Pemanasan Global Bikin Hujan ‘Ngeri’ Makin Sering, Termasuk di RI

Studi mengungkap pemanasan global membuat frekuensi hujan yang amat lebat menjadi lebih sering.

Jakarta, CNN Indonesia

Sebuah studi dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) menunjukkan pemanasan global membuat frekuensi hujan menjadi lebih sering dengan intensitas yang lebih deras.

“Studi kami menegaskan bahwa intensitas dan frekuensi hujan lebat yang ekstrem meningkat secara eksponensial seiring dengan meningkatnya pemanasan global,” jelas Max Kotz, penulis utama studi yang diterbitkan dalam Journal of Climate.

Studi terbaru ini sesuai dengan teori fisika hubungan klasik Clausius-Clapeyron pada 1834, yang menyatakan udara yang lebih hangat dapat menahan lebih banyak uap air.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Model iklim terkini memberikan hasil yang bervariasi dalam hal seberapa kuat skala curah hujan ekstrem dan hubungannya dengan pemanasan global. Namun model-model ini cenderung meremehkan peningkatan curah hujan sebagai dampak pemanasan global tersebut.

“Dampak iklim terhadap masyarakat telah dihitung dengan menggunakan model iklim. Sekarang temuan kami menunjukkan bahwa dampak ini bisa jadi jauh lebih buruk dari yang kita duga. Curah hujan ekstrem akan lebih deras dan lebih sering terjadi. Masyarakat harus bersiap untuk hal ini,” kata kepala departemen PIK dan penulis studi Anders Levermann, dikutip dari ScienceDaily.

Pasalnya, perubahan frekuensi dan intensitas curah hujan harian yang ekstrem di atas daratan dapat berdampak pada kesejahteraan sosial, ekonomi, dan stabilitas sosial.

Hal ini mengingat keterkaitannya dengan banjir dan ketersediaan air tanah, yang dapat menyebabkan korban jiwa dan kerugian finansial yang cukup besar.

Wilayah tropis lebih parah

Para peneliti di PIK menganalisis intensitas dan frekuensi curah hujan harian yang ekstrem di atas daratan dalam 21 simulasi iklim mutakhir (CMIP-6) dan membandingkan perubahan yang diproyeksikan oleh model CMIP-6 dengan perubahan yang diamati secara historis.

Metode yang mereka terapkan menggunakan teknik penyaringan pola, yang memungkinkan mereka untuk memisahkan mana perubahan dalam sistem iklim yang disebabkan oleh emisi manusia dan mana yang tidak.

Sebagian besar wilayah daratan menunjukkan peningkatan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem, tetapi peningkatan yang lebih kuat ditemukan di wilayah-wilayah tropis.

Perubahan signifikan paling sering terjadi di daerah tropis dan lintang tinggi, seperti di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) atau Kanada Utara.

Fakta bahwa perubahan ini mengikuti teori Clausius-Clapeyron mendukung fakta bahwa termodinamika, yaitu suhu mendominasi dalam perubahan global pada kejadian curah hujan ekstrem.

“Kabar baiknya, hal ini membuat kita lebih mudah untuk memprediksi masa depan curah hujan ekstrem. Kabar buruknya adalah: Hal ini akan menjadi lebih buruk, jika kita terus meningkatkan suhu global dengan mengeluarkan gas rumah kaca,” kata Anders Levermann.

[Gambas:Video CNN]

(lom/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com