India Buktikan AI Bisa Deteksi Bencana, Bagaimana RI?

Wamenkominfo Nezar Patria mengatakan data dan AI dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya bencana.


Jakarta, CNN Indonesia

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria mengatakan bahwa data dan kecerdasan buatan (AI) saat ini bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya bencana serta menyelamatkan nyawa masyarakat.

“Contohnya di India, pemerintah mereka membuat aplikasi untuk mendeteksi banjir dan menggunakan kecerdasan buatan, lalu diolah semua datanya dan bisa buat prediksi satu minggu sebelum banjir datang sehingga penduduk di daerah itu bisa diungsikan terlebih dulu,” kata Nezar, Kamis (7/12), mengutip Antara.

Contoh penggunaan AI untuk deteksi bencana yang Nezar sampaikan sempat dilakukan salah satu negara bagian di India, Bihar. Mereka menggunakan AI dan sistem peringatan dini untuk mengambil langkah-langkah pencegahan banjir pada tahun 2020.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teknologi ini telah membantu berbagai distrik di negara bagian tersebut untuk mengevakuasi orang dan mendirikan kamp pengungsian. Sistem-sistem ini juga diklaim membantu mengurangi dampak korban jiwa.

Menteri Sumber Daya Air Bihar, Sanjay Kumar Jha, saat itu mengatakan pemerintah mengambil langkah-langkah pencegahan untuk meminimalisir kerusakan akibat banjir dengan menggunakan teknologi baru.

Sistem ini mampu memeperingatkan pejabat distrik di Bihar kemungkinan hujan lebat 72 jam sebelumnya, mengutip OpenGov Asia.

Lebih lanjut, Nezar mengatakan dengan data maka prediksi mengenai kemungkinan bencana dapat menyelamatkan banyak nyawa masyarakat.

Menurutnya, salah satu daerah yang bisa menerapkan hal tersebut adalah Jakarta karena rentan banjir di musim hujan. Dengan big data, bisa didapat data geospasial, demografi dan juga solusi integratif yang harus dilakukan hingga bantuan yang harus diberikan.

Sejauh ini, lembaga-lembaga di Indonesia terpantau belum menerapkan teknologi AI untuk peringatan dini bencana.

Metode saintifik konvensional dan pengamatan lewat alat di lapangan masih jadi andalan. Contohnya, stasiun meteorologi untuk pemantauan cuaca, modeling level air laut lewat pemanfaatan alat tide gauge untuk mendeteksi tsunami.

Sementara, program yang sudah ada sejak lama dipangkas. Misalnya, program deteksi tsunami atau Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), yang mengoperasikan buoy, yang berada di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tak dapat anggaran khusus.

Program mitigasi bencana yang sebelumnya berada di bawah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu dihemat dengan alasan efektivitas.

[Gambas:Video CNN]

(Antara/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com