Kapan Lagi Jakarta Dilanda Hujan Lebat? Cek Prediksi BMKG

Jakarta jadi satu-satunya wilayah yang diperkirakan terus diguyur hujan angin sejak hari ini hingga 21 Juni. Para pakar mengungkap sebabnya.


Jakarta, CNN Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap cuaca ekstrem akan melanda Jakarta dan mayoritas wilayah RI sepekan ke depan. Berikut pemicunya.

“Masyarakat dihimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll) dan dampak yang dapat ditimbulkannya,” demikian tulis Peringatan Dini BMKG pada Prospek Cuaca Seminggu ke Depan Periode 26 Januari–1 Februari.

“Seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin dalam satu minggu ke depan,” lanjut keterangan itu.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di mana saja wilayah potensial cuaca ekstrem itu? Berikut rinciannya.

26–27 Januari

Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur;

Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat dan Papua.

28–29 Januari

Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur;

Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, KalimantanBarat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

30 Januari–1 Februari

Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, JawaTimur, Bali, NTB, NTT;

Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Apa saja pemicunya?

BMKG mengungkap potensi hujan itu sejauh ini tak dipengaruhi kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO). Yang berpengaruh signifikan terhadap curah hujan sejauh ini antara lain:

Pertama, fenomena atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang aktif pada kuadran 5 (benua maritim/daratan RI). Kondisi cukup signifikan terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia tengah dan timur.

Kedua, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial yang diprakirakan aktif di Aceh, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

Ketiga, gelombang atmosfer Kelvin yang aktif di Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Papua bagian selatan.

“Faktor-faktor tersebut mendukung potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut,” menurut BMKG.

Keempat, Siklon Tropis Anggrek yang saat ini masih terpantau di Samudra Hindia barat daya Bengkulu.

Meski menjauhi wilayah Indonesia, siklon tropis ini membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di sekitar siklon tropis, serta menginduksi peningkatan kecepatan angin di atas 25 knot (low level jet) di sekitar siklon tropis.

Kelima, Siklon Tropis Kirrily yang terpantau di daratan Australia bagian timur. Fenomena ini membentuk daerah pertemuan angin (konfluensi) dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang dari Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara.

Daerah konvergensi lain terpantau memanjang di Kalimantan Barat hingga Tengah, KalimantanSelatan, Sulawesi Selatan hingga Tenggara, Papua Barat, hingga Papua.

“Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar siklon tropis, dan di sepanjang daerah low level jet/konvergensi/konfluensi,” kata BMKG.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com