Menkominfo Ungkap Cara Agar Internet Indonesia Makin Ngebut

Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi membocorkan kisi-kisi regulasi soal kecerdasan buatan yang bakal segera hadir di RI.


Jakarta, CNN Indonesia

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Ari Setiadi mengungkap sejumlah hal yang dapat memperbaiki kecepatan internet di Indonesia. Simak penjelasannya.

Budi menjelaskan meningkatkan kecepatan koneksi internet di Indonesia merupakan kebutuhan. Terlebih, saat ini kecepatan internet Indonesia masih kalah jauh dari negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, yakni berada di peringkat ke-9 dari 11 negara yang ada.

“Berdasarkan data per bulan Desember 2023, kecepatan internet mobile Indonesia hanya mencapai 24,96 Mbps. Sedangkan untuk jaringan fixed broadband 27,87 Mbps. Maka kita berembuk bersama dan menemukan solusi konkret untuk mengatasi permasalahan ini,” ujar Budi, mengutip Antara, Jumat (26/1).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Budi ada tiga aspek penting yang dibutuhkan untuk meningkatkan kecepatan akses internet di Indonesia, yakni melalui kesehatan industri, kualitas dan perluasan layanan, serta pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data Direktorat Telekomunikasi Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo di 2023, tarif efektif layanan data melalui jaringan bergerak seluler (mobile broadband) turun secara signifikan setiap tahun, dengan rata-rata tingkat penurunan setiap tahun (CAGR) periode 2017-2023 sebesar 17,72 persen.

Menurut dia proporsi beban biaya dibandingkan pendapatan pada operator seluler pada periode Q2 2023 berada pada kisaran 70-106 persen.

“Sehingga kecil peluang bagi operator seluler untuk menurunkan lagi tarif mobile broadband seperti periode-periode sebelumnya. Penerapan tarif ke depan perlu mempertimbangkan capex (Capital Expenditure) untuk penggelaran 5G yang besarnya beberapa kali lipat dari capex 4G,” kata dia mencetuskan salah satu solusi.

Untuk memperbaiki kualitas dan perluasan layanan, ia menyebut perlu investasi capex yang mencukupi.

Sementara, menurutnya pembiayaan untuk capex tergantung pada profibilitas dan model pembiayaan lain yang menjadi beban operator.

“Makin besar permintaan layanan dari pengguna diperlukan upaya untuk mengurangi beban operator agar dapat memperbaiki dan memperluas layanannya,” ujar dia.

Dari aspek pertumbuhan ekonomi, Budi menyampaikan tantangan yang industri hadapi.

Ia mengutip data International Telecommunication (ITU) di 2022 yang menunjukkan persentase tarif mobile broadband Indonesia tetap Gross National Income (GNI) per kapita sebesar 1,1 persen dengan tarif untuk mobie broadband sebesar 2GB bernilai 3,78 dollar AS.

Sedangkan tarif fixed broadband terhadap GNI per kapita sebesar 6,13 persen dengan tarif untuk fixed broadband berkecepatan 20 Mbps senilai 20,79 dollar AS.

“Hal ini berarti jika biaya yang dialokasikan masyarakat untuk membeli layanan broadband makin tinggi persentasenya, maka semakin sulit masyarakat mendapatkan layanan broadband atau harga tidak terjangkau masyarakat.

(Antara/dmi)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com