‘Jam Kiamat’ Disetel 90 Detik Termasuk Imbas Genosida Israel di Gaza

Para ilmuwan menyetel


Jakarta, CNN Indonesia

Para saintis menyetel ‘Jam Kiamat’ (Doomsday Clock) makin dekat ke tengah malam, yakni di angka 90 detik, yang menandakan ancaman terhadap kehancuran dunia makin besar.

Jam Kiamat ini sendiri merupakan alat simbolis untuk mengukur seberapa dekat Bumi pada kehancuran imbas berbagai faktor, termasuk perubahan iklim dan perang nuklir.

Ukuran mendekati kehancuran adalah jam tengah malam (00.00). Makin mendekati tengah malam, ancaman terhadap kehancuran makin tinggi. 


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lembaga Bulletin of the Atomic Scientists menetapkan 90 detik jelang tengah malam ini terutama terkait ancaman penggunaan senjata nuklir oleh Rusia di tengah invasi ke Ukraina, serbuan Israel yang bersenjatakan nuklir ke Gaza, dan memburuknya perubahan iklim yang mendorong risiko bencana global.

Para ilmuwan menentukan waktu 90 detik itu berdasarkan risiko “eksistensial” terhadap Bumi dan manusia: ancaman nuklir, perubahan iklim, dan teknologi disruptif seperti kecerdasan buatan dan bioteknologi baru.

“Titik konflik di seluruh dunia membawa ancaman eskalasi nuklir, perubahan iklim telah menyebabkan kematian dan kehancuran, dan teknologi disruptif seperti AI dan penelitian biologi berkembang lebih cepat dibandingkan upaya perlindungan mereka,” kata Rachel Bronson, presiden dan CEO Buletin tersebut, melansir Reuters.

Ia menambahkan ketiadaan perubahan dari tahun sebelumnya, “bukanlah indikasi bahwa dunia sudah stabil.”

Organisasi nirlaba yang berbasis di Chicago itu menciptakan Jam Kiamat tersebut pada 1947 untuk memperingatkan masyarakat tentang betapa dekatnya umat manusia dengan kehancuran dunia.

Berikut beberapa faktor ancaman kehancuran menurun para ilmuwan:

Pertama, invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, yang akan mencapai ulang tahun keduanya bulan depan. Hal ini meningkatkan ketegangan dengan negara-negara Barat ke tingkat yang paling berbahaya sejak Perang Dingin.

“Perang Rusia di Ukraina akan berakhir dalam waktu lama tampaknya masih jauh, dan penggunaan senjata nuklir oleh Rusia dalam konflik tersebut masih merupakan kemungkinan yang serius. Tahun lalu Rusia mengirimkan banyak sinyal nuklir yang mengkhawatirkan,” kata Bronson.

Ia mengutip keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Februari 2023 untuk menangguhkan partisipasi Rusia dalam perjanjian New START dengan Amerika Serikat yang membatasi persenjataan nuklir strategis kedua negara.

AS dan Rusia memiliki hampir 90 persen hulu ledak nuklir dunia, cukup untuk menghancurkan planet ini berkali-kali lipat.

Bronson juga mengutip pengumuman Putin pada Maret 2023 tentang penempatan senjata nuklir taktis Rusia di Belarus dan pengesahan undang-undang oleh parlemen Rusia pada Oktober 2023 yang menarik ratifikasi perjanjian global yang melarang uji coba senjata nuklir.

Analis Rusia Sergei Karaganov tahun lalu juga berbicara tentang perlunya ancaman serangan nuklir di Eropa untuk mengintimidasi dan “menyadarkan” musuh-musuh Moskow.

Kedua, genosida Israel di Gaza. Israel menyerbu wilayah ini sejak Hamas melancarkan serangan di Israel selatan pada Oktober 2023 yang, menurut klaim Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang.

Sementara, serangan militer Israel menewaskan lebih dari 25 ribu orang, menurut otoritas kesehatan Gaza.

“Sebagai negara nuklir, tindakan Israel jelas relevan dengan diskusi Jam Kiamat.”

“Kekhawatiran khusus adalah bahwa konflik mungkin akan meningkat lebih luas di wilayah tersebut sehingga menciptakan perang konvensional yang lebih besar dan menarik lebih banyak kekuatan nuklir atau kekuatan yang mendekati nuklir,” tutur Bronson.

Ketiga, perubahan iklim. Pada 2023, Bumi memasuki era baru imbas pecahnya rekor tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan iklim. Pada saat yang sama, emisi gas rumah kaca global terus meningkat.

Bronson mengatakan 2023 juga merupakan tahun yang memecahkan rekor untuk energi ramah lingkungan, dengan investasi baru sebesar US$1,7 triliun. Masalahnya, hal ini diimbangi oleh investasi bahan bakar fosil, yang adalah penghasil emisi, hampir US$1 triliun.

“Hal ini menggambarkan bahwa meskipun menjanjikan, upaya yang dilakukan saat ini untuk mengurangi emisi gas rumah kaca masih belum cukup untuk menghindari dampak berbahaya terhadap manusia dan ekonomi akibat perubahan iklim, yang secara tidak proporsional berdampak pada masyarakat termiskin di dunia,” cetus Bronson.

Bulletin didirikan pada 1945 oleh para ilmuwan, termasuk Albert Einstein dan J. Robert Oppenheimer.

Setiap tahunnya, lembaga ini menentukan waktu dengan mengandalkan dewan pakar teknologi nuklir dan ilmu iklim. Jam ini pertama kali diperkenalkan pada masa ketegangan Perang Dingin setelah Perang Dunia II.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com