Orang Tua Gampang Termakan Hoaks, Apa Usaha Kominfo?

Berbagai survei dan pakar mengungkap segmen usia yang paling gampang nyebar hoaks adalah orang tua. Cek usaha Kominfo menanganinya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkapkan cara agar warga +62 terhindar dari hoaks di media sosial termasuk Facebook adalah lewat program literasi digital.

“Kita kan ada literasi digital program yang dilakukan Kominfo. Saat ini sudah ada 22 juta data warga kami terakhir yang mengikuti program literasi digital,” tutur Menkominfo Budi Arie Setiadi di Forum Merdeka Barat, Jumat (3/11).

Studi yang dilakukan oleh peneliti di Princeston dan New York University mendapati penyebaran hoaks melalui unggahan Facebook tak terkait latar belakang pendidikan, jenis kelamin, dan pandangan politik. Faktor usia justru menjadi faktor utama penyebaran hoaks.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi yang melibatkan 3.500 responden pengguna Facebook di Amerika Serikat 2019 mendapati 11 persen pengguna berusia 65 tahun ke atas berbagi hoaks. Sementara, cuma 3 persen pengguna berusia 18-29 tahun menyebarkan informasi palsu.

Pengguna Facebook dari kalangan tua diketahui berbagi hoaks lebih dari dua kali lipat dari kelompok usia 45-65 tahun. Dibandingkan kelompok usia termuda 18-29 tahun, perbedaannya bisa mencapai tujuh kali lipat.

Penulis studi Andrew Guess mengungkap fakta tersebut menunjukkan hubungan kemampuan kalangan tua dalam mengontrol ideologi politiknya, lebih konservatif, lebih mudah mempercayai dan membagikan kembali berita yang dibacanya tanpa mengecek.

Budi pun mengimbau masyarakat agar memiliki etika dalam bermedia sosial sehingga mencerminkan masyarakat Indonesia yang santun.

Menurutnya, riset Microsoft beberpa tahu lalu menyebut Indonesia masuk dalam kategori negara yang tidak sopan dalam bermedia sosial.

Ia menjelaskan warganet di Indonesia banyak yang memiliki akun media sosial dengan identitas yang berbeda dengan aslinya. Walhasil, komentar dan sikap yang dilakukan cenderung serampangan.

“Banyak sekali akun sosial media bukan dengan identitas sendiri. Ini terbalik dengan dunia nyata orang Indonesia yang ramah santun, kok di ruang digital brutal sekali. Ternyata bukan pakai nama sendiri pakai akun nama lain,” tuturnya.

Menurutnya, digitalisasi membentuk digital culture sehingga sikap warga Indonesia yang ramah juga harus tercermin di jagat maya.

Tak hanya itu, pendidikan literasi digital juga harus diberikan kepada masyarakat oleh para akademisi dan pemuka agama, sehingga bisa mengimbau masyarakat untuk bersikap baik di medsos sebagai cerminan masyarakat Indonesia.

Kendati harus bersikap baik di media sosial, Budi juga menyoroti infrastruktur digital yang harus diperkuat. Pasalnya hal ini merupakan modal untuk berkompetisi dengan negara lain.



Sumber: www.cnnindonesia.com