Kenapa Mata Bergerak-gerak saat Tidur?

Mata yang bergerak-gerak saat tidur kerap dikaitkan dengan kondisi tengah bermimpi. Namun apa yang sebetulnya jadi penyebabnya?

Jakarta, CNN Indonesia

Kelopak mata manusia kerap tampak bergoyang-goyang pada saat tidur. Ketika dibuka dalam kondisi terlelap, bola mata tetap ‘sibuk’. Apa alasannya?

Sebelum mengungkapkan kenapa bola mata bergerak-gerak saat tidur, ada baiknya untuk mengetahui dua jenis tidur.

Dikutip dari ScienceAlert, tidur bisa dibagi dalam dua tahap besar; non-rapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM).

Fase NREM menghabiskan waktu 75 hingga 80 persen waktu tidur yang ditandai dengan pola elektrikal di otak yang tinggi pada gelombang delta. Ini adalah waktu tidur paling dalam.

Sementara, tidur REM adalah masa ketika saat tidur mengalami mimpi yang seolah sangat nyata. Meskipun sebenarnya orang bisa bermimpi pada kedua fase itu.

Menurut sebuah studi bertajuk ‘Sleep function: an evolutionary perspective’ yang dipimpin oleh Jerome Siegel, makhluk yang tidur dengan fass REM menggerakan mata dengan cepat untuk menghangatkan diri dari dalam tubuh.

Di alam, makhluk berdarah panas dengan suhu tubuh lebih rendah seperti manusia cenderung memiliki periode tidur REM yang lebih lama. Sementara mereka dengan suhu tubuh yang lebih tinggi, seperti burung, mengalami lebih sedikit tidur REM secara keseluruhan.

Siegel, yang merupakan ahli saraf dan ilmuwan tidur terkemuka dari University of California Los Angeles, berpendapat tidur REM menghasilkan reaksi “seperti menggigil untuk otak” ketika suhu otak dan tubuh turun terlalu rendah selama tidur.

Dengan demikian mata bergerak saat tidur tak ubahnya sebagai upaya tubuh untuk tetap menjaga suhu otak dan tubuh.

“Tidur REM mungkin dianggap sebagai mekanisme pemanasan otak yang dikendalikan secara termostatik, yang dipicu oleh penurunan suhu terkait dengan penurunan metabolisme dan penurunan konsumsi energi saat tidur,” tulis Siegel.

“Kemudian, tidur berakhir setelah jumlah REM yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu otak mendekati suhu tubuh saat terjaga,” sambungnya.

Di samping itu ia menduga beberapa hewan menunjukkan fluktuasi durasi tidur dari musim ke musim. Contoh paling ekstrem adalah hibernasi, tetapi bahkan hewan non-hibernasi seperti rusa kutub kutub tidur 43 persen lebih banyak di musim dingin daripada di musim panas.

Manusia sendiri tidur sekitar satu jam lebih lama di bulan-bulan musim dingin untuk menghangatkan organ tubuh.

Tak cuma manusia

Dikutip dari ScienceDaily, burung memiliki suhu tubuh tertinggi dari semua kelompok hewan berdarah panas (homeoterm) pada 41 derajat untuk mendapatkan tidur REM paling sedikit 0,7 jam per hari.

Kebiasaan itu pun diikuti oleh manusia dan mamalia plasenta lain, yaitu 37 derajat dengan 2 jam tidur REM, marsupial 35 derajat, 4,4 jam tidur REM, dan monotremata 31 derajat, 7,5 jam tidur REM.

Suhu otak turun dalam tidur non-REM dan kemudian naik dalam tidur REM yang biasanya mengikuti.

Pola ini memungkinkan mamalia homeotherm untuk menghemat energi dalam tidur non-REM tanpa otak, menjadi sangat dingin sehingga tidak responsif terhadap ancaman.

(can/arh)



[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com