Meta Sembunyikan Konten Bunuh Diri dari Akun Remaja

Meta merilis AI yang mampu menerjemahkan dan menyalin hampir 100 bahasa, alternatif baru Google Translate.


Jakarta, CNN Indonesia

Meta merilis upgrade fitur keselamatan remaja buat pengguna Facebook dan Instagram, di antaranya berupa pembatasan konten dan menyembunyikan hasil pencarian untuk istilah-istilah yang berkaitan dengan bunuh diri dan menyakiti diri sendiri.

“Kami ingin remaja mendapatkan pengalaman yang aman dan sesuai usia di aplikasi kami. Kami telah mengembangkan lebih dari 30 alat dan sumber daya untuk mendukung remaja dan orang tua mereka,” kata Meta dalam unggahan blognya, Selasa (9/1).

Pengumuman pada Selasa (9/1) tersebut muncul setelah Meta dalam beberapa bulan terakhir menghadapi pengawasan atas potensi dampaknya terhadap pengguna remaja.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada November, mantan karyawan Facebook yang kini menjadi pelapor, Arturo Bejar, mengatakan kepada sub-komite Senat dalam sebuah dengar pendapat bahwa para eksekutif puncak Meta, termasuk CEO Mark Zuckerberg, mengabaikan peringatan selama bertahun-tahun.

Yakni, mengenai bahaya yang ditimbulkan terhadap remaja di platformnya seperti Instagram. Bejar menyuarakan keprihatinan khusus tentang pelecehan seksual terhadap remaja oleh orang asing di Instagram.

Pada bulan yang sama, dokumen pengadilan yang tidak disegel dalam sebuah gugatan terhadap Meta mengungkapkan dokumen internal perusahaan yang menunjukkan Zuckerberg berulang kali menggagalkan inisiatif keselamatan remaja.

Melansir CNN, dokumen pengadilan yang dibuka dalam gugatan terpisah beberapa pekan kemudian menuduh Meta dengan sengaja menolak untuk menutup sebagian besar akun milik anak-anak di bawah usia 13 tahun, sambil mengumpulkan informasi pribadi mereka tanpa persetujuan orang tua.

Selain itu, Jaksa Agung New Mexico mengajukan gugatan lain terhadap Meta pada Desember, menuduh perusahaan tersebut menciptakan “tempat berkembang biak” bagi predator anak.

Berbagai tekanan baru ini muncul sekitar dua tahun setelah pelapor kasus Facebook lainnya, Frances Haugen, merilis sejumlah dokumen internal yang menimbulkan pertanyaan tentang penanganan perusahaan terhadap keselamatan pengguna muda di platform tersebut.

Dokumen-dokumen tersebut, yang dikenal sebagai “Facebook Papers,” memicu protes dari anggota parlemen dan masyarakat serta mendorong upaya Meta dan platform sosial lainnya untuk meningkatkan perlindungan mereka bagi pengguna remaja.

Tetap izinkan

Dalam unggahan blog tersebut, Meta mengaku masih “mengizinkan orang untuk berbagi konten yang membahas perjuangan mereka melawan bunuh diri, tindakan menyakiti diri sendiri, dan gangguan makan.”

Namun, kata mereka, “Kebijakan kami bukanlah untuk merekomendasikan konten ini dan kami berfokus pada cara untuk membuat konten tersebut lebih sulit ditemukan.”

Meta mengatakan akan mulai menyembunyikan “konten yang tidak sesuai dengan usia” seperti postingan yang membahas tentang melukai diri sendiri dan gangguan makan, ketelanjangan, atau barang-barang terlarang dari feed dan Stories pengguna usia remaja, bahkan jika dibagikan oleh seseorang yang mereka ikuti.

“Sekarang, kami akan mulai menghapus jenis konten semacam ini dari pengalaman remaja di Instagram dan Facebook, serta jenis konten lain yang tidak sesuai usia,” kata Meta.

Meta menambahkan bahwa mereka akan menempatkan semua remaja yang menggunakan Facebook dan Instagram ke dalam pengaturan rekomendasi konten yang paling ketat, yang membuatnya lebih sulit untuk menemukan konten yang berpotensi sensitif dalam pencarian atau penjelajahan, secara default.




(Foto: CNN Indonesia/Fajrian)

[Gambas:Video CNN]

(lom/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com