Pengalaman DIY, Nyamuk Wolbachia Bikin Tak Perlu Sering Fogging

Peneliti nyamuk dari UGM Adi Utarini berkisah soal perjalanan studi Wolbachia dan hasil nyatanya di RI.

Yogyakarta, CNN Indonesia

Peneliti Pusat kedokteran Tropis UGM Adi Utarini mengklaim teknologi nyamuk berbakteri Wolbachia terbukti efektif mengurangi 77 persen kasus demam berdarah Dengue (DBD) sekaligus memangkas anggaran pengasapan atau fogging.

Informasi itu diketahui berdasarkan hasil penelitian FK-KMK UGM bersama Monash University serta Yayasan Tahija yang diawali dengan melepas nyamuk ber-Wolbachia di Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, Agustus 2016 silam.

Uut menjelaskan, dua tahun sebelumnya pelepasan pertama dilakukan di wilayah terbatas di Bantul dan Sleman dalam rangka penelitian pengendalian DBD.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Syukur alhamdulillah, perjalanan panjang 2011 sampai akhir 2020 kalau di Kota Yogyakarta itu hasilnya menggembirakan,” kata Uut dalam acara ‘Selebrasi Sedasawarsa Warga Yogyakarta Hidup bersama Nyamuk Ber-Wolbachia’ di UGM, Sleman, Rabu (22/11).

Penelitian yang awalnya bernama Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya kemudian menjadi World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta. Uut merupakan Peneliti Utama WMP Yogyakarta.

Uut menjelaskan pelepasan tahap pertama di Yogyakarta berlangsung selama tujuh bulan dengan cara menitipkan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia ke rumah-rumah warga.

Penitipan ember tersebut lalu meluas ke wilayah intervensi penelitian Kota Yogyakarta awal 2017 silam dan melengkapi seluruh wilayah Kota Gudeg akhir 2020.

Menurut Uut, total tak kurang dari 11.200 ember telah dititipkan kepada orang tua asuh (OTA) nyamuk di seluruh Kota Yogyakarta.

Sampai sekarang, dia mengklaim, persentase nyamuk yang mampu menghambat penularan virus dengue itu stabil tinggi di seluruh wilayah Kota Yogyakarta.

“Hasil-hasil yang ada di Kota Yogyakarta ini kemudian data itu menjadi data hasil penelitian yang paling valid. Paling tinggi bukti ilmiahnya. Sehingga hasil di kota Yogyakarta bersama beberapa negara itu kemudian disajikan di WHO dan lalu 2021 menjadi rekomendasi WHO,” sebutnya.

Anggaran fogging

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Lana Unwanah menambahkan per Oktober 2027 ini tercatat 67 kejadian DBD di wilayahnya.

Menurut dia, angka ini merupakan yang terendah dalam satu dasawarsa terakhir, mengingat siklus lima tahunan kejadian DBD Kota Yogyakarta terjadi pada 2010 dan selanjutnya 2016.

Ia meyakini selain dari upaya masyarakat melalui program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan gerakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), Wolbachia menjadi teknologi pelengkap dalam rangka pengendalian efektif DBD di Kota Yogyakarta.

Lana melanjutkan, berkat penurunan kasus secara signifikan ini alokasi dana fogging cuma terealisasi sebagian kecil saja.

Sepanjang tahun 2023 ini baru 9 kali dilakukan fogging. Sementara saat periode nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dilepaskan mencapai lebih dari 200 kali pada 2016 dan lebih dari 50 kali pada 2017 lalu.

“Ada sejumlah anggaran yang bisa kami alokasikan ke penanganan penyakit lainnya,” kata Lana.

[Gambas:Video CNN]

(kum/dmi)




Sumber: www.cnnindonesia.com