Kesombongan Elon Musk Diprediksi Berbuah Tren Penurunan Twitter

Media sosial X milik Elon Musk tengah mengembangkan fitur baru berupa streaming game dan live shopping. Simak penjelasannya.


Jakarta, CNN Indonesia

Media sosial X, yang dulunya bernama Twitter, terdeteksi mengalami penurunan 14 persen year on year (YoY) dalam hal keterlibatan dengan pengguna dan pengiklan usai kisruh soal antisemit.

Pemilik Twitter Elon Musk, sempat ditafsirkan mendukung teori konspirasi anti-semit imbas kicauannya. Hal ini menyebabkan pengiklan besar seperti Disney menarik iklan mereka.

Pada awal Desember, banyak nama media besar, termasuk Disney, Paramount, Comcast, Lionsgate, NBCUniversal dan perusahaan induk CNN, Warner Bros. Discovery, kabur dari Twitter tanpa alasan usai kasus antisemit itu.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, IBM dan Apple menangguhkan iklannya. Ada pula Fox Sports, Ubisoft, Axios, TechCrunch, dan 11:11 Media Paris Hilton.

Alih-alih berusaha meredakan kekhawatiran para pengiklan besar, di acara The New York Times DealBook Summit di New York pada Rabu (29/11), Musk mengatakan kepada para pengiklan itu, “go f*** your self. Go. F***. Yourself.”

Terlepas dari kepedean tiada batas orang terkaya dunia versi Forbes itu, adakah imbasnya buat X?

Similiarweb, platform pemantau traffic global, mengakui belum melihat dampaknya secara signifikan meski menunjukkan tren penurunan.

Prakiraan awal traffic ke twitter.com pada November, tempat X terus melakukan bisnis di web, menunjukkan kunjungan akan turun 13,8 persen YoY menjadi 5,9 miliar kunjungan, dibandingkan dengan 6,8 miliar kunjungan pada November 2022.

“Kami belum melihat dampaknya terhadap traffic ke portal iklan yang dikunjungi oleh lebih banyak pengiklan,” tulis David F. Carr, Senior Insights Manager Similiarweb dalam keterangan resminya.

Similiarweb menyebut angka rata-rata penurunan sekitar minus 14 persen itu tidak bersifat universal, namun merupakan angka yang berulang.

Tren portal iklan saat ini tampak seperti pengecualian. Namun, hal ini kemungkinan merupakan faktor perbandingan dari tahun ke tahun dengan bulan-bulan awal masa jabatan Musk.

Yakni, ketika terdapat ketidakpastian besar mengenai masa depan platform dan manfaat beriklan di platform tersebut.

“Namun, minat pengiklan pasar massal yang meningkat sementara jumlah pemirsa menurun tampaknya merupakan tren yang tidak berkelanjutan,” kata Carr.

“Dan bahkan jika pengiklan kecil terus terlibat dengan platform ini, pengiklan besar dengan anggaran besar yang mendengar bahwa Musk senang melihat mereka pergi mungkin tidak akan melakukannya (terlibat di Twitter),” tandas dia.

[Gambas:Video CNN]

(rfi/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com