Nadiem Akui Teknologi Tak Akan Gantikan Guru

Mendikbudristek Nadiem Makarim mengungkap peran penting transformasi teknologi buat pendidikan. Simak penjelasannya.


Jakarta, CNN Indonesia

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengungkap peran penting transformasi teknologi untuk kemajuan pendidikan.

Menurut Nadiem salah satu hal yang sangat penting mengenai transformasi teknologi adalah untuk bisa mengubah mindset hingga meningkatkan kompetensi guru-guru di Indonesia.

“Kami di Kemendikbudristek selalu meyakini peran teknologi sebagai enabler. Teknologi tidak akan menggantikan peran guru, tenaga pendidik, dan kepala sekolah,” kata Nadiem dalam acara perilisan laporan kajian dampak platform teknologi Kemendikbudristek yang digelar di Jakarta, Rabu (6/12).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Teknologi kita manfaatkan dalam dunia pendidikan untuk memaksimalkan potensi sumber daya manusia dalam mengakselerasi perubahan ke arah yang lebih baik,” ujarnya menambahkan.

Nadiem menceritakan bagaimana dampak transformasi teknologi membantu pendidikan di Indonesia. Salah satu yang paling terasa, kata dia, adalah Kurikulum Merdeka.

Menurut Nadiem, dalam waktu 18 bulan, 80 persen guru sudah mengadopsi Kurikulum Merdeka. Hal ini tak lepas dari kehadiran Platform Merdeka Mengajar (PMM).

Platform tersebut menghadirkan langkah-langkah yang membuat guru serta kepala sekolah untuk bereksperimentasi terkait pendidikan murid-muridnya.

“Dan ternyata itu hal yang mereka inginkan, jadi transisi itu jauh lebih mudah daripada dipaksa. Tapi tanpa teknologi itu tidak akan mungkin terjadi karena setiap guru yang mau melakukan perubahan dia enggak tahu caranya gimana tapi dengan ada PMM yang ada step, tutorial akan siap membantu,” jelasnya.

Dalam laporan berjudul “Peran Teknologi Dalam Transformasi Pendidikan di Indonesia” yang disusun Oliver Wyman, layanan konsultasi manajemen global, tren peningkatan penggunaan teknologi dalam sektor pendidikan diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan upaya negara-negara di seluruh dunia untuk terus mendorong reformasi pendidikan berbasis teknologi.

Laporan tersebut menyatakan bahwa teknologi memiliki potensi untuk mengatasi permasalahan dunia pendidikan dengan berbagai cara.

Selain itu, memberikan akses pendidikan berkualitas yang terjangkau dapat menjembatani kesenjangan yang dihadapi oleh kelompok yang kurang beruntung, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil.

Teknologi juga dapat meningkatkan pengalaman belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dengan menawarkan pilihan pembelajaran interaktif atau mandiri.

“Manfaat-manfaat ini berlaku bagi para guru maupun murid. Meski demikian, efektivitas teknologi tetap bergantung pada kesiapan sarana dan prasarana, permasalahan spesifik, dan tahap perkembangan sistem pendidikan di masing-masing negara,” tulis laporan tersebut.

“Beberapa kasus penggunaan teknologi telah mendapatkan pengakuan atas efektivitasnya pada berbagai konteks dan wilayah. Pemberdayaan guru melalui solusi berbasis teknologi merupakan salah satu contoh kasus dengan hasil yang paling menjanjikan,” lanjutnya.

Sebelumnya, fenomena kecerdasan buatan (AI) makin menyebar di kalangan institusi pendidikan di tengah kerisauan plagiarisme. Buktinya, traffic ChatGPT naik saat musim sekolah dan sebaliknya.

Ada pula institusi pendidikan mengakui yang bahkan menerapkannya dalam pengajaran. Misalnya, Rektor Binus University Dr Nelly mengatakan AI jadi kurikulum wajib di kampusnya.

[Gambas:Video CNN]

(tim/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com