Pemeliharaan Hutan Lebih Baik dari Carbon Capture Storage

Selain hutan, gambut dan mangrove juga disebut Greenpeace bisa menangkap karbon secara alami ketimbang teknologi CCS yang mahal dan punya potensi bahaya.


Jakarta, CNN Indonesia

Greenpeace menilai pemeliharaan hutan lebih penting untuk diprioritaskan ketimbang penerapan teknologi Carbon Capture & Storage (CCS) di Indonesia.

Menurut Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik, penerapan teknologi untuk memitigasi pemanasan global mengurangi emisi CO2 ke atmosfer itu tidak efektif karena mahal dan berbahaya.

“Untuk konteks di Indonesia, daripada mahal dan risiko bahayanya tinggi, akan lebih baik untuk digunakan dalam pemeliharaan hutan di Indonesia,” ujar Iqbal kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (23/12).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iqbal menyebut hutan adalah CCS alami. Selain itu ada mangrove dan gambut yang bisa menangkap emisi secara alami.

Karena itu Iqbal melihat Indonesia lebih perlu untuk menempatkan prioritas pemeliharaan hutan ketimbang harus menerapkan teknologi CCS yang tidak efektif dan punya potensi bahaya itu.

Iqbal merujuk kepada diskusi para pemimpin internasional saat menggelar Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2023 atau Conference of the Parties (COP) 28 di Dubai, Uni Emirat Arab, awal Desember lalu.

Menurut Iqbal, perbincangan mengenai penerapan teknologi CCS ini tidak kunjung menghasilkan titik temu. Para pemimpin negara di Eropa, menurut Iqbal, lebih fokus untuk memperbincangkan proses mitigasi emisi gas berbahaya daripada fokus ke teknologi tak efektif.

“Jangankan Indonesia, negara-negara lain di Eropa misal, memang belum ada yang bisa benar-benar berhasil meng-capture emisi melalui teknologi CCS ini,” tuturnya

“Di COP 28 Dubai kemarin, ini sempat diperbincangkan, tapi bahkan sampai di draft terakhir itu tidak berlanjut karena memang dianggap tidak efektif soal teknologi CCS ini,” ujar Iqbal.

“Sehingga para pemimpin masih berpikir untuk memitigasi emisinya, bukan untuk mengcapture dengan teknologi tersebut,” tegasnya.

Menurutnya, penerapan teknologi CCS di Indonesia memiliki beberapa hambatan yang merugikan seperti “teknologi yang mahal, membutuhkan transportasi yang panjang, lalu tingkat keberbahayaannya tinggi,” ujar Iqbal menambahkan.

Mengutip situs Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), CCS merupakan salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi CO2 ke atmosfer.

“Teknologi ini merupakan rangkaian pelaksanaan proses yang terkait satu sama lain, mulai dari pemisahan dan penangkapan CO2 dari sumber emisi gas buang, pengangkutan CO2 tertangkap ke tempat penyimpanan, dan penyimpanan ke tempat yang aman”.

Pemisahan dan penangkapan CO2 tersebut dilakukan dengan teknologi absorpsi yang sudah dikenal oleh kalangan industri.

Perbincangan mengenai teknologi CCS ini menjadi ramai usai Calon Wakil Presiden nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka bertanya kepada Cawapres nomor urut 3 Mahfud MD dalam Debat Cawapres, Jumat (22/12) semalam.

“Bagaimana cara membuat regulasi Carbon Capture and Storage?” tanya Gibran ke Mahfud.

Mahfud tidak spesifik menjelaskan soal CCS tersebut saat menjawab. Ia hanya menjawab secara umum soal proses penyusunan regulasi.

“Nah itu yang akan kami buat, bagaimana mengatur Undang-undang karbon, bukan hanya itu jadi itu yang akan dilakukan,” kata Mahfud.

Menanggapi perbincangan tersebut, akun X Greenpeace Indonesia juga sempat mencuitkan sorotan tegas terkait CCS. Di cuitan yang diunggah Jumat (22/12) tersebut, Greenpeace Indonesia menyebutkan CCS adalah solusi palsu yang tidak akan menyelamatkan publik dari krisis iklim.

“Carbon capture hanyalah akal-akalan yang diusung oleh industri batu bara dan minyak bumi agar bisa terus meraup keuntungan di atas kehancuran Bumi kita,” klaim Greenpeace Indonesia dalam cuitan di akun X-nya.

(sur)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com