Kenapa Supermoon Pengaruhi Gelombang Tinggi Lautan?

Pakar menjelaskan alasan supermoon bisa memicu gelombang tinggi di sejumah perairan. Pada intinya terkait gravitasi Bulan.

Jakarta, CNN Indonesia

Gelombang tinggi berpotensi terjadi di sejumlah perairan bersamaan momen supermoon atau bulan purnama super. Simak penjelasan pakar soal kaitan keduanya.

Sebelumnya, Kepala Pusat Meteorologi Maritim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Eko Prasetyo mengungkap potensi gelombang setinggi hingga 4 meter di beberapa wilayah perairan Indonesia Rabu (2/8) sampai Kamis (3/8).

Di antaranya, gelombang setinggi 1,25–2,5 meter di Selat Malaka bagian utara, perairan barat Aceh-Kepulauan Nias, perairan Bengkulu, Teluk Lampung bagian selatan, perairan selatan Pulau Sumba, Laut Jawa, hingga Laut Flores.

Ada pula potensi gelombang 2,5–4 meter di Kepulauan Mentawai, perairan barat Lampung, Samudra Hindia barat Sumatra, Selat Sunda bagian barat dan selatan, perairan selatan Pulau Jawa–Pulau Sumbawa, Selat Bali, hingga Lombok.

Di saat yang sama, supermoon mencapai puncaknya terjadi Rabu (2/8) dini hari WIB.

Supermoon terjadi saat Bulan mengorbit sedikit lebih dekat ke Bumi daripada jarak rata-ratanya. Sehingga, fase bulan purnama itu tampak sedikit lebih besar dan lebih terang dari biasanya.

Hal itu terjadi karena bulan memiliki orbit elips Bumi. Jarak terdekat (perigee) hingga terjauh (apogee) Bumi–Bulan dapat berkisar 363.400 hingga 405.500 kilometer.

Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), jarak Bumi–Bulan saat puncak sturgeon supermoon dini hari tadi adalah 357.528 km.

Tarik-menarik

Lembaga penerbangan dan antariksa AS (NASA) menjelaskan Bulan dan Bumi saling tarik-menarik satu sama lain. Di Bumi, tarikan gravitasi Bulan menyebabkan lautan menonjol di kedua sisi yang paling dekat dengan Bulan dan sisi terjauh dari Bulan.

“Tonjolan [di lautan] ini menciptakan air pasang. Titik rendah adalah tempat surut terjadi,” kata lembaga.

NASA menyebut pasang naik dan pasang surut terjadi saat daratan Bumi berputar melalui tonjolan pasang surut yang diciptakan oleh tarikan gravitasi Bulan.

Dua kali dalam sebulan, ketika Bumi, Matahari, dan Bulan sejajar, NASA mengatakan kekuatan gravitasi Bulan bergabung untuk menghasilkan pasang yang sangat tinggi, yang disebut pasang musim semi, serta pasang surut yang sangat rendah di mana air telah dipindahkan.

Saat Matahari berada pada sudut yang tepat ke Bulan, terjadi pasang sedang, yang disebut pasang perbani.

Tonjolan pasang surut Bumi sebenarnya tidak sejajar persis dengan posisi Bulan. Karena Bulan mengorbit ke arah yang sama dengan Bumi berputar, dibutuhkan waktu ekstra untuk titik mana pun di planet kita untuk berputar dan mencapai tepat di bawah Bulan.

“Ini berarti tonjolan air pasang tidak pernah sejajar langsung dengan Bulan, tetapi sedikit di depannya,” kata NASA.

Lembaga kelautan dan atmosfer AS (NOAA) mengungkapkan pasang surut gelombang di atas rata-rata terjadi sebulan sekali. Hal itu terjadi saat Bulan berada pada titik paling dekat dengan Bumi (perigee).

Sekitar dua minggu kemudian, kata NOAA, saat bulan berada paling jauh dari Bumi (di apogee), gaya pasang surut bulan lebih kecil hingga kurang dari rata-rata.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)





Sumber: www.cnnindonesia.com