Makin Gawat, Es Laut Antartika Seluas Argentina Menghilang

Rekor masalah iklim mengerikan kembali terjadi di tengah gelombang panas yang sedang melanda bumi, tepatnya di Benua Antartika.

Jakarta, CNN Indonesia

Rekor masalah iklim mengerikan kembali terjadi di tengah gelombang panas yang sedang melanda bumi, tepatnya di Benua Antartika.

Es laut Antartika disebut telah mencair ke level terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya disepanjang tahun ini. Peneliti menyebut es laut Antartika seharusnya terbentuk kembali selama musim dingin, tapi tahun ini para ilmuwan mengamati sesuatu yang berbeda.

Es laut ini belum kembali mendekati level yang diharapkan.

Pada pertengahan Juli, tercatat es laut Antartika dengan area mencapai 2,6 juta kilometer persegi mencair. Itu merupakan area yang hampir seluas Argentina atau daerah gabungan mulai Texas, California, New Mexico, Arizona, Nevada, Utah, dan Colorado.

Fenomena ini telah digambarkan beberapa ilmuwan sebagai sesuatu yang luar biasa dan sangat langka, sehingga kemungkinan hanya terjadi sekali dalam jutaan tahun.

Antartika merupakan benua terpencil, tidak seperti Arktik, di mana es laut secara konsisten dapat mencair dari rekor tertinggi ke terendah dalam beberapa dekade terakhir. Para ilmuwan mulai mengamati tren penurunan es yang tajam di Antartika sejak 2016.

Banyak ilmuwan mengatakan perubahan iklim yang terjadi di bumi mungkin menjadi pendorong utama hilangnya es.

“Sistem Antartika selalu sangat bervariasi. Namun, tingkat variasi [saat ini] sangat ekstrim sehingga sesuatu yang radikal telah berubah dalam dua tahun terakhir,” kata Ted Scambos, seorang ahli glasiologi di University of Colorado Boulder mengutip CNN, Minggu (30/7).

Beberapa faktor turut diurai Scambos yang disebut bisa menyebabkan hilangnya es laut, termasuk kekuatan angin barat di sekitar Antartika. Ini juga sering dikaitkan dengan peningkatan polusi pemanasan planet.

Menurutnya kejadian musim dingin yang belum pernah terjadi sebelumnya juga mengindikasikan perubahan jangka panjang untuk benua yang terisolasi tersebut.

“Kemungkinan besar kami tidak akan melihat sistem Antartika pulih seperti yang terjadi, katakanlah, 15 tahun yang lalu, untuk waktu yang sangat lama di masa depan, dan mungkin ‘selamanya,” ucap Scambos.

(blq/bac)





Sumber: www.cnnindonesia.com