Kisah Kaisar Tiberius, Penguasa Romawi saat Yesus Disalib

Sosok Kaisar Tiberius tak dapat lepas dari sejarah Yesus Kristus. Pasalnya, ia merupakan kaisar yang berkuasa di Romawi saat Yesus disalib.

Jakarta, CNN Indonesia

Sosok Kaisar Tiberius tak dapat lepas dari sejarah Yesus Kristus. Pada masa pemerintahannya sebagai pemimpin tertinggi Romawi lah Yesus disalib.

Tiberus jadi kaisar Romawi pada paruh pertama adab ke-1 Masehi, meneruskan rezim Augustus Caesar, ayah tirinya.

Ia dikenang sebagai seorang jenderal yang tangguh, dan masa pemerintahan awalnya sangat positif. Namun, Tiberius menjadi semakin tidak populer sebelum akhirnya mengundurkan diri dari Roma dan pindah ke Pulau Capri, tempat peristirahatan terakhirnya sebelum wafat.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiberius lahir 16 November 42 Sebelum Masehi dan awalnya dikenal sebagai Tiberius Claudius Nero. Ayahnya juga bernama Tiberius Claudio Nero dan merupakan politikus Romawi yang terkenal karena jasanya sebagai kapten armada Julius Caesar, sedangkan ibunya adalah Livia.

Singkat cerita, ibu Tiberius, Livia menceraikan suaminya dan menikah dengan Augustus dan hal ini merupakan awal mula jalannya menuju kekaisaran.

Tiberias sebetulnya bukan pilihan pertama untuk menjadi ahli waris. Augustus memiliki sejumlah calon penerus takhta, namun semuanya meninggal sebelum dia, mengutip Ancient Origins.

Salah satu pilihan pertama Augustus adalah teman dekatnya, Marcus Vipsanius Agrippa yang dianugerahi cincin kaisar pada tahun 23 SM.

Hal ini dapat dianggap sebagai sinyal bahwa Agrippa bakal naik takhta jika Augustus meninggal. Namun, ternyata Agrippa meninggal lebih dulu dari Augustus.

Calon penerus lainnya adalah keponakan laki-lakinya, Marcellus serta Gayus dan Lucius yang merupakan putra Agrippa, dan Julia putri tertua Augustus.

Kendati begitu, semua kandidat ini meninggal sebelum Augustus, sehingga pilihan terakhirnya adalah Tiberius.

Tiberius mulanya menolak menjadi kaisar, tapi ibunya mendorong agar dia naik takhta.

Meskipun di kemudian hari Livia tidak disertakan oleh Tiberius dalam urusan publik, ia masih memiliki pengaruh yang kuat dan tercatat bahwa salah satu alasan Tiberius pensiun ke Capri pada tahun 26 M adalah untuk menjauh dari ibunya.

Ketika Livia meninggal pada pada 29 M, Tiberius tetap tinggal di pulau itu dan bahkan tidak menghadiri pemakaman ibunya.

Periode pengasingan Tiberius di Capri ditandai dengan bangkitnya Lucius Aelius Sejanus, seorang Pengawal Praetorian. Sebelum meninggalkan Roma, Tiberius menyerahkan pemerintahan kekaisaran di tangan Sejanus.

Dalam beberapa tahun berikutnya, Sejanus mulai memandang dirinya sebagai kaisar dan melakukan apapun yang diinginkannya. Dia bahkan berselingkuh dengan Livillia, menantu perempuan Tiberius, dan membunuh Drusus, putra Tiberius dan suami Livillia.

Pada tahun 31 M, Tiberius menerima pesan bahwa Sejanus berencana untuk membunuh dia dan Caligula, cucu angkatnya, juga. Kaisar kembali ke Roma dan Sejanus dieksekusi setelah dinyatakan bersalah oleh Senat.

Tahun-tahun terakhir pemerintahan Tiberius ditandai dengan peningkatan jumlah pengadilan pengkhianatan, seiring dengan semakin paranoidnya kaisar. Tiberius kemudian wafat pada tahun 37 M dalam usia 77 tahun.

Sejumlah rumor mengenai penyebab kematian Tiberius berkembang, di antaranya menyebut kalau Tiberius mati diracun hingga karena kehabisan napas setelah dibekap bantal.

Hubungan Tiberius dengan Yesus Kristus di halaman berikutnya…




Sumber: www.cnnindonesia.com