Pakar Ungkap Motivasi Orang Berbuat Baik

Sebuah penelitian mengungkap motivasi di balik tindakan orang-orang dalam berbuat baik kepada sesama manusia.

Jakarta, CNN Indonesia

Bagi sebagian orang, berbuat baik adalah sebuah prinsip hidup. Tidak sedikit juga orang yang ingin berbuat baik kepada orang lain.

Namun, apa yang memotivasi orang untuk berbuat baik kepada sesama, termasuk menjadi dermawan?

Pertanyaan ini coba dijawab oleh sebuah tim fakultas antar-disiplin yang bekerja sama dengan Pusat Studi Agama dan Konflik dari Arizona State University (ASU). Mereka tengah mengeksplorasi apa yang memotivasi orang untuk berbuat baik dan bagaimana agama mempengaruhi tindakan mereka.

Studi ini didanai melalui hibah sebesar US$363 ribu (setara Rp5,4 miliar) dari John Templeton Foundation/University of Notre Dame Science of Generosity Initiative.

Aspek kedermawanan yang diteliti di antaranya adalah bagaimana kebaikan seseorang kepada orang lain mempengaruhi kebaikan penerima di kemudian hari dan apa bedanya antara yang memberi dan yang tidak.

“Kemurahan hati adalah bagian penting dari perilaku manusia yang tidak banyak kita ketahui,” kata Carolyn Warner, profesor Sekolah Politik dan Studi Global ASU dan peneliti utama proyek ini.

“Akan lebih baik jika [kedermawanan] ada lebih banyak di dunia,” ungkap dia menambahkan.

Warner dan tim mengidentifikasi motivator kedermawanan dalam agama melalui studi perbandingan Muslim dan Katolik. Tujuan mereka adalah untuk menemukan aspek-aspek agama yang memotivasi orang untuk memberikan waktu, tenaga, dan sumber daya keuangan mereka, dan bagaimana motivator tersebut mungkin serupa atau berbeda di dua agama besar dunia.

“Ada penelitian tentang orang yang religius cenderung lebih dermawan daripada orang yang tidak. Ada perdebatan tentang itu. Kami tidak mencoba untuk menentukan apakah orang yang religius itu lebih atau kurang dermawan,” kata Warner, mengutip Science Daily.

“Yang ingin kami ketahui adalah pengalaman religius apa yang mungkin mendorong kemurahan hati,” tambahnya.

Warner melakukan studi ini bersama koleganya, profesor psikologi ASU Adam Cohen dan ilmuwan politik Universitas Nebraska Ramazan Kilinc. Mereka kemudian mengunjungi beberapa kota di Eropa dan Asia seperti Dublin, Milan, Paris, dan Istanbul.

“Kami melakukan perjalanan ke negara-negara ini karena fokus pada Katolik dan Islam,” kata Warner.

Para peneliti memeriksa faktor-faktor dalam setiap agama yang kemungkinan menjadi motivasi untuk berbaik hati, seperti rasa kewajiban kepada Tuhan, cinta Yesus atau Muhammad, perasaan diberkati dan cara masing-masing agama diatur. Studi ini melibatkan wawancara, berpartisipasi dalam kegiatan kelompok keagamaan dan melakukan eksperimen.

“Studi semacam ini sangat penting untuk memahami berbagai peran agama dalam masyarakat,” kata Linell Cady, direktur Pusat Studi Agama dan Konflik.

“Begitu banyak perhatian terfokus pada konflik sehingga perhatian diperlukan untuk memahami nilai-nilai dan sumber daya dalam agama yang menjadi landasan bagi komunitas yang kuat dan bersemangat,” tambah dia.

Temuan penelitian sangat jelas dalam beberapa kasus seperti motivasi untuk memberi. Umat Islam sangat merasa jika mereka diberkati, maka mereka berkewajiban kepada Allah untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Mereka juga merasa mengikuti jejak Nabi Muhammad dengan beramal kepada sesama.

Sementara, umat Katolik tidak melihat kewajiban kepada Tuhan sebagai motivasi utama untuk membantu orang lain; sebaliknya, kasih mereka kepada Yesus memotivasi mereka untuk membantu orang lain.


Kesamaan motivasi dua penganut agama berbeda

BACA HALAMAN BERIKUTNYA



Sumber: www.cnnindonesia.com