Pakar Jelaskan Cara Makan Buaya yang Disangka Antarkan Mangsa

Pakar dari BRIN, Amir Hamidy menjelaskan fakta dari video viral yang memuat buaya

Jakarta, CNN Indonesia

Ahli Herpetologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amir Hamidy mengungkap perilaku buaya yang membawa jasad balita ke tepi sungai sampai akhirnya dapat ditemukan warga. Jasad balita tersebut sebelumnya dilaporkan hilang di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, Jumat (22/1) lalu.

Jagat maya sempat diramaikan oleh video buaya yang membawa jasad balita tersebut disertai narasi jika buaya tersebut ‘mengantarkan’ jasad bocah malang itu.

Belakangan diketahui, jasad balita itu bernama Muhammad Ziyad Wijaya (4). Ia sebelumnya dilaporkan hilang selama dua hari karena tenggelam saat bermain di Sungai Mahakam.

Dalam video yang beredar, jasad Ziyad terlihat masih utuh saat dibawa buaya berenang ke tepi sungai. Warga dan keluarga yang menunggu di pinggir pun lalu memakai sampan untuk mendekat mengambil jasad bocah itu.

Amir menjelaskan peristiwa ini terjadi secara alami karena insting buaya yang seringkali memindahkan mangsa sebelum memakannya. Buaya ini kemungkinan akan menjadikan jasad balita tersebut sebagai mangsa.

“Kita melihat dia (buaya) seakan-akan mengantarkan jenazah. Tapi sebenarnya, kebetulan saja ketika manusia menemukan, buayanya menghindar terus mangsanya ditinggal,” ujar Amir kepada CNNIndonesia.com pada Senin (23/1).

Amir menyebut buaya memang tidak langsung memakan mangsa bulat-bulat layaknya ular. Buaya umumnya menenggelamkan mangsa selama beberapa hari dan menyembunyikannya di bawah akar-akar bawah sungai.

Hal ini dilakukan agar mangsanya membusuk dan lebih mudah dicerna. Pada kejadian ini, Amir menduga buaya tengah memindahkan mangsanya untuk dibawa ke teritori yang lebih aman.

Dilansir dari Live Science, buaya sendiri disebut dapat melahap makanan berukuran 23 persen besar badannya dalam sekali makan. 

Rahasia di balik porsi besar makanan ini adalah katup jantung yang dapat dikendalikan oleh buaya secara neurologis. Pengendalian katup ini memungkinkan darah melewati paru-paru dan mengalir melalui aorta khusus langsung ke perut, memungkinkan mereka mengeluarkan asam lambung dengan kecepatan 10 kali lebih cepat daripada hewan lain.

Dalam sebuah studi yang mengungkap hubungan antara katup jantung dan pencernaan, ahli biologi di University of Utah C. G. Farmer menyebut buaya, aligator, dan jenis spesies buaya lainnya memiliki kemampuan ini.

“Telah diketahui selama bertahun-tahun bahwa reptil dapat mengalirkan darah melewati paru-paru, tetapi fungsinya belum dipahami,” kata Farmer.

Studi terbaru Farmer menjelaskan ketika darah melewati paru-paru, ia menahan karbon dioksida yang biasanya dilepaskan ke dalam gas di paru-paru.

Karbondioksida sendiri merupakan bahan kimia asam lambung, sehingga semakin banyak CO2 dalam darah saat mencapai lambung, semakin banyak pula asam yang dapat dihasilkan. Asam lambung disebut sangat penting untuk mencerna makanan dalam jumlah besar.

“Jika ada hewan yang memakan makanan sebesar itu, mereka tidak bisa langsung mengolahnya,” tutur Farmer.

“Saat makanan dipecah, perut menahan sebagian besar makanan dan mengirimkan sedikit ke usus. Jika mereka tidak mampu mengeluarkan banyak asam di perut mereka, makanan di sana akan membusuk karena untuk pertumbuhan berlebih dari bakteri Makan makanan besar jarang telah dipilih untuk kemampuan ini,” lanjutnya.

[Gambas:Video CNN]

(lom/lth)






Sumber: www.cnnindonesia.com