Kucing Bisa Bantu Bongkar Kejahatan, Sejenius Sherlock Holmes?

Kucing ternyata bisa digunakan untuk membantu penyelidikan sebuah kasus kriminal. Bagaimana tekniknya?

Jakarta, CNN Indonesia

Kucing ternyata bisa membantu penyelidikan sebuah kasus kriminal. Hal itu diperoleh lewat beberapa eksperimen yang dibuat para ahli.

Melansir ScienceAlert, bulu kucing ternyata dapat menyimpan DNA seseorang yang kontak dengannya. Itu artinya, meski kucing tidak bisa diinterogasi, ia mungkin bisa membantu penyelidikan sebuah kasus kriminal.

Studi ini merupakan yang pertama memeriksa apakah hewan peliharaan bisa membantu transfer DNA. Alhasil, masih ada banyak hal yang harus dilakukan.

Namun penelitian ini membawa sinyal positif kepada bukti forensik yang lebih komprehensif di masa depan. “Koleksi DNA manusia harus menjadi penting dalam sebuah investigasi peristiwa kriminal. Tetapi ada kekurangan data soal hewan pendamping semisal kucing atau anjing dalam hubungannya dengan transfer DNA manusia,” kata ilmuwan forensik, Heidi Monkman dari Flinders University, Australia.

“Hewan-hewan pendamping ini bisa sangat relevan alam menguji kehadiran atau aktivitas dari para penghuni sebuah rumah atau pengunjung yang baru saja datang,” katanya.

Monkman bersama koleganya, Maria Goray, seorang investigator kriminal berpengalaman, membentuk tim bersama ilmuwan forensik, Roland van Oorschot dari Victoria Police Forensic Services Department. Mereka lalu melihat apakah bisa mengekstraksi jejak DNA manusia dari kucing peliharaan.

Mereka lalu bereksperimen dengan 20 kucing dari 15 rumah. Di rumah para partisipan, ilmuwan ini lalu mengambil bulu di sisi kanan setiap kucing sebanyak dua kali.

Mereka lalu mengumpulkan contoh DNA dari kebanyakan orang yang berpartisipasi. Kemudian, bulu kucing dan DNA manusia diproses.

Sebagai tambahan, para pemilik juga diberi kuisioner tentang aktivitas harian kucing mereka. Salah satunya adalah seberapa sering kucing disentuh dan oleh siapa.

Hasilnya, para ahli ini menemukan ada 80 persen DNA menempel pada sampel bulu kucing. Untuk semua kucing yang diujicoba, tidak ada perbedaan signifikan soal banyaknya DNA, dan waktu terakhir mereka kontak dengan manusia, atau panjang bulu kucing tersebut.

Para ahli lalu menghasilkan profil DNA dari 70 persen kucing dalam studi ini, yang bisa diinterperetasikan dengan cukup baik untuk dikaitkan dengan seseorang. Kebanyakan DNA berasal dari orang-orang yang tinggal sama dengan kucing itu.

Dua kucing diketahui banyak menghabiskan waktu di tempat tidur seorang anak, yang DNA-nya tidak diambil untuk sampel. Sementara, DNA dari empat kucing lainnya tidak diketahui.

“Riset terhadap transfer DNA manusia dari dan ke kucing, beserta ketahanan DNA manusia di tubuh kucing dan pengaruhnya terhadap variasi level DNA yang ditemukan, masih dibutuhkan,” kata tim tersebut dalam artikel yang juga dipublikasikan di Forensic Science International: Genetics Supplement Series.

Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi analisa DNA telah menjadi sangat canggih, bahkan sebuah jejak dari materi genetik yang paling anyar bisa menjadi relevan untuk investigasi peristiwa kriminal. Pasalnya, manusia meninggalkan DNA mereka di mana-mana meski hanya kontak singkat dengan sebuah obyek.

DNA sentuh itu mungkin tak cukup kuat untuk mengindentifikasi seorang tersangka. Tetapi ia bisa digunakan untuk mendukung bukti-bukti yang lain atau menyaring para saksi.

Meski bernama DNA sentuh, seseorang sebetulnya tak perlu menyentuh sebuah permukaan untuk mentransfer DNAnya. Ia bisa ditransfer lewat beragam cara, dalam sel kulit atau rambut dari orang yang lalu-lalang, misalnya.

[Gambas:Video CNN]

(lth)






Sumber: www.cnnindonesia.com