Mungkinkah Jakarta Tenggelam 2030-an seperti Prediksi Presiden AS?

Presiden AS Joe Biden sempat melontarkan hipotesis soal RI pindah ibu kota dekade berikutnya imbas Jakarta tenggelam. Simak data ilmiahnya.


Jakarta, CNN Indonesia

Para ilmuwan mengungkapkan Jakarta berpotensi tenggelam beberapa puluh tahun lagi imbas kombinasi berbagai faktor, termasuk pemanasan global dan penurunan tanah.

Pada 2021, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, sempat melontarkan ‘ramalan’ RI memindahkan ibu kotanya imbas tenggelamnya Jakarta. 

Hal itu disoroti saat membahas ancaman terbesar yang dihadapi Amerika, yakni perubahan iklim.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Faktanya, jika permukaan laut naik 2,5 kaki (76,2 cm) lagi, jutaan orang akan bermigrasi dan berebut tanah yang subur,” ujar Biden, dalam pidato di acara National Counterterrorism Center Liberty Crossing Intelligence Campus McLean, Virginia, 27 Juli 2021, dikutip dari situs Gedung Putih.

“Apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksi [kenaikan air laut]-nya benar, bahwa dalam 10 tahun ke depan mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?” lanjut dia.

Menurut lembaga antariksa AS (NASA), berdasarkan pengukuran satelit, kenaikan permukaan air laut secara global sejak 1993 hingga 2 Mei 2022 mencapai 101,2 mm (10,1 cm), atau 3,3 mm per tahun.

Kenaikan muka laut itu diperparah oleh faktor perluasan air laut saat memanas, yang juga terkait pemanasan global.

“Ekspansi termal air” itu terjadi ketika air menjadi lebih hangat yang menyebabkan volume air meningkat. NASA menyebut sekitar setengah dari kenaikan permukaan laut global berasal dari faktor ini.

Penurunan tanah lebih ngefek

Untuk Indonesia dan negara-negara kepulauan, salah satu indikator kuat tenggelamnya wilayah pesisir adalah banjir rob yang makin sering. Bencana ini terjadi saat air laut pasang naik masuk jauh ke wilayah daratan hingga menggenangi permukiman pesisir.

Banjir rob terbesar yang pernah menerpa DKI adalah yang terjadi di 20 titik pada 2007. Pakar menyebut itu lebih disebabkan oleh penurunan muka tanah ketimbang kenaikan muka air laut.

Pakar Geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mengungkapkan kenaikan air laut sejauh ini 6 mm-1 cm per tahun. Data ini didapat berdasarkan pengukuran satelit altimetri selama 20 tahun.

“Berarti 100 tahun baru tuh 1 meter. Itu berarti naik pelan. Tadi ada yang bilang, [banjir rob] ini akibat dari global warming, sea level rise, itu terbantahkan. Tidak berkontribusi signifikan terhadap banjir rob di Jakarta,” papar dia, dalam wawancaranya dengan CNNIndonesia.com pada 2021.

Heri pun beranggapan faktor signifikan yang membuat Jakarta makin cepat tenggelam adalah penurunan muka tanah. Faktor ini membuat sekitar 20 persen wilayah DKI berada di bawah permukaan laut.

Untuk membuktikannya, Heri dan tim memakai global positioning system (GPS) untuk mengukur ketinggian daratan terhadap permukaan laut di titik yang sama secara berulang. Hasilnya, penurunan rata-rata mencapai 10 cm per tahun.

“Saya sudah 20 tahun mengukur di Jakarta, di titik koordinat yang sama, ternyata tingginya berubah,” kata Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB itu.

“Ternyata penurunan [tanah]-nya ada yang sampai 10 cm per tahun, bahkan 20 cm per tahun. Dalam 10 tahun udah 1 meter. Kemudian kalau 100 tahun akan ada penurunan 10 meter. Inilah yang paling signifikan sebagai penyebab banjir rob. Karena kan tanah turun terus, lama-lama di bawah laut,” urai Heri.




Infografis Peta Proyeksi Jakarta Tenggelam. (Basith Subastian/CNNIndonesia)

Beberapa penelitian, termasuk dari ilmuwan di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, yang sekarang diambil Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robert Delinom pun mengungkap permukaan tanah Jakarta Utara setidaknya turun 75 cm 30 tahun lagi.

Dengan kata lain, 2050 makin banyak wilayah Jakarta tenggelam.

Apa yang memicu penurunan muka tanah Jakarta itu?

Heri menyebut ada beberapa faktor, seperti beban dari bangunan, aktivitas tektonik, pengambilan air tanah yang berlebihan, hingga pemadatan tanah atau kompaksi secara alamiah.

Menurut perhitungannya, faktor-faktor di luar pengambilan air tanah berkontribusi kecil.

Juru Bicara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Endra S. Atmawidjaja sepakat dengan para pakar bahwa penurunan muka tanah ini akibat kontribusi dari eksploitasi air tanah.

“Ada eksploitasi pengambilan air tanah yang berlebihan yang sudah berpuluh-puluh tahun untuk konsumsi masyarakat dan itu yang penyebabnya. Selain faktor lain yaitu sea level rise akibat perubahan iklim,” paparnya, beberapa waktu lalu.

(tim/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com