Matahari Buatan Terbesar di Dunia Resmi Nyala, Berapa Biaya Bikinnya?

Matahari buatan yang berupa reaktor fusi nuklir eksperimental JT-60SA, resmi menyala di Jepang. Berapa biaya yang dihabiskan untuk proyek itu?


Jakarta, CNN Indonesia

Matahari buatan yang berupa reaktor fusi nuklir eksperimental JT-60SA, resmi menyala di Jepang. Berapa biaya yang dihabiskan untuk membuat Matahari buatan terbesar di dunia itu?

JT-60SA adalah perangkat fusi yang dihasilkan dari perjanjian internasional di bidang sains antara Eropa dan Jepang, yang dikenal sebagai Broader Approach. Perangkat ini merupakan perangkat fusi yang paling kuat hingga saat ini, dengan menggunakan kurungan magnetik, untuk mempelajari operasi plasma.

Para pakar membuat reaktor fusi nuklir ini di sebuah hanggar di kawasan Naka, utara Tokyo. Mesin setinggi enam lantai ini terdiri dari tempat “tokamak” berbentuk donat yang berisi plasma berputar dan dipanaskan hingga 200 juta derajat Celcius.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proyek ini dimulai pada tahun 2007 dan rampung 2020 dengan berakhirnya perakitan. Sejak saat itu, serangkaian perbaikan teknis dilakukan untuk membuka jalan bagi operasi plasma pertama yang baru saja dimulai awal Desember ini.

Secara keseluruhan, sekitar 500 peneliti dari Eropa dan Jepang terlibat langsung dalam proyek perakitan Matahari buatan terbesar di dunia ini. Selain itu, lebih dari 70 suplier berkontribusi dalam membuat komponennya, mengutip laman resmi Fusion for Energy, Kamis (14/12).

Dalam keterangan Fusion for Energy, proyek ini menghabiskan biaya di kisaran 560 juta Euro (sekitar Rp9,5 triliun) hanya untuk tahap konstruksi. Biaya tersebut dibagi antara Eropa dan Jepang.

Sebesar 80 persen dari kontribusi Eropa disediakan oleh kontributor sukarela, sementara 20 persen sisanya oleh F4E, yang didanai langsung oleh anggaran Uni Eropa.

Selama fase operasi, mulai tahun 2020, kontribusi Eropa sejauh ini, diperkirakan berada di kisaran 75 juta EUR (Rp1,2 triliun) dalam nilai saat ini, secara langsung disediakan oleh anggaran Uni Eropa. F4E telah menyediakan 80 persen dari kontribusi Eropa, sedangkan 20 persen sisanya berasal dari EUROfusion untuk pasokan perangkat keras.

Sebelumnya, reaktor fusi nuklir eksperimental terbesar di dunia yang beroperasi, JT-60SA, diresmikan di Jepang awal Desember 2023. Teknologi yang dijuluki Matahari buatan ini digadang-gadang bakal menjadi jawaban atas kebutuhan energi manusia di masa depan.

Tujuan dari reaktor JT-60SA adalah untuk menyelidiki kelayakan fusi sebagai sumber energi bersih yang aman, berskala besar, dan bebas karbon – dengan lebih banyak energi yang dihasilkan daripada yang digunakan untuk memproduksinya.

Mesin setinggi enam lantai, di hanggar di Naka, utara Tokyo, terdiri dari tempat “tokamak” berbentuk donat yang berisi plasma berputar dan dipanaskan hingga 200 juta derajat Celcius.

JT-60SA ini merupakan proyek gabungan Uni Eropa dan Jepang, dan merupakan cikal bakal dari proyek saudaranya di Prancis, International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER) yang masih dalam tahap konstruksi.

Tujuan akhir dari kedua proyek ini adalah untuk membujuk inti hidrogen di dalamnya agar menyatu menjadi satu elemen yang lebih berat, helium, melepaskan energi dalam bentuk cahaya dan panas, dan meniru proses yang terjadi di dalam Matahari.

Para peneliti di ITER, yang mengalami kelebihan anggaran, terlambat dari jadwal dan menghadapi masalah teknis besar, berharap dapat mencapai tujuan utama teknologi fusi nuklir, yaitu energi bersih.

(tim/dmi)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com