Mengenal El Nino yang Diprediksi Bikin Pecah Rekor Panas Dunia

Apa itu El Nino yang diprediksi membuat rekor panas dunia pecah dalam dua tahun ke depan?

Jakarta, CNN Indonesia

Fenomena El Nino diprediksi membuat rekor panas global pecah tahun ini atau 2 tahun lagi. Simak penjelasan soal fenomena cuaca itu.

Ilmuwan dari Copernicus Climate Change Service Uni Eropa Carlo Buontempo belum bisa memastikan secara detail soal waktu kedatangan El Nino itu.

“Apakah ini akan terjadi pada tahun 2023 atau 2024 belum diketahui, tetapi, menurut saya, lebih mungkin terjadi daripada tidak,” ujar dia, dikutip dari Reuters, Kamis (20/4).

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati juga menjelaskan pada tahun ini fenomena cuaca di Indonesia berpotensi dominan El Nino.

Dalam setidaknya dua tahun terakhir, RI mendapat efek La Nina yang membuat musim kemarau RI jadi basah.

“Kita harus siap bahkan ada peluang menjadi El Nino lemah, meskipun lemah artinya ada pergerakan masa basah ke Asia Pasifik artinya kemarau lebih kering,” kata Dwikorita, Jumat (27/1).

Sementara, katanya, dalam enam bulan ke depan BMKG memprediksi sifat hujan bulanan di 2023 relatif menurun dibanding tiga tahun terakhir.

Kendati demikian, Dwikorita menjelaskan, berdasarkan catatan sejarah fenomena El Nino di Indonesia, fenomena itu berlangsung pendek hingga Juni atau Agustus.

Dodo Gunawan, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, menambahkan El Nino lemah punya peluang 50 persen hadir pada Juni hingga Agustus.

“Dampak kekeringan ya. Ini curah hujan berkurang. Kita harus mengantisipasi kekeringan, tapi insyaallah enggak panjang, Oktober semoga sudah selesai,” imbuhnya.

Kering dan basah ekstrem

Dikutip dari situs Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat, El Nino terjadi karena pemanasan Suhu Muka Air Laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.

Pemanasan ini menyebabkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah sehingga mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia.

“Singkatnya, El Nino memicu terjadinya kondisi kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum,” demikian keterangan BMKG NTB.

Sementara, kebalikan El Nino adalah fenomena La Nina. Itu terjadi saat SML di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normal.

Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

Dikutip dari buku berjudul ‘Tanya Jawab: La Nina, El Nino dan Musim di Indonesia‘ di situs BMKG, fenomena El Nino dan La Nina itu terkait dengan posisi Indonesia di antara Benua Asia dan Australia serta Samudra Hindia dan Pasifik.

“Pertukaran massa udara serta interaksi atmosfer dan laut yang terjadi di wilayah tersebut berpengaruh terhadap iklim Indonesia,” menurut buku itu.

Kedua fenomena ini terkait erat dengan interaksi atmosfer dan laut yang terjadi di Samudera Pasifik dan menjadi climate driver di Indonesia, yakni El Nino – Southern Oscillation (ENSO).

ENSO terbagi dalam dua kejadian, yaitu fase dingin (La Nina) dan fase hangat (El Nino).

“La Nina dan El Nino dapat menyebabkan musim kemarau dan musim hujan di Indonesia bersifat lebih basah atau lebih kering.”

Friederike Otto, dosen senior di Grantham Institute pada Imperial College London, menyebut suhu yang dipicu El Nino dapat memperburuk dampak perubahan iklim yang sudah dialami sejumlah negara, termasuk gelombang panas yang parah, kekeringan, dan kebakaran hutan.

Percepatan masa kemarau yang dipicu oleh El Nino ini dapat menyebabkan cuaca ekstrem akibat fase transisi yang tidak wajar.

“Jika El Nino terus berkembang, ada kemungkinan besar 2023 akan lebih panas ketimbang 2016 – mengingat dunia terus menghangat karena manusia yang terus membakar bahan bakar fosil,” cetusnya.

Sebelumnya, para pakar mewanti-wanti soal pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil berlebih, seperti BBM dan batu bara, hingga penggunaan gas-gas perusak ozon.

(pan/arh)





Sumber: www.cnnindonesia.com