Kegusaran Para Seniman saat AI Tiru Gaya Lukis dan Juara Festival

Sejumlah seniman gusar karena AI yang mampu menghasilkan karya mumpuni dalam waktu singkat memanfaatkan database.

Jakarta, CNN Indonesia

Erin Hanson menghabiskan waktu bertahun-tahun mengembangkan gaya lukisan minyaknya yang jelas, dengan palet warna yang berenergi serta kuas tebalnya. Namun gayanya itu ternyata bisa ditiru dalam waktu singkat oleh kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).

Melansir CNN Business, Erin harus melihat gaya lukisannya ditiru oleh Stable Diffusion, sebuah perangkat gambar populer yang tersedia bebas. Perangkat itu bisa meniru lukisan dengan cara memproses serangkaian perintah.

“Lukisan dengan bunga ungu dan matahari tenggelam, jelas terlihat seperti salah satu lukisan saya,” ujarnya kepada reporter CNN Business Rachel Metz yang memasukan perintah itu ke dalam Stable Diffusion.

Metz lalu mencoba memasukkan beberapa perintah lagi yang lebih detail dengan panduan Hanson. Hasilnya, Stabel Diffusion mampu memproduksi tiga lukisan hanya dalam waktu beberapa detik.

Melihat hasil karya itu, Erin terkesima. “Oh wow. Saya akan menaruhnya di dinding,” katanya melihat salah satu lukisan karya AI, mirip dengan karyanya berjudul Crystalline Maples.

Stable Diffusion merupakan AI yang diproduksi pada Agustus di London oleh perusahaan bernama Stability AI. Eri sendiri merupakan salah satu dari beberapa seniman yang kurang senang, karyanya digunakan tanpa izin.

AI seperti Stable Diffusion pada awalnya tersedia hanya untuk beberapa kelompok pegiat teknologi. Namun belakangan, AI yang memproses teks menjadi gambar atau lukisan menjadi populer. Selain Stable Diffusion, ada pula DALL-E yang punya AI dengan sistem yang sama.

AI seperti ini bisa memproduksi gambar atau lukisan hanya melalui beberapa perintah seperti “dengan gaya dari” atau “oleh” bersama dengan beberapa nama pelukis atau seniman. Hasil karya AI ini pun tak main-main.

Sebuah karya lukisan berjudul Midjourney baru-baru ini memenangkan penghargaan di Colorado State Fair. Hal tersebut pun menimbulkan protes dari beberapa seniman.

“Saya tak ingin berpartisipasi dalam sebuah mesin yang akan mendiskreditkan apa yang saya lakukan,” kata Daniel Danger yang bekerja sebagai ilustrator.

Danger beserta seniman lainnya pantas khawatir. Pasalnya, hasil karya dari AI seperti Stable Diffusion dan DALL.E bisa berharga jauh lebih murah daripada karya seniman asli.

“Mengapa kita harus membayar seniman seharga seribu dollar, ketika kita bisa memiliki seribu lukisan secara gratis. Orang-orang itu murah,” kata Danger, yang hasil karyanya termasuk poster untuk band Phis and Primus.

Kekhawatiran serupa juga disuarakan Tara McPherson, seniman asal Pittsburgh yang karyanya ada di mainan, pakaian, serta film Juno yang telah memenangkan Oscar. Tara mengaku kecewa karyanya masuk menjadi basis data dari Stable Diffuson, tanpa sepengetahuannya.

“Betapa mudahnya ini? Seberapa elegannya karya ini nanti? Sekarang mungkin masih payah, tetapi ini baru permulaan,” kata dia.

Akan tetapi, Zahr Said, profesor hukum dari University of Washington punya pendapat lain. Menurutnya, lukisan yang dihasilkan oleh AI tidak berarti melanggar hak cipta para seniman.

Ia menilai, akan sangat mahal jika harus membayar lisensi untuk setiap foto di basis data sebelum ia digunakan. “Anda bisa bersimpati kepada para komunitas seniman dan ingin mendukungnya dan mengatakan, tidak ada cara lain,” kata Said.

“Jika kita melakukannya, secara esensial pemelajaran mesin itu akan mustahil,” ujarnya menambahkan.

Kontrol Lebih untuk Para Seniman

Sementara itu, dua seniman yang berbasis di Jerman Mathew Dryhurst dan Holly Herndon mencoba mencari jalan tengah. Keduanya bersama kolaborator lain telah meluncurkan Spawning.

Itu adalah perangkat bagi para seniman yang diharapkan bisa membuat mereka mengerti lebih baik dan mengontrol bagaimana karya seni online mereka digunakan dalam basis data. Pada September lalu, Spawning merilis sebuah mesin pencarian yang bisa masuk ke dalam basis data LAION-5B (basis data milik perusahaan non-profit Jerman, LAION) serta haveibeentrained.com.

Harapannya, Spawning bisa menawarkan orang-orang untuk memutuskan apakah ingin berkolaborasi atau tidak dalam basis data yang digunakan untuk latihan. Dryhurst sendiri mengaku telah bertemu dengan beberapa organisasi yang memiliki model AI yang besar.

Ia ingin membuat para perusahaan itu setuju, jika Spawning melihat ada hasil karya seniman yang tak setuju, karyanya digunakan dalam basis data, mereka akan menghargai keputusan tersebut.

Menanggapi hal ini, CEO Stability AI, Emad Mostaque mengaku setuju. Ia menilai, seniman harus memiliki opsi apakah ingin ikut atau tidak. “Saya secara pribadi mengerti sisi emosional seputar hal ini ketika sistemnya menjadi cukup pintar untuk mengerti gaya (lukisan,red)” kata dia.

Hal yang sama juga diutarakan pihak LAION. “Kami menanggapi perasaan dan kekhawatiran para seniman secara serius,” kata CEO LAION, Cristoph Schuhmann.

[Gambas:Video CNN]

(can/lth)


[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com