James Webb Pecahkan Rekor Temuan Lubang Hitam Tertua dan Terjauh


Jakarta, CNN Indonesia

Teleskop antariksa James Webb (JWST) berhasil menemukan black hole atau lubang hitam tertua dan terjauh dengan massa 1,6 juta Matahari yang berjarak 13 miliar tahun cahaya dari Bumi.

JWST, yang kameranya memungkinkan untuk melihat kembali ke masa lalu hingga awal pembentukan alam semesta, menemukan lubang hitam supermasif di pusat galaksi GN-z11 yang hanya berjarak 440 juta tahun dari titik awal alam semesta.

Lubang hitam ini tidak sendirian. Dia merupakan salah satu dari sekian banyak lubang hitam yang melahap dirinya sendiri hingga mencapai skala yang menakutkan pada periode fajar kosmik.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yakni, sekitar 100 juta tahun setelah Big Bang ketika alam semesta yang masih muda itu mulai bercahaya selama satu miliar tahun.

Bagaimana pusaran kosmik membesar dengan cepat setelah alam semesta tercipta masih belum jelas. Namun, pencarian jawabannya bisa membantu menjelaskan bagaimana lubang hitam supermasif yang ada sekarang ini tumbuh hingga mencapai ukuran yang sangat besar.

Para peneliti mempublikasikan temuan mereka pada 17 Januari di jurnal Nature.

“[Lubang hitam di alam semesta awal] tidak dapat tumbuh dengan tenang dan lembut seperti yang dilakukan oleh banyak lubang hitam di alam semesta lokal (saat ini),” kata penulis utama Roberto Maiolino, seorang profesor astrofisika di University of Cambridge, dikutip dari LiveScience.

“Mereka (lubang hitam) harus mengalami kelahiran atau pembentukan yang aneh, dan pertumbuhan yang aneh,” tambahnya.

Lebih dekat dengan masa kini, para astronom percaya bahwa lubang hitam lahir dari keruntuhan bintang-bintang raksasa. Namun, bagaimanapun proses terbentuknya, lubang hitam tumbuh dengan melahap gas, debu, bintang, dan lubang hitam lainnya tanpa henti.

Ketika mereka berkumpul, gesekan menyebabkan materi yang berputar di dalam perut lubang hitam memanas, dan mereka memancarkan cahaya yang bisa dideteksi oleh teleskop, lalu mengubahnya menjadi apa yang disebut sebagai inti galaksi aktif (AGN).

AGN yang paling ekstrem adalah quasar, lubang hitam supermasif yang massanya miliaran kali lebih berat daripada Matahari dan melepaskan kepompong gasnya dengan ledakan cahaya yang triliunan kali lebih terang daripada bintang-bintang yang paling terang.

Lantaran cahaya bergerak dengan kecepatan tetap melalui ruang hampa udara, semakin dalam para ilmuwan melihat alam semesta, semakin jauh cahaya yang mereka temui dan semakin jauh ke masa lalu yang mereka lihat.

Untuk menemukan lubang hitam dalam studi baru ini, para astronom memindai langit dengan dua kamera inframerah, yaitu Instrumen Inframerah Menengah (MIRI) dan Kamera Inframerah Dekat milik JWST.

Selain itu, tim menggunakan spektograf yang ada di dalam kamera untuk menguraikan cahaya ke dalam frekuensi-frekuensi komponennya.

Dengan mendekonstruksi kilatan-kilatan samar dari tahun-tahun awal alam semesta, para astronom menemukan lonjakan tak terduga di antara frekuensi-frekuensi yang terkandung di dalam cahaya.

Ini adalah sebuah pertanda penting bahwa materi panas di sekeliling lubang hitam memancarkan jejak-jejak cahaya yang samar-samar di alam semesta.

Penjelasan yang paling populer tentang bagaimana lubang hitam tumbuh dengan sangat cepat adalah bahwa lubang hitam terbentuk dari keruntuhan awan gas raksasa secara tiba-tiba. Atau, lubang hitam terbentuk dari penggabungan beberapa gugus bintang dan lubang hitam.

[Gambas:Video CNN]

(lom/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com