan Australia. Acara ini juga dihadiri Duta Besar Australia untuk Indonesia Penny Williams, perwakilan Bappenas, dan perwakilan Kemendikbudristek.

Merespons program ini, Handoko mengajak seluruh periset untuk ambil bagian dalam inisiatif yang dihadirkan kedua negara untuk ekosistem riset. Pasalnya, BRIN dan Koneksi telah melakukan join-funding untuk mendukung periset-periset yang ingin memanfaatkan program ini.

“BRIN dan Koneksi sudah menyepakati join funding untuk kolaborasi riset yang harus melibatkan mitra Australia dan orang Indonesia. Untuk itu pada kesempatan ini saya mengundang seluruh periset di Indonesia, mau periset di kampus, di industri, itu bisa mengajukan proposalnya,” terangnya.

“Proposal itu sepanjang tahun kami terima, tidak ada batas. Karena anggarannya kita buat bisa multiyears, karena sebagian besar dari dana abadi LPDP,” tambahnya.

Dalam acara yang sama, Duta Besar Australia untuk Indonesia Penny Williams mengatakan telah ada 38 penelitian yang melibatkan 100 institusi Australia dan Indonesia pada fase pertama penyelenggaraan Koneksi.

“Dalam waktu kurang dari 1 tahun, koneksi telah menunjukkan berbagai pencapaian. Dari 610 proposal awal telah terpilih 38 kemitraan penelitian penerima hibah penelitian pertama bertemakan lingkungan dan perubahan iklim. Dan melibatkan lebih dari 100 institusi di Australia dan Indonesia,” katanya.

Institusi yang terlibat mulai dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, think tank, organisasi penelitian, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, hingga pelaku kepentingan lokal.

Penny juga menyebut dalam waktu dekat Koneksi akan meluncurkan penelitian kolaborasi yang kedua bertemakan transformasi digital di bidang kesehatan, ketahanan pangan, dan energi.

[Gambas:Video CNN]

(lom/mik)

[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com