KLHK Beber Emisi Karbon Dioksida RI Berkurang Drastis di 2022

Emisi karbon di 2022 tercatat mengalami pengurangan 42 persen dibandingkan Business as Usual. Simak penjelasan KLHK di COP28 berikut.


Dubai, CNN Indonesia

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkap tingkat emisi karbon di 2022 memang meningkat dibanding 2021. Namun, capaian pengurangan emisinya masih jauh lebih besar dibanding tanpa intervensi apa pun.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Laksmi Dhewanthi mengungkapkan hasil perhitungan inventarisasi gas rumah kaca (GRK) nasional menunjukkan tingkat emisi GRK di 2022 mencapai 1.220 Mton CO2e (metrik ton setara karbon dioksida).

Ini diperoleh dari masing-masing kategori/sektor, yakni Sektor Energi sebesar 715,95 Mton CO2e, Proses Industri dan Penggunaan Produk 59,15 Mton CO2e, Sektor Pertanian sebesar 89,20 Mton CO2e, Kehutanan dan Kebakaran Gambut 221,57 Mton CO2e, dan Limbah 133,66 Mton CO2e.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2021), total tingkat emisi naik sebesar 6,9 persen. Namun, tingkat emisi tahun 2022 apabila dibandingkan dengan BAU (Bussiness as Usual) pada tahun yang sama menunjukkan pengurangan sebesar 42 persen,” terang Laksmi, di sela konferensi iklim COP28 Dubai, UEA, Rabu (6/12).

Istilah Business As Usual (BAU) biasanya mengacu pada angka perkiraan tingkat emisi dan proyeksi GRK dengan skenario tanpa intervensi Kebijakan Pemerintah dan upaya mitigasi penurunan emisi.

Dalam penyampaian Pernyataan Nasional (National Statement) pada World Climate Action Summit (WCAS) 2030, yang menjadi rangkaian agenda COP28 UNFCCC, Presiden Joko Widodo juga mengungkap RI terus bekerja keras mencapai net zero emission di 2060 atau lebih awal.

Sekaligus, menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kemiskinan dan ketimpangan terus diturunkan secara signifikan, serta lapangan kerja yang terus tercipta.

Dengan segala keterbatasan, kata Jokowi, Indonesia terus menurunkan emisi karbon, antara lain melalui perbaikan pengelolaan Forest & Other Land Use (FOLU) serta mempercepat transisi energi menuju Energi Baru Terbarukan.

Laksmi melanjutkan keberhasilan juga didapat di sektor FOLU (Forestry and Other Land Use/Kehutanan dan Penggunaan Lahan Lainnya).

Dengan memperhatikan hasil pemantauan perubahan tutupan hutan dari 2020 dan 2021, ia menyebut Angka Deforestasi Netto Indonesia 2021-2022 mengalami penurunan sebesar 8,4 persen.

“Dilihat dari data series setiap periode pengamatan mulai periode tahun 1996-2000, besaran deforestasi dapat mengalami peningkatan atau pengurangan,” ucapnya.

“Hal itu terjadi karena dinamisnya perubahan penutupan lahan akibat aktivitas manusia dalam memanfaatkan lahan sehingga mengakibatkan hilangnya penutupan hutan atau penambahan penutupan hutan karena penanaman,” papar Laksmi.

Data deforestasi mulai periode 1996-2000 hingga periode tahun pemantauan 2020-2021 juga menunjukkan bahwa deforestasi berhasil diturunkan pada titik terendah dalam 20 tahun terakhir yaitu pada angka 0,11 juta Ha.

Laksmi mengungkapkan sektor energi memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik melalui proses transisi energi, khususnya pengembangan Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi.

Berdasarkan data dari Direktorat. Jenderal Energi Baru Terbarukan (EBTKE), Rencana Pengembangan PLT Berbasis EBT pada Green RUPTL PLN 2021-2030 dengan mengacu Green RUPTL, pengembangan EBT akan menghasilkan total investasi sekitar USD 55,18 Miliar, membuka 281.566 lapangan kerja baru dan mengurangi emisi GRK sebesar 89 juta ton CO2e.

[Gambas:Video CNN]

(stu/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com