Kabar Baik, Hujan Jakarta Balik Normal meski Masih Periode Ekstrem

Hujan Jakarta disebut kembali ke kondisi normal walau sebenarnya masih berpotensi ekstrem. Apa pemicunya?


Jakarta, CNN Indonesia

Pakar mengungkap siklus hujan Jakarta kembali ke normal usai berakhirnya fenomena Gelombang Lintas Utara Khatulistiwa atau Cross Equatorial Northerly Surge (CENS).

Hujan di Jabodetabek kembali ke siklus normal, dimulai pada siang hari dan berawal dari selatan (Bogor),” ungkap Erma Yulihastin, pakar klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam unggahannya di Twitter, Kamis (1/2).

Hal ini karena angin utara sudah berubah arah menjadi angin barat/barat laut sehingga hujan dinihari utk sementara sudah berakhir.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Selasa (30/1), Erma mengungkap aktifnya fenomena CENS yang membuat Jakarta, terutama bagian utara, dilanda hujan persisten alias terus menerus.

Lihat bagaimana angin dari utara yg kuat (pink menunjukkan >10m/det) di utara Jakarta berperan utama membuat hujan menjalar dari Lampung ke Jakarta. Itulah yg kita sebut dg CENS,” kicaunya saat itu.

Melansir situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), CENS ialah gelombang angin permukaan utara yang kadang melintasi ekuator atau khatulistiwa di laut pedalaman Indonesia (Laut China Selatan bagian selatan dan Laut Jawa) dan dibedakan dari gelombang dingin biasa.

Fenomena ini memengaruhi konveksi (pembentukan awan hujan) di Laut Jawa dan Pulau Jawa serta “terkadang menyebabkan curah hujan yang tinggi.”

Saat ditemui di kantor BRIN, Jakarta, Rabu (31/1), Erma mengungkap fenomena CENS ini “sedang terjadi sekarang,” dan ini mesti diwaspadai karena bisa memicu hujan lebat hingga banjir, terutama sekitar utara Jakarta.

Bagaimana prosesnya?

Erma menuturkan saat ini ada beberapa fenomena atmosfer dan lautan yang aktif memicu curah hujan tinggi di sekitar Jabodetabek.

Selain CENS, ada pula Angin Monsun Asia atau angin baratan pembawa hujan, cold surge atau seruak dingin (aliran masa udara dingin dari daratan Asia), dan penghangatan suhu di Laut Jawa.

Laut Jawa yang menghangat, kata dia, menyuplai kelembapan sangat tinggi. Efeknya adalah hujan tidak habis-habis. Normalnya, hujan itu turun di laut pada pada tengah malam hingga dini hari.

Erma kemudian menyinggung tiga faktor atmosfer di atas yang memicu hembusan angin yang sangat kuat yang menggeser hujan di laut itu ke darat. Hasilnya adalah hujan di sekitar Jakarta pada tengah malam hingga dini hari.

“Ada Monsun [Asia], ada CENS equator, ini yang bikin parah karena hanya ke Teluk Jakarta, yang terkena paling rentan itu Jakarta. Enggak habis-habis, besoknya terbentuk lagi, disuplai Laut Jawa yang hangat,” urai dia.

“Jadi angin utara sangat kuat, itu yang memperparah. Hujan masih di laut digeser angin dari utara itu,” jelasnya.

Pergeseran awan hujan dari lautan ke daratan Jabodetabek itu melewati proses penjalaran atau propagasi. “Meluruh, terbentuk baru, jadi kayak bangun jembatan hujan dari laut ke darat. Lurus banget karena arah angin tegak lurus [dari utara],” urainya.

Hasilnya, curah hujan tinggi di sekitar utara Jakarta. Hal ini terungkap dalam Peta Sebaran Hujan Jabodetabek periode 29–30 Januari, dan 30–31 Januari yang didominasi wilayah ibu kota.

Berikut lima besar daerah dengan hujan intensitas sedang (20-50 mm/hari) hingga lebat (50-100 mm/hari):

29-30 Januari

– Stasiun Cempaka Baru (59 mm per hari)
– Stasiun Sunter Timur I Kodamar (58 mm per hari)
– Stasiun Meteorologi Soekarno Hatta (43,9 mm per hari)
– Stasiun Pulomas (38 mm per hari)
– Stasiun Automatic Rain Gauge (ARG) Kelapa Gading (37,8 mm per hari)

30-31 Januari

+ Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok (144 mm per hari)
+ Stasiun Meteorologi Kemayoran (110,5 mm per hari)
+ Automatic Rain Gauge (ARG) Kelapa Gading (97,4 mm per hari)
+ Pulomas (96 mm per hari)
+ Cempaka Baru (85 mm per hari)

Tetap ekstrem

Menurut Peta Sebaran Hujan Jabodetabek BMKG periode 31 Januari pukul 07.00 WIB–1 Februari pukul 07.00 WIB, wilayah Jakarta tak lagi mendominasi curah hujan tertinggi lantaran Bogor kembali ke jajaran puncak.

+ Parung 60,6 mm
+ Stasiun Meteorologi Citeko 55
+ Katulampa 41
+ AWS Cibeureum Bogor 39,2

Wilayah Jakarta menyumbang peringkat 5, 6, dan 7 di sepuluh besar curah hujan Jabodetabek, itu pun intensitasnya tak sampai sedang. Yakni, Kantor Wali Kota Jaktim 14 mm per hari, Kembangan Utara 13 mm per hari, dan Sunter Hulu 10 mm per hari.

Walau kembali ke siklus normal, Erma tetap mewanti-wanti potensi cuaca ekstrem Jabodetabek.

Maksud siklus normal itu secara timing hujan di darat yg bermula dari siang/sore. Namun secara intensitas tentu saja masih berpotensi ekstrem selama Februari,” urainya, saat menjawab pertanyaan netizen di X.

Sampai kapan? “Data kami, sampai 10 Februari enggak lepas dari hujan-hujan ini, persisten,” ungkap Erma.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com