Pakar Bongkar Rahasia Cara Bikin Senjata Laser ala Star Wars

Para ahli menemukan metode untuk membuat senjata laser ala Star Wars di kehidupan nyata lewat teknik


Jakarta, CNN Indonesia

Para peneliti berhasil mengungkap cara membuat senjata laser berkekuatan tinggi seperti di semesta Star Wars.

Karya fiksi George Lucas itu sejak lama menampilkan ragam senjata laser, mulai dari pedang laser alias lightsaber yang digunakan para jedi dan lawannya, para darth; hingga tembakan laser kelas penghancur planet seperti yang dimiliki Death Star. 

Militer di beberapa negara sebetulnya telah menggunakan senjata bertenaga laser, seperti yang dipopulerkan Star Wars. Namun, senjata tersebut jauh lebih lemah dibandingkan yang terlihat di layar kaca dan hanya dapat melumpuhkan target kecil di udara.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cahaya pada senjata saat ini, yang tidak terlihat dengan mata telanjang, berasal dari serat optik mode tunggal yang mentransmisikan satu panjang gelombang cahaya, atau mode, melalui inti serat dan menghasilkan sinar terfokus.

Namun sulit untuk meningkatkan daya karena cahaya terbatas pada area yang kecil.

Serat optik multimode –yang mentransmisikan beberapa mode cahaya– jauh lebih beragam dan dapat meningkatkan kekuatan cahaya inframerah yang dipancarkan antara tiga hingga sembilan kali lipat.

Masalahnya, teknologi ini menghasilkan sinar yang kurang rapi dan tidak fokus, karena terpencar-pencar. Itu berarti, kekuatannya menghilang dengan cepat dalam jarak jauh.

Dalam makalah baru yang diterbitkan pada 19 November di jurnal Nature Communications, para ilmuwan menemukan solusi yang membatasi seberapa banyak cahaya yang tersebar dari serat multimode.

Secara teori, hal ini berarti militer dapat merancang laser yang berkekuatan cukup tinggi untuk membuat kerusakan signifikan dan cukup fokus untuk membentuk sinar yang halus dan sempit. Penelitian ini didanai oleh Angkatan Udara AS.

“Sinar laser berkualitas buruk akan berpencar dengan sangat cepat saat merambat. Oleh karena itu tidak dapat menyalurkan energi dalam jumlah terkonsentrasi ke target,” kata penulis utama Stephen Warren-Smith dan Linh Nguyen, peneliti di Future Industries Institute di Universitas South Australia, mengutip LiveScience.

“Kami memiliki cara untuk mengontrol sifat cahaya dalam serat tersebut sehingga muncul sebagai titik fokus yang dapat dideteksi dan berubah menjadi sinar sempit berkualitas tinggi,” lanjutnya.

Industri pertahanan telah mengembangkan laser tingkat militer selama bertahun-tahun dan berlomba-lomba untuk menerapkannya di dunia nyata.

Lockheed Martin, misalnya, mengumumkan rencananya membuat laser kelas 500 kilowatt yang dapat digunakan untuk sistem senjata energi terarah guna mempertahankan diri dari ancaman.

Tim di balik penelitian baru ini belum mengembangkan prototipe untuk senjata semacam itu.

Namun, laser apa pun yang dibuat dengan menggunakan cetak biru mereka mungkin cukup kuat untuk mengacaukan sistem navigasi musuh atau menyebabkan kerusakan termal yang signifikan pada kendaraan atau mesin.

Teknologi saat ini dapat menyerang sasaran kecil di udara dalam jarak dekat. Namun teknologi baru ini dapat digunakan pada target yang lebih luas.

“Sinar laser difokuskan pada target yang jauh selama beberapa detik, menyebabkan target meleleh atau terbakar. Sinar laser ini mungkin paling efektif untuk target kecil seperti drone dan mortir, namun berpotensi menargetkan sasaran yang lebih besar jika sistem kritis tertentu rusak, seperti sebagai sensor onboard atau elektronik,” tulis para peneliti.

Namun, ini tidak berarti teknologi tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan Death Star dalam waktu dekat. Sebaliknya, kemungkinan besar teknologi tersebut akan digunakan untuk menonaktifkan drone otomatis.

“Menghabiskan amunisi untuk menjatuhkan drone memerlukan biaya yang sangat mahal namun senjata laser menawarkan “peluru” yang hampir tidak terbatas, dengan listrik sebagai satu-satunya sumber energi masukan.” jelas para peneliti.

Selain digunakan dalam persenjataan, para peneliti berpendapat bahwa laser sekuat itu juga dapat digunakan dalam penginderaan jauh. Laser berkekuatan tinggi, misalnya, dapat menentukan kecepatan angin pada jarak yang lebih jauh dibandingkan metode konvensional.

Laser bertenaga tinggi juga penting untuk penelitian deteksi gelombang gravitasi dan peneliti berharap penemuan mereka dapat berperan dalam upaya penelitian di masa depan.

[Gambas:Video CNN]

(rfi/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com