Netizen Risau Penyalahgunaan Cap Wahabi, Singgung Buih di Lautan

Netizen mengkhawatirkan rekomendasi PBNU untuk menerbitkan aturan pelarangan ajaran Wahabi. Bukankah perbedaan itu mestinya direspons lebih dulu dengan dialog?

Jakarta, CNN Indonesia

Netzien risau rekomendasi Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) soal aturan yang melarang penyebaran ajaran Wahabi. Ada potensi jadi alat pembungkaman? 

“Lembaga Dakwah PBNU merekomendasikan kepada pemerintah (dalam hal ini Kemenkopolhukam, Kemenkumham, Kemendagri, dan Kemenag) untuk membuat dan menetapkan regulasi yang melarang penyebaran ajaran Wahabiyah,” bunyi rekomendasi eksternal, Kamis (27/10).

Mereka juga menyebut banyak kajian keislaman dan kegiatan keagamaan di masjid-masjid perkantoran diisi oleh penceramah berpaham Wahabi-Salafi.

Padahal, lembaga tersebut menilai kelompok penganut Wahabi kerap menuding bi’dah (tak sesuai ajaran awal Nabi Muhammad SAW) hingga mengkafirkan sesama penganut Islam di luar kelompok mereka.

“Jika hal tersebut dibiarkan, dikhawatirkan terjadi gesekan sosial, saling fitnah yang berakibat pada perpecahan, konflik sosial, munculnya kelompok yang menolak Pancasila dan NKRI, serta potensi kekerasan dan terorisme,” demikian bunyi rekomendasi LD PBNU itu.

Dikutip dari situs ensiklopedia Britannica, Wahabi merupakan ideologi keagamaan dari Arab Saudi hasil pemikiran Islam dari Muhammad bin Abdul Wahab.

Sosok ini pada intinya mengusung ide purifikasi atau pemurnian Islam ke bentuk asli sesuai teks Alquran dan Hadits. Dalam praktiknya, sejumlah pihak mengkritik penyebaran ajaran ini terlalu saklek dengan teks tanpa melihat konteks ayat. Kesan radikal pun muncul.

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj mengakui Wahabi memang tidak mengajarkan terorisme dan kekerasan. Namun, kata dia, paham itu selalu menganggap orang yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai kafir meski sesama muslim.

“Kalau kita benar-benar sepakat, benar-benar satu barisan ingin menghadapi, menghabiskan, menghabisi jaringan terorisme dan radikalisme, benihnya yang dihadapi, pintu masuknya yang harus kita habisi, apa? Wahabi! Ajaran Wahabi itu pintu masuknya terorisme,” ucap dia, pada 30 Maret 2021.

Senada, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menilai paham Wahabi dan Salafi tidak cocok dengan ajaran Islam di Indonesia.

“Dibangun dengan Wahabi Salafi, enggak cocok di kita [Indonesia],” ujar dia, dalam Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah ‘Menjaga Kedaulatan NKRI’, Kamis (21/4), “Boleh di sana. Karena hukum itu sesuai kebutuhan waktu, lokal dan tempatnya”.

Terlepas dari pandangan para tokoh itu, warganet merisaukan sejumlah hal terutama di tengah kondisi negara yang masih terpolarisasi dan rawan pembungkaman lawan politik.

Usai ramai pemberitaan LD PBNU, kata kunci ‘Wahabi’ pun masuk ke ranking 23 trending topic Indonesia dengan 6.096 kicauan per Jumat (28/10) pukul 19.46 WIB.

Akun @azrina97Mil mengakui ada penyimpangan dari ajaran Wahabi. Namun, ia meminta tak sembarangan untuk mencap pihak tertentu dengan label itu.

Berbenah diri lebih baik, dakwah yang benar, pakai hadist² shahih. Wahabi memang menyimpang, aqidahnya khawarij, dibawa oleh Abdul Wahab bin Rustum, wafat tahun 211 h, dah kelar.”

Tapi label wahabi itu janganlah disematkan sembarangan, pada orang yang tidak disukai,” kicau dia.

Senada, akun @arkham1818 risau dengan rekomendasi LD PBNU yang bisa berujung pelabelan bagi kelompok yang tak sejalan.

Ketika pelarangan itu disetujui maka selanjutnya arti Wahabi diartikan sesuai dg kepentingan sepihak, yg tidak cocok dan tidak sejalan dicap Wahabi, bukan di maknai sesuai ajaranya yg sebenarnya,” ucapnya.

Akun @panca_negara khawatir rekomendasi ini justru memecah belah masyarakat. 

Ini sebenernya siapa sih yang pemecah belah umat. Asal akidahnya sama knapa harus saling sikut,” cetusnya.

Apalagi, kata @a__ha_n_, belum ada kepastian definisi yang jelas antara Salafi dan Wahabi dalam rekomendasi itu.

Selama salafi dan wahabi (dengan definisi yg tak jelas) masih dianggap satu hal yg sama. Maka selama itu pula isu isu, fitnah sejenis akan subur untuk memecah belah umat,” ujar dia.

 Akun @cahyosetiadi menilai mestinya kaum yang dituding Wahabi ini “Harusnya diajak diskusi, dirangkul.

Alih-alih merisaukan kelompok tertentu yang ‘menguasai’ masjid, akun @pengguna_new menyarankan kaum Nahdliyin untuk memakmurkannya.

Masjid2 yg masyarakatnya mengaku NU malah diramaikan orang2 yg d sangka wahabi. Kalau tidak mau kalah jamaah ya gerakkan warganya yg mayoritas NU untuk makmurkan masjid,” kicau dia.

Ada lagi. Gak semua yg celana cantung, jidat hitam, baju gamis, jenggot panjang itu wahabi,” tambahnya.

https://twitter.com/pengguna_new/status/1585810429456314368

Jika terus begini, Akun @mabas39 menilai kondisi umat Islam bakal sejalan dengan prediksi Nabi Muhammad SAW, “banyak tapi bagai buih di lautan“.

(tim/arh)


[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com