Microsoft Diduga Sedot Data Google Chrome, Pakar Ungkap Sebabnya

AI Bing


Jakarta, CNN Indonesia

Microsoft Edge, peramban alias browser milik Microsoft, dilaporkan mengambil data Google Chrome penggunanya tanpa izin.

Tom Warren, editor senior dan pakar IT, curhat data-data juga tab yang dibukanya di Google Chrome ‘diambil’ Microsoft Edge. Dia mengaku menggunakan Google Chrome sebagai browser default, sedangkan Microsoft Edge hanya digunakan sesekali.

“Dengan mata kabur pada jam 9 pagi, saya butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa Microsoft Edge baru saja mengambil alih apa yang saya tinggalkan di Chrome,” ujar Warren dalam tulisannya di The Verge.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia berkata tidak pernah mengimpor data ke Microsoft Edge dan tidak mengonfirmasi apa ingin mengimpor tab.

Warren mencari tahu dengan memeriksa pengaturan di Microsoft Edge yang selalu mengimpor data dari Google Chrome tiap kali diakses.

Pengaturan “Always have access to your recent browsing data each time you browse on Microsoft Edge” dimatikan.

Kemudian ia mencoba memasang pembaruan Windows tapi gagal dan harus melakukan pemulihan sistem. Ketika sudah selesai, Edge malah terbuka otomatis dengan semua tab yang terbuka di Chrome.

Warren meminta tanggapan dari Microsoft tapi sampai tulisan diterbitkan, mereka belum memberikan respons.

Akan tetapi cuitannya di X menuai respons dari berbagai pihak termasuk Zach Edwards, peneliti privasi dan pasokan rantai data.

“Dia telah menemukan prompt baru selama pengaturan yang berbunyi: Dengan konfirmasi Anda, Microsoft Edge akan secara teratur memasukkan data dari browser lain yang tersedia di perangkat Windows Anda. Data ini mencakup favorit Anda, riwayat penelusuran, cookie, data isi otomatis, ekstensi, pengaturan, dan data penelusuran lainnya,” kata Warren.

Dari sini, Microsoft menyebut import data selesai secara lokal dan disimpan secara lokal. Namun data akan dikirim ke Microsoft jika pengguna masuk dan menyinkronkan data penjelajahan.

Akan tetapi, pengguna hanya disodorkan tombol biru besar yang mendorong mereka untuk mengaktifkan fitur itu. Kalau tidak setuju, hanya ada tombol ‘Not Now’ yang lebih gelap.

Menurut Warren, konsumen tidak selalu memahami dengan jelas apa yang mereka ubah.

“Microsoft memiliki sejarah dalam menggunakan taktik yang pernah kita lihat dari pengembang bloatware dan spyware untuk mempromosikan browser webnya.”

Sementara itu, Warren menemukan dirinya tidak sendirian mengalami hal ini. Beberapa pengguna Windows sudah melapor selama berbulan-bulan, lalu beralih ke Reddit dan forum dukungan Microsoft untuk mendapatkan bantuan.

“Microsoft Edge sebenarnya bagus, jadi saya berharap tim yang membangunnya tidak menggunakan lebih banyak trik untuk membuat pengguna Chrome menggunakannya,” kata Warren.

(els/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com