Penemuan Mumi Babun Ungkap Kesakralan Hewan Primata di Mesir Kuno

Penemuan mumi babun mengungkap bukti yang menunjukkan primata itu merupakan salah satu yang dianggap sebagai hewan suci oleh masyarakat Mesir Kuno.

Jakarta, CNN Indonesia

Penemuan mumi babun mengungkap bukti yang menunjukkan bahwa hewan primata itu merupakan salah satu binatang yang paling dipuja dan dianggap sebagai hewan suci oleh masyarakat Mesir Kuno. Simak penjelasannya.

Studi terbaru mengenai mumi babun menyoroti kedudukan hewan-hewan ini di Mesir kuno, dan mengungkap, meskipun mereka dihormati sebagai hewan suci, kondisi kehidupan mereka kurang ideal.

Para peneliti menganalisis tulang-tulang dari mumi babun yang ditemukan pada awal 1900-an di komplek pemakaman kuno Gabbanat el-Qurud, atau biasa disebut Lembah Monyet. Kompleks ini terletak di sebelah barat daya Lembah Para Raja Mesir.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tulang-tulang tersebut mewakili puluhan individu babun – dari bayi hingga dewasa -dalam dua spesies: babun hamadryas (Papio hamadryas) dan babun zaitun (Papio anubis).

Satwa-satwa ini bukanlah spesies asli Mesir – mereka diimpor dari dua wilayah, “Babun zaitun dari selatan (sekarang Sudan), dan babun hamadryas dari daerah pegunungan yang berbatasan dengan Laut Merah, di Sudan dan ke selatan ke Eritrea, Somalia, dan Ethiopia,” kata penulis utama studi ini, Wim Van Neer, seorang profesor emeritus di Institut Ilmu Pengetahuan Alam Kerajaan Belgia di Brussels. “Asal-usul yang tepat masih perlu didokumentasikan secara lebih rinci,” kata Van Neer, mengutip CNN.

Menurut dia dari semua hewan yang dihormati dan disucikan oleh orang Mesir kuno, babun satu-satunya hewan yang tidak berasal dari Mesir.

Para ilmuwan mengungkap babun memiliki peran dalam ritual Mesir kuno. Namun, memelihara dan merawat hewan liar berukuran besar, terutama spesies yang bukan asli Mesir, merupakan hal yang menantang.

Para peneliti menemukan sebelum kematiannya, babun-babun tersebut kekurangan sinar matahari dan mengalami penyakit tulang akibat nutrisi yang buruk. Pemeriksaan sisa-sisa kerangka menunjukkan tanda-tanda rakhitis; babun-babun tersebut memiliki lengan, kaki dan wajah yang cacat, gigi yang tidak berkembang, osteoartritis dan patologi lainnya karena kekurangan dan penyakit metabolik.

Para ilmuwan dalam proyek ini menyatakan kelainan bentuk mereka mirip dengan tulang-tulang babun dari dua situs Mesir kuno lainnya – Saqqara dan Tuna el-Gebel – yang berasal dari periode yang sama.

Salima Ikram, Profesor Terkemuka Mesirologi dari American University of Cairo, yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa studi ini dibuat dan dilaksanakan dengan sangat baik serta menegaskan hasil beberapa penelitian sebelumnya mengenai status gizi babun di Mesir Kuno.

“Lebih penting lagi, penelitian ini juga membuktikan fakta bahwa berbagai jenis babun dibawa dan dipelihara di Mesir,” kata Ikram. “Sangat menarik untuk berpikir bahwa orang Mesir kuno mencoba melembagakan program pengembangbiakan babun sehingga mereka dapat dihormati dan juga digunakan dalam ritual keagamaan.”

Tumpukan tulang belulang

Penelitian tersebut mengungkap bahwa di tiga situs utama Mesir tempat mumi monyet kuno dikuburkan, 463 mumi primata telah ditemukan. Tulang-tulang babun yang diperiksa untuk analisis baru ini dikumpulkan pada tahun 1905 dan 1906 oleh para arkeolog dari Muséum d’Histoire Naturelle de Lyon di Prancis (sekarang Musée des Confluences).

Dalam makam itu terdapat potongan-potongan kulit kering dengan jumbai rambut yang masih menempel, menunjukkan bahwa hewan-hewan tersebut telah ditempatkan di sana sebagai mumi.

Para arkeolog Prancis menemukan 23 tengkorak, 24 rahang bawah, dan lebih dari 200 tulang yang terisolasi, yang dirangkai menjadi kerangka lengkap terlepas dari apakah semua tulang itu berasal dari babun yang sama.

Nasib babun di Mesir kuno di halaman berikutnya…




Sumber: www.cnnindonesia.com