Peneliti Ungkap Untung Rugi Mengingat Tuhan

Studi American Psychological Association (APA) mengungkap sisi positif dan negatif konsep Ketuhanan dari sudut pandang duniawi.

Jakarta, CNN Indonesia

Agama-agama di dunia selalu mengajarkan umatnya untuk terus mengingat Tuhan agar tak melenceng dari ajaran. Studi terbaru mengungkap sisi positif dan negatif dari tindakan itu.

Merujuk pada penelitian American Psychological Association (APA), konsep Ketuhanan memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing.

Misalnya, mengingat konsep Tuhan dapat menurunkan motivasi untuk mengejar cita-cita seseorang, tapi dapat membantu seseorang dalam melawan godaan.

Kristin Laurin, seorang profesor dari Universitas Waterloo yang menjadi pemimpin riset ini mengatakan “Lebih dari 90 persen orang di dunia setuju bahwa Tuhan atau kekuatan spiritual yang serupa itu ada atau mungkin ada.”

“Ini adalah bukti empiris pertama bahwa mengingat Tuhan dapat mengurangi beberapa pengaturan diri, seperti mengejar cita-cita, tapi dapat meningkatkan yang lain seperti menolak godaan,” tambahnya.

Dalam jurnal yang berjudul ‘Divergent Effects of Activating Thoughts of God on Self-Regulation’ itu, Kristin dan dua orang lainnya menyatakan pengaturan diri adalah sebuah konstruksi multifaset dan pengingat akan Tuhan menimbulkan beragam efek pada aspek pengaturan diri yang berbeda.

Secara khusus, mereka menyebutkan bahwa mengingat Tuhan memiliki efek yang berlawanan pada dua komponen penting pengaturan diri: mengejar cita-cita secara aktif dan menolak godaan.

Komponen-komponen ini sangat penting untuk pengendalian diri yang berhasil dan merupakan elemen penting dalam sebagian besar teori pengaturan diri.

Kalimat Tuhan

Kristin dan dua peneliti lainnya meneliti 353 mahasiswa, dengan usia rata-rata 19 tahun dan 186 di antaranya merupakan perempuan.

Mereka berpartisipasi dalam enam kali eksperimen untuk menentukan bagaimana konsep Ketuhanan secara tidak langsung dapat mempengaruhi motivasi, bahkan di antara orang-orang yang sama sekali tidak religius.

Para siswa itu tidak harus memiliki pendapat tentang keberadaan dewa atau kekuatan spiritual lainnya.

Dalam sebuah percobaan, sejumlah mahasiswa jurusan teknik menyelesaikan tugas ‘pemanasan’, yakni membentuk kalimat yang benar secara tata bahasa menggunakan empat kata dari lima set.

Beberapa siswa diberikan kata Tuhan atau yang berhubungan seperti ilahi, suci, roh dan nabi. Sementara, kelompok lainnya menggunakan kata-kata yang lebih netral seperti bola, meja, langit, lintasan, dan kotak.

Selanjutnya, setiap siswa harus membentuk kata sebanyak mungkin dalam lima menit, menggunakan kombinasi huruf tertentu. Peneliti kemudian menentukan tingkat motivasi siswa dengan jumlah kata yang mereka hasilkan.

Semakin termotivasi, semakin banyak kata yang mereka hasilkan. Mereka juga diberi tahu bahwa kinerja yang baik dapat membantu memprediksi apakah mereka akan berhasil dalam karier di bidang teknik.

Beberapa pekan sebelum eksperimen, para siswa ditanya apakah mereka percaya faktor luar (orang lain, makhluk, kekuatan di luar kendali mereka) memiliki pengaruh terhadap karier mereka.

Di antara peserta yang mengatakan faktor-faktor luar seperti Tuhan mungkin mempengaruhi kesuksesan karier mereka.

Dari hasil eksperimen terlihat kelompok yang melakukan tugas menyusun kata berhubungan dengan Tuhan berkinerja lebih buruk daripada kelompok yang menyusun kata-kata netral.

Tidak ada perbedaan kinerja di antara peserta yang tidak mempercayai faktor luar mempengaruhi karier mereka.

Peneliti juga mengukur seberapa penting peserta ditempatkan pada sejumlah nilai, termasuk prestasi. Para peserta yang diingatkan mengenai Tuhan menempatkan nilai yang sama sebagaimana para peserta yang menggunakan kata-kata lebih netral.

“Ini menunjukkan bahwa temuan kami tidak muncul karena para peserta diingatkan akan Tuhan meremehkan pencapaian,” kata Kristin.

Sementara, pada eksperimen kedua melihat kemampuan peserta untuk menahan godaan setelah diingatkan tentang Tuhan.

Dalam sebuah penelitian, peserta yang mengatakan makan makanan sehat itu penting bagi mereka makan lebih sedikit setelah membaca bagian singkat tentang Tuhan daripada mereka yang membaca bagian yang tidak berhubungan dengan Tuhan.

Peserta yang membaca bagian pendek yang berhubungan dengan Tuhan melaporkan keinginan yang lebih besar untuk menolak godaan untuk mencapai tujuan utama, seperti mempertahankan berat badan yang sehat, menemukan hubungan jangka panjang atau memiliki karier yang sukses.

Efek ini hanya ditemukan di antara peserta yang sebelumnya mengatakan mereka yakin ada entitas Maha Tahu yang mengawasi dan memperhatikan saat mereka berperilaku buruk.

Tingkat ketaatan beragama peserta tidak berdampak pada hasil eksperimen mana pun, menurut para peneliti.

(dmr)





Sumber: www.cnnindonesia.com