Penyebab Hujan Lebat Turun Seharian di Jabodetabek

Daftar Isi



Jakarta, CNN Indonesia

Beberapa fenomena atmosfer terlacak jadi pendorong hujan lebat seharian ini di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), termasuk bibit siklon tropis.

Berdasarkan pantauan, hujan di banyak wilayah Jakarta sudah turun sejak dini hari atau subuh, Jumat (19/1). Hal senada terjadi di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi.

Intensitas hujannya terpantau konsisten seharian, dengan kondisi yang mulai reda pada sore hari.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lewat sejumlah kanal, mengungkap penyebab fenomena hujan seharian ini. Berikut rinciannya:

Bibit Siklon Tropis 99S

Dalam unggahan di akun Instagram-nya, BMKG ungkap bibit siklon tropis ini per Jumat (19/1) pukul 07.00 WIB berada di daratan Australia bagian utara dan bergerak ke arah barat.

Kecepatan angin maksimumnya mencapai 20 knot dan tekanan udara minimum 992 hPa. Potensi bibit siklon ini jadi siklon tropis dalam kategori rendah.

Dampak Bibit Siklon Tropis 99S ini, kata BMKG, adalah hujan sedang hingga lebat dan gelombang tinggi.

Pertama, hujan sedang hingga lebat. Daerah yang terdampak antara lain Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kedua, gelombang laut tinggi, yang terbagi dalam ketinggian 1,25–2,5 meter dan 2,5–4 meter.

Gelombang 1,25-2,5 meter berpotensi terjadi di Laut Banda, perairan Kepulauan Sarmata hingga Letti, perairan Kepulauan Babar hingga Tanimbar, perairan Kepulauan kau hingga Aru, Teluk Yos Sudarso.

Gelombang 2,5–4 meter berpotensi terjadi di Laut Arafuru.

Sementara, Siklon Tropis Anggrek tak berefek pada peningkatan curah hujan. BMKG menyebut ini hanya berdampak pada peningkatan gelombang tinggi.

Monsun Asia

BMKG, dalam siaran persnya, Jumat (19/1), mengungkap potensi cuaca ekstrem di sebagian wilayah Jawa dalam waktu dekat salah satunya dipicu oleh “menguatnya aktivitas Monsun Asia.”

Angin yang bergerak dari arah Benua Asia ke Indonesia menuju Australia membawa uap air dan menjadi penanda kedatangan musim hujan.

Seruakan dingin

Selain penguatan Monsun Asia, BMKG menyebut pula soal potensi Seruakan Dingin “yang dapat menyebabkan adanya peningkatan massa udara basah di wilayah Indonesia bagian barat dan sebelah selatan ekuator.”

Seruakan Dingin atau Cold Surge adalah semacam aliran massa udara dingin dari Asia, terpatnya dataran Siberia. Udara ini secara tipikal bersifat kering karena membawa massa udara dingin yang mencegah keluarnya penguapan.

Madden Julian Oscillation

Gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang disebut tengah berada di sekitar wilayah Indonesia bagian tengah turut memicu potensi peningkatan awan hujan.

Dalam Ikhtisar Cuaca Harian BMKG, per Selasa (16/1), MJO terpantau di kuadran 4 (Benua Maritim). Fenomena ini diprediksi berkontribusi signifikan terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat, sebagian Indonesia bagian tengah dan timur.

Tekanan rendah

BMKG mengungkapkan sistem tekanan rendah  di sekitar Australia dan di Samudra Pasifik tenggara Papua memicu pembentukan pola belokan dan pertemuan (konfluensi) angin.

Sistem ini memanjang di wilayah Laut Jawa dan Pulau Jawa bagian barat hingga bagian tengah.

Vorteks Borneo

Peneliti Klimatologi pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengungkap faktor lain yang berpengaruh terhadap peningkatan curah hujan, yakni Vorteks Borneo.

Vorteks Borneo sendiri merupakan pusaran angin yang memiliki radius putaran pada skala meso, yaitu antara puluhan hingga ratusan kilometer.

Ini adalah sebuah sistem badai skala besar yg dinamakan Vorteks Borneo (BV), memicu cuaca ekstrem berupa angin kencang merata dan hujan squall line pada hari ini,” kicau akun X @EYulihastin, Jumat (19/1).

Wilayah yg masuk dlm lingkaran hitam adalah yg paling terdampak. Jawa pun kena dampak di lapis kedua pusaran.”

Studi berjudul ‘Identifikasi Borneo Vortex Terhadap Dinamika Suhu Permukaan di Laut Jawa’ yang diunggah di Jurnal Penelitian Sains, mengungkap asal mula Vorteks Borneo.

Peneliti menyebut fenomena ini terbentuk akibat vortisitas (putaran fluida) yang disebabkan oleh geser angin (windshear) dan konvergensi yang dihasilkan dari interaksi antara angin monsun timur laut dan daratan Kalimantan.

“Sehingga terbentuklah pusaran yang dapat meningkatkan curah hujan,” tulis pemimpin peneliti dari Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Yosafat Donni Haryanto.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com