Matahari Buatan Terbesar Hingga Bukti Arkeologis Yesus

Teknologi yang dijuluki Matahari buatan ini digadang-gadang bakal menjadi jawaban atas kebutuhan energi manusia di masa depan.
Jakarta, CNN Indonesia

Sejumlah isu mengenai teknologi, sains, hingga iklim mencuat sepanjang pekan ini. Simak deret kabar yang menjadi sorotan pada periode ini.

Salah satu isu yang paling populer selama sepekan terakhir adalah soal bukti arkeologis Yesus Kristus hingga penelusuran para arkeolog untuk mencari bukti-bukti tersebut.

Tidak hanya itu, isu mengenai Matahari buatan terbesar yang berada di Jepang juga menarik perhatian pembaca selama satu pekan terakhir. Kemudian, ada juga artikel mengenai penyebar pertama narasi kebencian etnis Rohingya yang menyeruak di media sosial.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Debat pertama calon presiden juga tak ketinggalan. Analisis mengenai siapa capres yang paling banyak dibicarakan di media sosial juga masuk dalam berita populer pekan ini. Berikut rangkuman berita tekno sepekan:

Bukti arkeologi Yesus Kristus

Bukti arkeologi soal siapa sebenarnya sosok dan asal usul Yesus Kristus diakui belum begitu lengkap. Namun, setidaknya namanya dikenal dalam catatan sejarah di luar kitab suci.

Para arkeolog telah bertahun-tahun menggali untuk mencari bukti nyata bahwa Yesus pernah ada. Masalahnya, tidak ada bukti fisik atau arkeologis yang pasti tentang keberadaan Yesus.

“Tidak ada yang konklusif, dan saya juga tidak berharap akan ada,” kata Lawrence Mykytiuk, seorang profesor ilmu perpustakaan di Purdue University dan penulis artikel Biblical Archaeology, mengutip The History.

Sementara itu, profesor studi agama dari Universitas North Carolina, Bart D. Ehrman, mengatakan kenyataannya adalah sampai saat ini tidak ada catatan arkeologi untuk hampir semua orang yang hidup pada masa dan tempat Yesus.

Namun, kurangnya bukti tidak berarti bahwa sosok Yesus tidak pernah ada.

Matahari buatan terbesar

Reaktor fusi nuklir eksperimental terbesar di dunia yang beroperasi, JT-60SA, diresmikan di Jepang awal Desember 2023. Teknologi yang dijuluki Matahari buatan ini digadang-gadang bakal menjadi jawaban atas kebutuhan energi manusia di masa depan.

Tujuan dari reaktor JT-60SA adalah untuk menyelidiki kelayakan fusi sebagai sumber energi bersih yang aman, berskala besar, dan bebas karbon – dengan lebih banyak energi yang dihasilkan daripada yang digunakan untuk memproduksinya.

Mesin setinggi enam lantai, di hanggar di Naka, utara Tokyo, terdiri dari tempat “tokamak” berbentuk donat yang berisi plasma berputar dan dipanaskan hingga 200 juta derajat Celcius.

JT-60SA ini merupakan proyek gabungan Uni Eropa dan Jepang, dan merupakan cikal bakal dari proyek saudaranya di Prancis, International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER) yang masih dalam tahap konstruksi, mengutip AFP.

Tujuan akhir dari kedua proyek ini adalah untuk membujuk inti hidrogen di dalamnya agar menyatu menjadi satu elemen yang lebih berat, helium, melepaskan energi dalam bentuk cahaya dan panas, dan meniru proses yang terjadi di dalam Matahari.

Penyebar narasi kebencian Rohingya

Merujuk laporan yang didapat CNNIndonesia.com dari salah satu sumber PBB, narasi kebencian mengenai pengungsi Rohingya dimulai sejak 21 November.

Total ada empat unggahan dari akun Instagram @UNinIndonesia mendapat serangan komentar kebencian mengenai Rohingya.

“Bahkan unggahan lain (non-Rohingya) di akun @UNinIndonesia juga mendapat komentar negatif terkait Rohingya, karena unggahan sebelumnya dikolaborasikan dengan @UNHCRIndonesia dan @UNHCRIndonesia telah menonaktifkan komentar,” tulis laporan itu, dikutip Selasa (12/12).

Menurut laporan itu, ada 17.380 komentar mengenai Rohingya dan 91 persen di antaranya adalah komentar kebencian.




Foto: CNNIndonesia
Rekor-rekor ‘Neraka Bocor’ di 2023

Hujan meteor geminid di halaman selanjutnya…




Sumber: www.cnnindonesia.com