Ironi Sultan Al Jaber, Pemimpin KTT Iklim yang ‘Nyandu’ Bisnis Minyak

Presiden COP28 Sultan Al Jaber mendapat kecaman setelah menyatakan


Jakarta, CNN Indonesia

Memimpin forum iklim global dengan komitmen untuk meninggalkan bahan bakar fosil, Presiden COP28 Sultan Al Jaber mengaku masih terus melanjutkan investasi perusahaan minyaknya.

Ia, yang juga menjabat sebagai Kepala Eksekutif Perusahaan Minyak dan Gas Nasional Uni Emirat Arab, Adnoc, melansir The Guardian, menyatakan perusahaan perlu memenuhi permintaan bahan bakar fosil.

“Pendekatan saya sangat sederhana, kami akan terus bertindak sebagai pemasok energi rendah karbon yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan, dan dunia akan membutuhkan barel [minyak dengan] karbon terendah dan biaya terendah,” dalihnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Al Jaber juga beralasan hidrokarbon dari Adnoc punya karbon lebih rendah karena diekstraksi secara efisien dan kebocorannya lebih sedikit dibandingkan sumber lain.

“Pada akhirnya, ingat bahwa permintaan lah yang akan menentukan dan menentukan jenis sumber energi apa yang akan membantu memenuhi kebutuhan energi global yang terus meningkat,” tambahnya.

Al Jaber menekankan keputusan terkait sumber energi yang akan membantu memenuhi kebutuhan energi global akan ditentukan oleh permintaan.

Dia merujuk pada temuan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang menyatakan bahwa dunia masih butuh sejumlah kecil bahan bakar fosil pada 2050.

Bahkan, katanya, ketika mencapai emisi gas rumah kaca mencapai nol, yang diperlukan untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

“Dunia terus membutuhkan minyak dan gas rendah karbon serta minyak dan gas berbiaya rendah,” dalihnya.

“Ketika permintaan berhenti, itu cerita yang berbeda. Apa yang perlu kita lakukan saat ini adalah melakukan dekarbonisasi pada sistem energi yang ada saat ini, sembari membangun sistem energi baru.”

Adnoc sendiri punya rencana investasi senilai US$150 miliar (sekitar Rp2.326,9 triliun) selama tujuh tahun di bidang minyak dan gas.




Bumi jadi makin panas buntut penggunaan BBM hingga batu bara. (CNNIndonesia/Basith Subastian)

Al Jaber mengklaim angka tersebut untuk mempertahankan tingkat produksi saat ini, bukan meningkatkan produksi. Dia juga mengaku Adnoc sudah membuang sebagian besar potensi ekstraksinya.

“Kami mempunyai cadangan minyak terbesar kelima di dunia namun kami tidak memanfaatkan sumber daya ini,” klaimnya dalam wawancara seusai COP28 Dubai.

Pada KTT yang berakhir (13/12) pagi itu, Al Jaber dipuji secara luas oleh para delegasi usai tercapainya perjanjian global yang menyerukan negara-negara untuk “berkontribusi pada transisi dari bahan bakar fosil dalam sistem energi, dengan cara yang adil, teratur dan merata.”

“Serta mempercepat tindakan dalam bidang energi pada dekade kritis ini, untuk mencapai nol bersih pada tahun 2050 sesuai dengan ilmu pengetahuan,” lanjut komitmen tersebut.

Al Jaber pun memuji kesepakatan di COP28 yang “belum pernah terjadi sebelumnya” dan “bersejarah”.

“Itu momen saat saya tiba-tiba sadar bahwa saya menyaksikan konsensus jadi nyata. Ini benar-benar saat saya sadar bahwa, oke, sesuatu terjadi di sini,” katanya.

“Saya menyadari bahwa saya mulai terhubung dengan hati dan pikiran mereka. Mereka membantu membentuk rencana dengan lebih baik. Dan saya menyadari bahwa, OK, kita akan membuat sejarah.”

Resolusi global ini menjadi peristiwa pertama dalam 30 tahun pembicaraan iklim. Meski begitu, kesepakatan tersebut tidak cukup buat mendekati pencegahan dampak paling buruk dari krisis iklim.

Selain itu, negara-negara berkembang mengkritiknya karena tidak memberikan jaminan keuangan yang diperlukan.

Ragam kritik

Sejak awal, memang banyak kekhawatiran peran ganda Sultan Al Jaber sebagai Presiden COP28 sekaligus Kepala Adnoc.

“Saya berkomitmen untuk bertransisi ke dunia rendah karbon. Ini adalah sesuatu yang telah saya tekuni secara pribadi selama lebih dari 18 tahun sekarang. Saya memahami dinamika energi dan ekonomi energi. Saya seorang insinyur,” ucap Al Jaber, yang pernah terlibat dalam pendirian perusahaan energi terbarukan Masdar.

Baginya, pengalaman sebagai pengusaha dan kepala perusahaan minyak membantu dalam mencapai kesepakatan yang mengejutkan ini.

“Melalui kepemimpinan saya, kami membuktikan kepada dunia bahwa memiliki kepemimpinan industri sebagai Presiden Cop bukanlah kelemahan. Sebaliknya, itu adalah kekuatan, itu adalah keuntungan,” klaim dia.

Di sisi lain, Harjeet Singh, Direktur Fossil Fuel Treaty Initiative, menyatakan investasi Adnoc ini memicu keraguan terhadap komitmen COP28.

“Sebagai negara ketua COP28, UEA harus menjadi contoh. Negara-negara berpendapatan tinggi harus menunjukkan tindakan konkret untuk menghormati semangat Perjanjian [Iklim] Paris.”

“Rencana [investasi Adnoc] ini menimbulkan keraguan terhadap resolusi yang dicapai dengan susah payah di konferensi iklim Dubai,” cetusnya.

David Tong, pemimpin industri di Oil Change International, mengatakan, Presiden COP28 mestinya konsisten dengan langsung menerapkan komitmen KTT di perusahaannya.

“Al Jaber telah menyatakan kebanggaannya terhadap konsensus UEA. Kini, dia perlu menerapkannya di perusahaan yang dia pimpin, dengan beralih dari minyak dan gas, atau memperolok proses ini,” ujar dia.

Catherine Abreu, peneliti senior di lembaga pemikir E3G, mengungkap riwayat panjang dalih busuk perusahaan minyak.

“Setiap produsen bahan bakar fosil berdalih bahan bakar fosil mereka unik dan tidak menyebabkan perubahan iklim. Namun, selama beberapa dekade, mereka berhasil sembunyi di balik perjanjian iklim global yang gagal membentuk koneksi,” tandasnya.

(rfi/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com