Pakar Ungkap Kengerian Tekanan dalam Kerumunan seperti di Itaewon

Pakar mengungkap tragedi Itaewon dipicu oleh kekuatan dorongan massa yang

Jakarta, CNN Indonesia

Tragedi Itaewon yang merenggut ratusan nyawa di Korea Selatan diduga dipicu kekuatan desakan individu yang berubah menjadi gelombang kekuatan massa yang terlalu besar untuk ditahan.

Sebelumnya, sebanyak 156 orang tewas (data per 1 November), di Seoul, Sabtu (29/10), di malam pesta Halloween. Gelaran itu menyebabkan kerumunan begitu padat sehingga membuat ratusan orang meregang nyawa.

Tragedi itu terjadi di wilayah Itaewon, daerah tersibuk di Seoul, tempat kehidupan malam populer menarik puluhan ribu orang.

Reuters melaporkan, tidak ada satu acara pun yang direncanakan di wilayah itu. Namun, kerumunan orang dari bar dan klub malam membanjiri gang sempit yang menghubungkan stasiun kereta bawah tanah ke jalan utama.

Lewat jam 22.00 waktu setempat, jalanan menjadi penuh massa melebihi kapasitas. Lini media sosial saat itu beredar informasi orang-orang di dekat gang terkapar hingga meregang nyawa karena kehabisan oksigen.

Mehdi Moussaïd, peneliti di Max Planck Institute di Berlin, Jerman, yang mempelajari dinamika kerumunan (crowd dynamics), membahas bagaimana kerumunan bisa berubah menjadi kematian masal.

“Kebanyakan orang tidak menyadari bahayanya,” katanya kepada Insider.

Menurut dia, pengunjung seharusnya mendapatkan informasi yang baik karena kota-kota saat itu seketika menjadi lebih padat dan kerumunan besar terjadi.

Kerumunan bak ombak

Gelombang kerumunan didorong oleh prinsip sederhana. Jika sekelompok orang menjadi cukup padat – lebih dari enam atau tujuh orang per meter persegi, seketika kerumunan mulai bertindak seperti cairan.

Moussaïd mengatakan, pada titik ini, orang-orang di dalam kerumunan sebagian besar kehilangan kekuatan untuk mengendalikan gerakan sendiri.

Jika seseorang didorong, mereka akan mendorong orang terdekatnya, yang kemudian akan menimpa tetangga sebelahnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

“Kemudian gerakan ini disebarkan,” ujarnya, “Ini mirip riak air, karena gerakan ini menyebar, mereka berkembang lebih besar.”

Kekuatannya pun bisa terlampau besar untuk ditanggung orang-orang di dalam kerumunan, terutama jika itu terjadi di ruang terbatas seperti yang terlihat di Seoul.

“Gelombang itu cukup berbahaya karena orang bisa terdesak ke dinding satu sama lain. Setiap kali dua gelombang [dorongan] melintas, orang bisa merasakan tekanan dari kedua sisi,” kata Moussad.

Apa yang harus dilakukan?

Dalam sebagian besar kasus, acara yang ramai akan berlangsung aman. Namun, Moussaïd tetap memberi daftar beberapa hal yang dapat membantu Anda jika keadaan berubah menjadi berbahaya.

1. Sadar situasi

Apabila Anda merasa suatu tempat terlalu ramai, kemungkinan perasaan Anda benar. Warga pun diimbau untuk berpindah dengan cepat ke tempat yang lebih sepi. Hal ini juga dapat melindungi Anda sekaligus mengurangi beban tekanan kerumunan terhadap orang lain.

“Jika hanya sebagian kecil orang yang mulai melakukan itu, itu akan mengurangi kepadatan dan menyelesaikan masalah,” katanya.

2. Jangan melawan

Bagaimana jika telanjur terjebak? Dikutip dari ScienceAlert, begitu kerumunan mencapai ambang kritis, gelombang dorongan dapat terbentuk dengan sangat cepat.

“Jika Anda merasakan gelombang seperti terdorong, jangan mencoba untuk melawan. Ikutilah dan jaga keseimbangan Anda,” ujar Moussaïd.

Jika Anda mendorong, tekanan dalam sistem kerumunan ini akan meningkat. Hal ini hanya akan membuat situasi menjadi lebih buruk.

3. Jaga keseimbangan

Ia pun menyarankan untuk tetap dalam posisi berdiri. Jika satu orang jatuh, itu akan membuat gelombang orang terguling. Mereka yang berada di bagian bawah tumpukan kemungkinan besar akan tertimpa.

4. Lindungi rusuk

Banyak korban tragedi Itaewon dilaporkan merupakan perempuan. Para ahli mengungkap itu kemungkinan terkait kemampuan individu untuk menanggung beban tekanan massa terhadap organ pernafasan.

Moussaïd pun menyarankan Anda untuk mengambil posisi bak petinju; angkat kedua lengan hingga melindungi dada.

“Pegang tangan Anda ke atas tulang rusuk seperti petinju untuk membuatnya lebih mudah bernapas. Tekanan dari gelombang dapat menyebabkan orang pingsan dan jatuh,” tandas dia.

(can/arh)



[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com