Mengenal MJO, Aktivitas Cuaca yang Sebabkan Curah Hujan Tinggi Januari

BMKG mengungkapkan dua hal yang menyebabkan intensitas hujan menurun di beberapa wilayah di Pulau Jawa pada momen Tahun Baru 2023.

Jakarta, CNN Indonesia

Aktivitas Madden Julien Oscillation (MJO) menjadi salah satu penyebab hujan masih cukup tinggi hingga akhir Januari. Apakah yang dimaksud MJO tersebut?

Sebelumnya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto seperti dikutip Antara, Sabtu (28/1) menuturkan, ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap curah hujan yang masih tinggi paling tidak hingga sepekan ke depan.

Salah satu faktor tersebut adalah Maden Julien Oscillation (MJO). Sementara, empat faktor lain adalah bibit siklon tropis 90 B, dan 94 S, perlambatan angin dan belokan angin di sekitar wilayah Indonesia, dan Monsun Asia dan aliran lintas ekuator.

“Kondisi tersebut dapat berkontribusi meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan potensi cuaca signifikan dalam sepekan ke depan,” ujarnya.

Menurut situs BMKG, MJO merupakan “aktivitas intra seasonal yang terjadi di wilayah tropis yang dapat dikenali berupa adanya pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang biasanya muncul setiap 30 sampai 40 hari”

Sementara itu, menurut Badan Meteorologi Britania Raya (Met Office), MJO pertama kali ditemukan pada 1971 oleh Roland Madden dan Paul Julian dari American National Centre for Atmospheric Research (NCAR).

Keduanya menemukan MJO saat sedang mempelajari angin tropis dan pola tekanan Mereka menemukan osilasi teratur di dalam angin antara Singapura dan Kepulauan Kanton di wilayah barat ke tengah khatulistiwa.

Aktivitas MJO dimulai pertama kali lewat hujan yang muncul di wilayah barat Samudra Hindia, yang kemudian menyebar hingga ke timur ke wilayah dengan perairan yang lebih hangat di area Pasifik tropis.

Pola hujan tropis itu cenderung kehilangan identitasnya saat bergerak di atas perairan yang lebih dingin di sebelah timur Pasifik, sebelum muncul kembali di titik tertentu di atas Samudra Hindia.

Fase basah peningkatan konveksi (curah hujan) lalu diikuti dengan fase kering, di mana aktivitas badai petir ditekan (tidak ada hujan). Setiap siklus berlangsung kurang lebih 30-60 hari dan terdapat 8 fase.

Delapan fase tersebut

Fase 1: Peningkatan konveksi (curah hujan) berkembang di atas Samudra Hindia sebelah barat

Fase 2-3: Peningkatan konveksi (curah hujan) bergerak secara perlahan ke arah timur di atas Afrika, Samudra Hindia, dan beberapa area di subkontinen Hindia.

Fase 4-5: Peningkatan konveksi (curah hujan) mencapai kontinen maritim seperti Indonesia dan sebelah barat Pasifik.

Fase 6-7-8: Peningkatan konveksi (curah hujan) bergerak lebih jauh ke timur ke arah barat Pasifik dan berakhir di tengah Pasifik untuk memulai lagi fase MJO berikutnya.

Dampak MJO ke Cuaca di Dunia

Aktivitas MJO ini berdampak kepada cuaca di seluruh dunia yaitu

MJO memicu kondisi yang sesuai untuk aktivitas siklon tropis yang membuat MJO penting untuk dimonitor selama musim badai topan Atlantik.

Peningkatan (konveksi) curah hujan di fase MJO juga dapat membawa serangan musim hujan di seluruh dunia. Sebaliknya, penekanan fase konveksi itu bisa menunda serangan musim hujan tersebut.

MJO juga memengaruhi siklus El Nino Southern Oscillation (ENSO). MJO tidak menyebabkan El Nino atau La Nina, tetapi dapat berkontribusi terhadap percepatan perkembangan dan intensitas episode kedua fenomena tersebut.

MJO juga dapat memengaruhi serangan Sudden Stratospheric Warming (SSW), yakni penghangatan tiba-tiba pada stratosfer.

[Gambas:Video CNN]

(lth/lth)






Sumber: www.cnnindonesia.com